51动漫

51动漫 Official Website

Iklan Merk Global dalam Menyikapi Jaga Jarak di Era Kris Pandemi COVID-19: Perspektif Etnografi Visual

Iklan berperan penting pada pemasaran dan branding perusahaan (Sumber Foto: Pexels.com)

Artikel ini membahas bagaimana lima merek global擬cDonald’s, Nike, Burger King, Coca-Cola, dan IKEA攎engadaptasi strategi komunikasi visual mereka untuk mendukung pesan social distancing selama krisis COVID-19. Studi ini menggunakan metode etnografi visual untuk memahami bagaimana iklan-iklan tersebut berfungsi bukan hanya sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai artefak budaya yang mencerminkan nilai solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab sosial pada masa krisis global. Melalui analisis iklan dan wawancara dengan tiga pakar (jurnalis, desainer visual, dan praktisi pemasaran), penelitian ini menunjukkan bagaimana visual iklan mengonstruksi makna sosial yang diterima lintas budaya.

Pandemi COVID-19 membawa tantangan yang berbeda terhadap berbagai perusahaan. Untuk tetap relevan dan menjaga hubungan dengan konsumen, merek global mengalihkan fokus ke pesan empati, solidaritas, dan promosi gaya hidup aman. Melalui pendekatan glocalization, pesan-pesan tersebut disesuaikan agar tetap konsisten secara global tetapi sensitif terhadap konteks lokal.

Banyak penelitian menyoroti perubahan strategi komunikasi selama pandemi, namun masih sedikit yang meneliti bagaimana unsur visual merek diadaptasi secara khusus untuk mencerminkan norma baru. Studi ini mengisi celah tersebut dengan menyoroti perubahan logo, tipografi, warna, narasi visual, serta simbol-simbol yang digunakan merek untuk menyampaikan pesan kesehatan publik.

Metodologi etnografi visual mampu mengungkap konteks budaya dalam representasi visual. Analisis dilakukan pada satu iklan utama dari masing-masing merek, dilengkapi wawasan dari tiga informan ahli. Data iklan diambil dari situs web merek atau kanal digital resmi yang mempromosikan social distancing. Metode ini memperlihatkan bagaimana visual iklan berfungsi sebagai teks budaya yang menegosiasikan makna bersama di tengah krisis.

McDonald’s mengadaptasi logo Golden Arches yang ikonik dengan memisahkan kedua lengkungan huruf 淢 untuk melambangkan social distancing. Meskipun menuai kritik di Brasil karena dianggap sekadar strategi pencitraan, para informan menilai perubahan logo ini sebagai simbol fleksibilitas dan kepekaan terhadap isu global. Langkah ini juga dinilai strategis dalam menjaga moral karyawan dan menenangkan konsumen tentang standar kebersihan.

Nike mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih mengubah logo, Nike meluncurkan kampanye 淧lay Inside, Play for the World, menggunakan tipografi sederhana tanpa gambar. Pesan ini mengajak masyarakat tetap aktif berolahraga dari rumah. Nike memaksimalkan peran atlet sebagai influencer serta menyediakan konten latihan gratis melalui aplikasi Nike Training Club. Para informan melihat kampanye ini sebagai pesan motivasi kolektif yang menekankan disiplin, solidaritas, dan kesehatan fisik-mental.

Burger King mengubah slogan 淗ome of the Whopper menjadi 淪tay Home dan memperkenalkan masker cetak khusus yang berisi pesanan pelanggan untuk meminimalkan percakapan langsung. Di Prancis dan Belgia, mereka meluncurkan DIY Whopper Kit agar konsumen dapat membuat burger di rumah. Para informan menilai perubahan slogan ini sebagai langkah berani dan berisiko, namun efektif dalam menyampaikan pesan moral sederhana yang relevan secara global.

Coca-Cola memilih pendekatan simbolik dengan menayangkan billboard besar di Times Square yang memisahkan huruf-huruf logo untuk menegaskan pesan 淪taying apart is the best way to stay united. Para informan menyoroti penggunaan media luar ruang di lokasi ikonik sebagai strategi yang sangat efektif secara visual dan simbolis karena Times Square adalah pusat budaya global. Selain itu, Coca-Cola memproduksi konten apresiasi kepada tenaga kesehatan melalui kolase gambar berbentuk botol Coca-Cola.

IKEA melalui kampanye #YoMeQuedoEnCasa (淚 Stay Home) di Spanyol, menampilkan rumah sebagai sahabat manusia selama karantina. Iklan berbentuk video ini menggunakan narasi emosional dari perspektif rumah yang 渂erbicara. IKEA juga menyesuaikan operasi bisnis dengan menutup toko fisik dan beralih ke kerja dari rumah. Para informan menilai iklan ini sangat kuat secara emosional, terutama karena Spanyol adalah salah satu negara yang paling terdampak pandemi.

Secara teoritis, penelitian ini mengintegrasikan semiotika, interaksionisme simbolik, dan glokalisasi. Perubahan logo dan pesan visual dipahami sebagai tanda (sign) yang membawa makna baru terkait tanggung jawab sosial. Konsumen menafsirkan tanda-tanda tersebut dalam konteks pengalaman kolektif pandemi. Sementara glokalisasi memperlihatkan bagaimana merek global menyesuaikan pesan mereka sesuai budaya setempat tanpa kehilangan identitas merek.

Kesimpulannya, pandemi COVID-19 mendorong merek global memproduksi konten visual yang berempati dan relevan secara sosial. Iklan tidak lagi hanya bersifat komersial, tetapi menjadi sarana edukasi dan pembentukan nilai kolektif. Penelitian ini menunjukkan peran penting iklan sebagai mediator budaya di masa krisis. Studi mendatang disarankan meneliti dampak jangka panjang perubahan visual terhadap loyalitas konsumen.

Penulis: Prof Myrtati Diah

AKSES CEPAT