Susu merupakan sumber zat gizi yang terutama protein. Bahkan susu dianggap sebagai pelengkap gizi bagi proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Alasan tingginya kebutuhan dan keinginan terhadap susu adalah nilai gizinya yang lengkap. Produksi susu yang bergizi dan berkualitas tinggi harus ditingkatkan untuk mendongkrak pendapatan semua orang, terutama peternak sapi perah dan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan mendorong konsumsi susu yang sehat. Namun, Indonesia masih memiliki kebutuhan dan permintaan susu yang tinggi yang berbanding terbalik dengan rendahnya pasokan susu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Mastitis merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi dan kualitas susu terkait kesehatan pada sapi perah. Sapi perah yang dimiliki oleh perusahaan maupun peternak kecil sering mengalami mastitis, atau radang ambing, yang mengakibatkan kerugian yang signifikan dalam produksi susu. Di Indonesia, mastitis menyerang sapi perah pada tingkat 85% dan karena sebagian besar kasus ini merupakan infeksi subklinis, pengobatan atau pengendalian yang cepat tidak selalu memungkinkan. Kejadian mastitis ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan, terutama karena penurunan produksi susu, yang dapat mencapai hingga 25% dari total produksi.
Kejadian infeksi kelenjar susu disebabkan oleh sejumlah faktor predisposisi, seperti pemerahan yang tidak bersih, manajemen pemerahan yang tidak tepat, luka pada puting, dan adanya mikroorganisme patogen di lingkungan kandang. Selama pemerahan manual, penularan bakteri patogen penyebab mastitis dapat terjadi di antara sapi atau dari satu puting ambing ke puting lainnya. Hal ini dapat terjadi karena tangan pemerah susu yang tidak higienis, air pencuci ambing, kain yang digunakan untuk mengeringkan ambing sebelum dan sesudah pemerahan, atau alat lain yang digunakan selama pemerahan. Petugas yang tidak higienis menambahkan Staphylococcus aureus, agen penyebab mastitis pada ruminansia. Mastitis adalah penyakit bakteri serius yang merupakan penyebab utama mastitis subklinis atau klinis pada sapi perah, yang menyebabkan kerugian besar bagi sektor peternakan sapi perah. Mastitis yang disebabkan oleh S. aureus bermanifestasi sebagai peradangan subakut atau persisten. Meskipun bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam susu. Kontaminasi S. aureus dapat terjadi karena adanya bakteri penyebab dalam susu segar baik selama pemerahan maupun pengolahan. Puting sapi yang terinfeksi merupakan reservoir utama S. aureus. S. aureus yang menyerang manusia dapat menyebabkan infeksi, terutama Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang diketahui resisten terhadap beberapa obat. sehingga sulit untuk mengobati penyakit ini. Ada beberapa jenis infeksi Stafilokokus, termasuk pneumonia, bakteremia, dan kontaminasi luka pascaoperasi. S. aureus memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menimbulkan berbagai macam penyakit dan keracunan makanan pada manusia dan hewan. Diketahui bahwa S. Aureus menghasilkan berbagai enterotoksin yang tahan panas dalam susu. Telah ada laporan keracunan makanan akibat enterotoksin S. aureus dalam susu dan produk susu. Pengobatan S. aureus dalam kasus mastitis diketahui menjadi tantangan, terutama karena sulitnya memilih jenis antibiotik yang tepat di lapangan dan mudahnya resistensi berkembang. Bakteri stafilokokus menjadi semakin resistan terhadap banyak golongan antibiotik, terutama famili 尾-laktam seperti strain MRSA, resistensinya terhadap berbagai jenis antibiotik berkembang pesat.
Sendang (sebuah kecamatan di kabupaten Tulungagung) merupakan salah satu daerah penghasil susu utama di Jawa Timur. mengungkapkan bahwa praktik perawatan yang buruk dari peternak terhadap sapi perah dengan mastitis subklinis akhirnya berkembang menjadi mastitis klinis. Telah banyak laporan kasus mastitis subklinis di kabupaten Tulungagung, yang konsisten dengan tingginya volume produksi susu dan keberadaan sapi perah. Kasus mastitis sering kali disebabkan oleh infeksi yang disebabkan oleh bakteri MRSA. Pemilihan antibiotik yang tepat dapat menurunkan jumlah kasus mastitis. Insiden infeksi MRSA dapat menjadi masalah kesehatan. Diperlukan uji laboratorium untuk mengetahui tingkat resistensi bakteri dan mengidentifikasi isolat MRSA yang bersumber dari sapi perah di Kabupaten Tulungagung, sehingga data penelitian ini dapat bermanfaat untuk pencegahan dan penanganan kejadian mastitis pada peternakan sapi industri susu.
Hasil penelitian profil resistensi antibiotik yang diperoleh dari hasil uji resistensi S. aureus terhadap antibiotik menunjukkan bahwa 27 isolat S. aureus (33,33%) ditemukan resisten terhadap 1 golongan antibiotik yang diuji dari total 81 isolat S. aureus. Sedangkan 9 isolat (11,11%) resisten terhadap 2 golongan antibiotik dan 4 isolat (4,99%) dipastikan multidrug resistant (MDR) karena resisten terhadap tiga atau lebih golongan antibiotik. Sebanyak 4 dari setiap 81 isolat S. aureus diberi label resisten multiobat karena menunjukkan resistensi terhadap setidaknya 3 golongan antibiotik yang berbeda. Sapi perah di Kabupaten Tulungagung menghasilkan susu yang mengandung empat isolat S. aureus yang bersifat MDR. Hal ini mungkin menjadi penyebab Kabupaten Tulungagung masih memiliki jumlah kasus MDR S. aureus yang rendah, yaitu hanya terdapat 4 isolat dari 110 sampel susu yang dianalisis.
Hasil identifikasi MRSA isolat S. aureus yang diketahui resisten terhadap cefoxitin dan oxacillin menunjukkan bahwa 17 dari 25 isolat positif pada uji ORSAB. Hal ini menunjukkan bahwa dari 110 sampel sapi perah yang dianalisis ditemukan 17 isolat MRSA (68%), yang menunjukkan bahwa angka infeksi MRSA di peternakan sapi perah di Kabupaten Tulungagung cukup tinggi. Gen Penicillin Binding Protein 2a (PBP 2a), yang bertanggung jawab atas resistensi MRSA, dikodekan oleh protein Staphylococcal Cassette Chromosome mec (SCCmec) mecA dan mecC. Perubahan pada PBP yang umum, khususnya PBP 2 menjadi PBP 2a, menyebabkan resistensi MRSA terhadap semua antibiotik kelas 尾-laktam. PBP 2a memiliki afinitas yang sangat rendah terhadap 尾-laktam, yang memungkinkan galur MRSA bertahan hidup dan menghasilkan dinding sel bakteri bahkan ketika dikultur dalam media yang mengandung kadar 尾-laktam yang tinggi. Strain bakteri berbahaya yang disebut MRSA sering terlihat pada manusia, tetapi juga dapat menginfeksi spesies lain, termasuk ternak, satwa liar, hewan peliharaan, dan unggas. MRSA pada hewan penting bukan hanya dari sudut pandang ekonomi dan kesejahteraan, tetapi juga karena strain ini berpotensi menjadi reservoir infeksi zoonosis pada manusia. Diagnosis dini infeksi MRSA sangat penting karena dapat menjadi tantangan untuk diobati karena jenis bakteri ini diketahui resistan terhadap beberapa obat dan mudah menyebar.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Link:
Baca juga: Potensi Uji Tusuk Alergen pada Pasien Alergi Susu Sapi





