51动漫

51动漫 Official Website

Implementasi, Dampak dan Strategi Menghadapi Tantangan dalam Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar

Ilustrasi Kurikulum AI dan Koding. (Foto: Radar Cirebon)

Kebijakan pemerintah dalam upaya membentuk kurikulum baru dengan kiblat pendidikan merdeka belajar mendorong peserta didik untuk mengembangkan diri, ide-ide baru, dan suasana baru dapat membentuk suasana akademik baru. Konsep ini kemudian menuntun pada pendidikan dengan kurikulum yang sarat akan pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan mampu memberikan memotivasi pada peserta didik untuk belajar dan berbagi ilmu, memperkaya pengetahuan dan ide-ide kreatifnya (Hertati, et al. 2023). Kurikulum merdeka belajar saat ini telah menjadi sebuah konsep baru yang memungkinkan guru dan siswa mendapatkan kemerdekaan mengajar dan belajar di lingkungan pendidikan (Leuwol et al., 2020; Muhsin, 2021; Wijayanto, 2021). Program ini pada dasarnya merupakan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan yang fokus pembelajarannya adalah untuk mendapatkan kualitas pembelajaran secara optimal.

Kurikulum merdeka belajar belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh elemen pendidikan, baik dalam hal penerapan maupun konsekuensi tantangan dunia pendidikan. Keberadaan kurikulum merdeka memiliki tujuan lain yang juga untuk menata kembali sistem pendidikan nasional dan merespon kemajuan serta perubahan di tanah air, sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Konsep kurikulum merdeka belajar juga mengharuskan penggunaan teknologi sebagai alat bantu dalam proses belajar, seperti pemanfaatan platform digital, penggunaan video belajar oleh guru, ketersediaan e-book, dan lain sebagainya. Teknologi juga dapat digunakan sebagai sarana mengakses resources atau sumber daya yang lebih luas agar informasi yang diperoleh peserta didik tidak terbatas hanya pada buku pembelajaran saja. Di era digital, perubahan kurikulum menjadi tidak bisa lepas dari adanya evolusi era yang juga serba digital (Angga et al., 2022). Oleh sebab itu, menjadi jelas bahwa perubahan kurikulum sangat diperlukan dengan esensi di dalamnya untuk dapat merespon perkembangan global.

Merdeka belajar memberikan keleluasan pada guru dalam merancang dan menyusun materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan konteks siswa. Positifnya guru dan siswa tidak dipaksa untuk mengikuti materi ajar yang diberikan dan mencapai passing grade, namun sisi negatif adalah siswa terkadang enggan untuk berkompetisi antar siswa lainnya (Fadhli, 2022). Guru sebagai agen perubahan benar-benar dituntut mampu memahami dengan baik karakteristik dan latar belakang peserta didik, sehingga guru harus tahu bagaimana cara mengajar siswa agar mencapai tujuan pembelajaran yang baik. Adanya merdeka belajar juga diharapkan dapat menyeimbangkan berbagai macam pelajaran/rumpun ilmu pengetahuan.

Implementasi kurikulum merdeka belajar masih memiliki banyak tantangan di lapangan, seperti halnya; tuntutan pembelajaran yang lebih tinggi untuk guru dan murid, rata-rata terkendala dengan kesiapan guru dan murid menyebarkan dan menerima metode pembelajaran yang baru, maupun dukungan dan fasilitas penunjang yang memadai. Tantangan tersebut kemudian berdampak pada implementasi kurikulum merdeka belajar itu sendiri. Beberapa sekolah merasakan dampak yang positif, namun diantaranya juga masih di bawah rata-rata tingkat kesuksesan dalam penerapannya. Dampak positif dari adanya kurikulum merdeka belajar yang dirasakan diantaranya; Terciptanya keleluasan pada guru dalam merancang dan menyusun materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan konteks siswa. Guru sebagai agen perubahan juga dituntut mampu memahami dengan baik karakteristik dan latar belakang peserta didik. Sementara itu, pada praktik di lapangan, baik sekolah maupun guru pendidik, berharap bahwa keberadaan kurikulum merdeka belajar juga dapat menyeimbangkan berbagai macam pelajaran/rumpun ilmu pengetahuan. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih fleksibel dan memberikan kebebasan, dan membekali siswa untuk bisa mengelola lingkungan alam dan sosial secara bersamaan, yang artinya bisa lebih berdampak di masyarakat.

Beberapa strategi yang dirasa mampu mempercepat perkembangan kurikulum dan implementasinya dalam dunia pendidikan adalah melakukan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi potensi perbaikan dan penyesuaian yang perlu dilakukan, mengikuti kegiatan pelatihan/workshop, mencari referensi dari berbagai sumber baik platform merdeka mengajar, media sosial, maupun sumber lainnya. Selain itu, sekolah dan guru bisa mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan sarana dan prasana sebagai penunjang proses pembelajaran. Di samping itu, perlu diselenggarakan sosialisasi dengan wali murid/orang tua, baik melalui rapat wali murid atau group whatsapp atau pemanfaatan platform digital. Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa masih banyak strategi yang perlu pengembangan untuk dapat menciptakan suasana belajar yang sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Studi ini merekomendasikan pentingnya dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah, koneksi antar sekolah dan dewan guru serta keterlibatan orang tua dalam penerapan kurikulum Merdeka Belajar.

Penulis: Prof. Dr. Siti Mas’udah, S.Sos., M.Si.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT