n

51

51 Official Website

Ikrar Sikap BEM FK Se-Surabaya, Kecam Semua Bentuk Terorisme

ikrar bem
DELAPAN orang perwakilan BEM FK se-Surabaya berikrar mengecam semua bentuk terorisme. Disaksikan puluhan mahasiswa FK se-Surabaya. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS Kekompakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran (FK) Se-Surabaya sangat terjaga. Bersama puluhan mahasiswa FK dari kampus masing-masing mereka menggelar acara Bersatu Dalam Doa, Kuat Dalam Kebersamaan yang diakhiri ikrar pernyataan sikap mengecam terhadap apapun bentuk terorisme di Indonesia.

Pernyataan sikap dan aksi solidaritas mahasiswa FK se-Surabaya itu dilaksanakan di kampus FK 51, Jumat (18/5) malam. Sebelum berikrar, mereka melaksanakan salat tarawih dulu di Mushala GraBIK FK UNAIR, serta diskusi di ruang kuliah Anatomi dengan menghadirkan narasumber Ustad Ir. H. Misbahul Huda, MBA.

Perwakilan mahasiswa delapan FK tersebut berasal dari UNAIR selaku tuan rumah, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Universitas Hang Tuah (UHT), Universitas Ciputra (UC), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), dan FK Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM). Bahkan juga menghadirkan elemen ormawa lain di internal FK UNAIR seperti CIMSA, AMSA, dan beberapa Tim Bantuan Medis FK se-Surabaya.

Lima buah pernyataan sikap yang dituangkan dalam petisi yang ditandatangani perwakilan BEM masing-masing adalah: Kesatu, mengecam semua bentuk terorisme di Indonesia. Kedua, mendukung serta membantu pemerintah secara penuh untuk mewujudkan toleransi umat beragama dalam memberantas terorisme di Indonesia.

Ketiga, mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk selalu tanggap dan hati-hati kepada pihak-pihak yang berupaya memecah belah bangsa. Keempat, membantu mewujudkan pribadi mahasiswa yang menentang dan menolak secara keras paham radikalisme dalam lingkungan universitas. Kelima, mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mengaitkan segala tindakan terorisme tersebut dengan suatu suku/ras/agama manapun.

Penandatanganan petisi itu diwakili oleh Ketua BEM FK UNAIR Prima Ardiansyah Surya, Deo Apriyangga AN (UWKS), Erika Puteri Z (UHT), Kevin (UKWMS), Akbar RM (Unusa), M. Frando (UM), M. Setyo Aji P (UC), dan Noza (Ubaya). Selain itu mereka juga melakukan orasi singkat atas sikapnya masing-masing.

ikrar bem
USAI acara Bersatu Dalam Doa, Kuat Dalam Kebersamaan, mahasiswa FK se-Surabaya foto bersama Ust. Misbahul Huda (tengah). (Foto: Bambang Bes)

Ketua BEM FK UNAIR Prima Ardiansyah menjelaskan, kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan mahasiswa FK se-Surabaya atas tragedi aksi terorisme yang mengguncang Kota Surabaya dan Sidoarjo. Seperti diketahui, bom yang diledakkan teroris Minggu 13 Mei 2018 di tiga gereja di Surabaya itu menewaskan 14 korban jiwa.

Kami sebagai mahasiswa FK dengan tidak memandang suku, agama, RAS, dan golongan apapun, tidak mentolerir terhadap aksi radikalisme yang menimbulkan tragedi kemanusiaan ini, apalagi itu terjadi di Kota Surabaya, katanya.

Ia berharap tindakan solidaritas yang digalang bersama-sama mahasiswa FK se-Surabaya ini membantu penguatan sikap masyarakat untuk bersama-sama memerangi faham-faham radikal, terutama terorisme di Indonesia. Pihaknya juga akan mengirimkan isi petisi ini kepada ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) dengan harapan disikapi bersama-sama.

Dalam diskusinya, Ustad Misbahul Huda juga menyampaikan pendapatnya bahwa bom oleh terosis di tiga gereja itu benar-benar mengoyak kedamaian Surabaya sebagai barometer keamanan. Tindakan radikalisme itu sama sekali bukan atas nama agama, juga tidak ada orang Islam yang merasa dibela hak-haknya.

Apa yang terjadi dalam faham dia hingga membawa korban anak dan isteri bahwa akan mati sahid? Tidak. Itu bukan mati sahid, tetapi mati sangit (hangus), kata Ust Misbahul Huda ujar beliau saat membuka ceramahnya. Setelah sekitar satu jam berjalan, sesi diskusi pun berakhir.

Ia menerangkan secara rinci proses alur berfikir seseorang, baik yang normal dan masuk akal, hingga yang berfikir menyimpang dan menjadi radikal. Kalau pemikiran sudah masuk ke dalam bawah sadarnya, ia menguasai 82% pemikirannya. Itu yang sering sampai terbawa dalam tidur dan mimpi-mimpinya. Sedangkan pemikiran sadarnya hanya sebesar 18%.

Sangat disayangkan alam bawah sadar itu tidak diisi dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Padahal sudah jelas bahwa orang yang baik itu yang bisa memberi kontribusi kepada sesama secara yang terbaik pula. Misalnya Stave Jobs, kata Ust. Misbahul Huda. (*)

Penulis: Bambang Bes

AKSES CEPAT