Investigasi terhadap ikatan yang ada dalam suatu perusahaan telah menarik banyak perhatian dalam literatur akademis. Misalnya, JJ Wang dkk. (2020) meneliti hubungan antara koneksi internal dan eksternal perusahaan dalam meningkatkan kinerja melalui pemanfaatan keunggulan institusional dan kemampuan sumber daya eksternal (G. Wang et al., 2013). Ikatan seperti ini sangat penting bagi perusahaan untuk memanfaatkan peluang baru dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sehingga menghasilkan akses jangka pendek terhadap sumber daya kelembagaan. Penelitian lain, termasuk Gao et al. (2017), J. Wu (2011), J. A. Zhang dan Cui (2017), dan K. Zhang dan Truong (2019), mengeksplorasi dampak bonding terhadap opini audit negatif dan biaya audit yang lebih tinggi. Peningkatan biaya audit ditemukan berhubungan positif dengan auditor yang memberikan hasil audit yang dimodifikasi, sehingga menimbulkan kekhawatiran baru mengenai kualitas audit dan akrual diskresioner (Guan et al., 2016). Hwang dan Kim (2009) melakukan studi kearsipan dan menemukan bahwa ikatan sosial antara CEO dan dewan tidak hanya berdampak pada kompensasi namun juga mengakibatkan kurang efektifnya pengawasan dewan.
Baik di Tiongkok maupun Korea, kesamaan almamater sekolah berperan penting dalam membangun hubungan sosial (Chang et al., 2017). Penelitian sebelumnya misalnya menggunakan kemiripan obligasi almamater sekolah untuk dijadikan pengukuran dan pengujian terkait keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan dan pihak eksternalnya (Lennox & Park, 2007; Menon & Williams, 2004; Naiker & Sharma, 2009 ). Mereka mulai menghubungkan konsekuensi hubungan sosial antara CEO dan CFO dan dewan direksi, anggota komite audit, dan auditor eksternal terhadap kualitas pelaporan keuangan dan kualitas audit, dengan asumsi bahwa CEO dan CFO adalah dua eksekutif paling penting (Harymawan , Minanurohman, et al., 2023; Hoitash et al., 2016) perspektif keagenan yang dapat meningkatkan asimetri informasi antara manajemen dan dewan direksi. Meski begitu, hingga saat ini belum ada yang menguji hasil manajemen, seperti manajemen laba atau kualitas laba yang dapat dihasilkan karena adanya ikatan dalam perusahaan.
Meskipun penelitian ini telah mengeksplorasi secara luas pengukuran manajemen laba berbasis akrual, literatur telah mengabaikan hubungannya dengan kemungkinan adanya gangguan dari ikatan. Sementara Dechow dkk. (1995) menunjukkan bahwa manajemen tidak dapat memanipulasi pendapatan, mereka masih dapat menggunakan pendapatan diskresi, seperti penjualan kredit, untuk memanipulasi pendapatan, yang tidak dapat dideteksi oleh model asli. Estimasi manajemen atas laba biasanya konvergen menuju nol (Dechow et al., 1995). Selain itu, kehadiran CFO pada posisi dewan direksi dapat mendorong berkembangnya ikatan sosial yang berpotensi menimbulkan kerugian. Cohen dkk. (2017) meneliti hubungan CEO-komite audit, yang menciptakan persepsi negatif di kalangan investor tentang independensi dan efektivitas komite, dan membuat mereka mempertanyakan penerimaan praktik manajemen laba. ‹
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak ikatan sekolah antara eksekutif manajemen puncak, seperti Chief Executive Officer dan Chief Financial Officer, dan pihak eksternal, termasuk auditor, terhadap praktik manajemen laba perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode regresi efek tetap untuk menguji hipotesis apakah ikatan sekolah antara eksekutif manajemen puncak dan mitra audit akan berpengaruh terhadap praktik manajemen laba. Penulis memperoleh sampel dari Komisi Bursa Efek Indonesia selama tahun 2010 hingga 2022 dan mencakup beberapa uji kausalitas untuk memperkuat hasil empiris dari penelitian ini. Temuan kami menunjukkan adanya hubungan positif yang patut diperhatikan antara ikatan sekolah yang menghubungkan Chief Executive Officer (CEO) dan Auditor dengan Manajemen Laba. Namun, analisis kami menunjukkan bahwa kombinasi ikatan sekolah lainnya menunjukkan efek sebaliknya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara pihak internal dan eksternal dalam suatu perusahaan mungkin menjadi faktor yang harus dipertimbangkan secara cermat oleh investor ketika mengevaluasi keakuratan dan keandalan laporan keuangan. Oleh karena itu, sebaiknya hindari berinvestasi di perusahaan semacam itu. Meskipun penelitian sebelumnya secara ekstensif meneliti pengukuran manajemen laba berbasis akrual, literatur kurang membahas mengenai hubungannya dengan potensi pengaruh ikatan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan ini dengan menyelidiki hubungan antara ikatan sekolah manajemen puncak dan manajemen laba.
Penulis: Dr. Sri Ningsih, SE., M.Si., Ak.
Artikel dapat diakses pada: https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/21582440231220051





