51动漫

51动漫 Official Website

Mengungkap Cara Baru Menentukan Jenis Kelamin dari Tulang Leher

Tindakan Operasi Meningkatkan Harapan Hidup Pasien dengan Cedera Tulang Belakang Leher
Ilustrasi tulang leher (Foto: KlikDokter)

Bagaimana jika identitas seseorang bisa diketahui hanya dari sepotong kecil tulang di lehernya? Itulah yang berhasil dibuktikan oleh sekelompok peneliti Malaysia melalui riset terbaru yang menggabungkan teknologi digital dengan ilmu antropologi forensik. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Forensic Imaging (Elsevier, 2025) berjudul 淯nlocking Sexual Dimorphism: Geometric Morphometrics Analysis of the Atlas (C1) Bone in Malaysian Populations, para peneliti menemukan bahwa bentuk tulang atlas攖ulang pertama pada ruas leher manusia攄apat menjadi kunci penting dalam menentukan jenis kelamin seseorang dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Tulang atlas (C1) adalah bagian paling atas dari tulang belakang yang menopang kepala dan menghubungkan tengkorak dengan leher. Bentuknya unik, menyerupai cincin kecil yang melingkar di bawah tengkorak. Selama ini, tulang ini jarang mendapatkan perhatian dalam studi identifikasi forensik karena ukurannya kecil dan strukturnya rumit.

Namun, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Muhammad Faiz Mohd Fauad dari Universiti Sains Malaysia bekerja sama dengan 51动漫 membuktikan bahwa justru di tulang kecil ini tersimpan perbedaan bentuk yang cukup konsisten antara laki-laki dan perempuan. Dalam banyak kasus, bagian kerangka yang biasanya digunakan untuk menentukan jenis kelamin. Seperti panggul atau tengkorak, bisa saja tidak utuh atau rusak. Tulang atlas bisa menjadi alternatif yang berharga, karena posisinya terlindung di dasar tengkorak dan cenderung tetap utuh.

Selama ini, analisis tulang dilakukan menggunakan alat ukur manual seperti kaliper. Cara ini membutuhkan keahlian tinggi dan waktu lama, serta rawan kesalahan manusia. Dalam riset terbaru ini, para ilmuwan Malaysia menggunakan pendekatan digital modern yang disebut geometric morphometric method (GMM).

GMM memungkinkan bentuk tulang dianalisis secara komprehensif melalui foto atau citra digital dua dimensi. Dengan teknologi ini, setiap titik penting pada tulang dapat terpetakan, kemudian dibandingkan secara statistik untuk melihat variasi bentuk dan ukuran. Teknik ini bukan hanya mengukur panjang dan lebar, tetapi juga pola geometris antarbagian tulang. Hasilnya jauh lebih detail dan objektif.

Penelitian ini melibatkan 413 citra rontgen lateral tulang leher (cervical vertebra) dari individu berusia 35 hingga 45 tahun di Malaysia攖erdiri atas 208 laki-laki dan 205 perempuan. Setiap gambar dianalisis menggunakan perangkat lunak TPSDig2 untuk menandai enam titik acuan (landmarks) pada tulang atlas.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan program MorphoJ, yang mampu membedakan variasi bentuk tulang dengan pendekatan statistik geometris. Analisis menunjukkan bahwa bentuk tulang atlas laki-laki cenderung lebih besar dan lebih tebal, sedangkan perempuan memiliki bentuk yang lebih halus dan simetris. Dengan metode Discriminant Function Analysis (DFA), tingkat akurasi penentuan jenis kelamin mencapai 87,9 persen angka yang cukup tinggi untuk standar penelitian forensik. Ini membuktikan bahwa bahkan tulang sekecil atlas pun dapat menyimpan informasi penting untuk identifikasi manusia.

Temuan ini punya implikasi luas, terutama dalam identifikasi korban bencana, kasus kriminal, atau penelitian arkeologi. Dalam banyak kasus, tulang panggul atau tengkorak sering kali hilang, hancur, atau tidak ada sama sekali. Dengan metode berbasis citra seperti GMM, para ahli forensik tetap bisa menentukan jenis kelamin seseorang hanya dari hasil rontgen atau CT-scan tanpa harus menyentuh tulangnya secara langsung.

Metode ini juga lebih efisien, cepat, dan tidak destruktif. Artinya, spesimen langka seperti fosil atau sisa arkeologis dapat dipelajari tanpa risiko kerusakan. Pendekatan digital ini membuka peluang untuk mengembangkan basis data forensik yang lebih lengkap dan spesifik untuk populasi Asia Tenggara.

Sebagian besar standar identifikasi forensik saat ini berdasarkan pada data populasi Eropa atau Amerika. Hal ini bisa menjadi masalah karena bentuk dan proporsi tulang manusia bisa terpengaruh dari faktor genetik, lingkungan, serta pola makan. Penelitian ini menjadi langkah awal dalam membangun standar morfometrik khas Asia Tenggara, khususnya untuk masyarakat Malaysia. Para ahli meyakini, pendekatan berbasis citra seperti GMM akan menjadi bagian dari masa depan ilmu forensik. Seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pemindaian medis, bukan tidak mungkin komputer di masa depan bisa secara otomatis mengenali jenis kelamin atau usia seseorang hanya dari citra tulangnya.

Namun, para peneliti juga menekankan pentingnya keahlian manusia dalam menafsirkan data. Teknologi hanyalah alat bantu. Pemahaman anatomi dan konteks forensik tetap menjadi inti dari pekerjaan ilmuwan. Riset ini bukan hanya membuktikan kehebatan teknologi dalam memecahkan misteri biologi manusia, tetapi juga menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan terus berkembang dari hal-hal yang sederhana. Dari sepotong tulang kecil di leher, kini terbuka jalan baru bagi dunia forensik untuk mengidentifikasi manusia dengan cara yang lebih cepat, presisi, dan beretika.

Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Referensi: Fauad M.F.M., Alias A., Alqahtani K.A. (2025). Unlocking Sexual Dimorphism: Geometric Morphometrics Analysis of the Atlas (C1) Bone in Malaysian Populations. Forensic Imaging, Vol. 41, Article 200637. DOI: 10.1016/j.fri.2025.200637

AKSES CEPAT