Partai politik di Indonesia merupakan wujud negara demokrasi; oleh karena itu, hal ini memerlukan kepemimpinan kuat yang efektif dan terdefinisi dengan baik untuk menjamin keberlanjutannya. Kepemimpinan yang kuat, dalam konteks ini, mengacu pada kemampuan untuk membimbing, mempengaruhi, dan mendukung anggota partai menuju pencapaian tujuan bersama sambil menjaga integritas organisasi dan daya tanggap terhadap tantangan eksternal. Definisi ini mencakup kapasitas pengambilan keputusan strategis dan pemeliharaan budaya partai yang kohesif.
Partai Demokrat di Indonesia, yang secara resmi dipimpin oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mendapat manfaat dari pengalamannya yang solid baik di dalam maupun di luar negeri. Sebelum AHY, Partai Demokrat dipimpin oleh Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, yang dianugerahi gelar Knight Grand Cross of the Order of the Bath (GCB) oleh Ratu Elizabeth II pada tahun 2012 atas kontribusinya terhadap pengembangan ekonomi dan politik yang berkelanjutan.
Untuk menjaga integritas organisasi dan mengantisipasi ancaman eksternal, AHY mendorong semua anggota untuk tetap bersatu, berkomitmen pada Konstitusi, dan menjaga martabat. Dia memotivasi anggota untuk bekerja bersama, mengumpulkan bukti untuk proses pengadilan, dan menjaga integritas organisasi. Tindakan-tindakan ini mencerminkan komitmen dan integritas yang tinggi, menjadi contoh kepemimpinan transformasional. Namun, motivasi ini tidak akan efektif tanpa adanya komitmen dan keputusan untuk bertahan, yang sangat penting untuk keberlangsungan organisasi.
Relevan dengan Theory of Planned Behavior
Penelitian ini merujuk pada Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai perluasan dari Theory of Reasoned Action (TRA). TRA menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku individu yang berada dalam kendali penuh individu, sedangkan TPB mencakup faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku. TPB relevan untuk memahami niat dan keputusan individu yang dipengaruhi oleh kepemimpinan. Komitmen adalah kekuatan yang mengarahkan perilaku dan lebih dari sekadar dorongan untuk bertindak positif. Kepemimpinan transformasional membangun hubungan motivasional dan moral antara pemimpin dan pengikut, dan fokus pada perubahan positif di masa depan. Boin dan Hart menyoroti pentingnya kepemimpinan krisis yang efektif, yang melibatkan ketegasan, komunikasi, dan kemampuan untuk mengelola dinamika internal partai, serta mempertahankan stabilitas dan kepercayaan publik.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan responden sebanyak 349 orang yang merupakan komite aktif dari Partai Demokrat (DPP, DPD, dan DPC). Data dikumpulkan menggunakan teknik cluster random sampling. Variabel laten dalam penelitian ini dibangun menggunakan dimensi-dimensi tertentu: kepemimpinan transformasional (karisma, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual), komitmen (komitmen afektif, normatif, dan berkelanjutan), dan keputusan untuk bertahan (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan komitmen secara signifikan mempengaruhi keputusan untuk bertahan. Kepemimpinan transformasional juga berpengaruh secara tidak langsung melalui komitmen. AHY, sebagai pemimpin Partai Demokrat, menunjukkan kepemimpinan transformasional yang kuat, yang tercermin dari komitmennya terhadap integritas organisasi, motivasi anggota untuk bersatu, dan mempertahankan martabat partai.
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional juga memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan untuk bertahan. Temuan ini relevan dengan Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior – TPB) (Ajzen 1991). Oleh karena itu, kepemimpinan transformasional sebagai norma subjektif (persepsi individu tentang perilaku, yang dipengaruhi oleh penilaian orang lain yang signifikan) mempengaruhi komitmen sebagai manifestasi dari sikap (dalam TPB). Dampak dari kepemimpinan transformasional mendorong internalisasi nilai-nilai eksternal menjadi nilai-nilai individu. Hal ini membentuk komitmen yang kemudian akan mempengaruhi perilaku, yaitu keputusan individu untuk bertahan. Setiap orang harus memiliki kesadaran setelah dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap bersama organisasi.
Kepemimpinan transformasional yang berhasil dilakukan oleh Agus Harimurti Yudhoyono adalah bentuk kepemimpinan demokratis. Seorang pemimpin akan mempengaruhi anggota, dengan nilai-nilai positif yang diinternalisasi oleh anggota. Hal ini akan mendorong komitmen dari anggota yang pada akhirnya akan memutuskan untuk tetap bersama organisasi. Oleh karena itu, keputusan individu diambil secara mandiri, tanpa tekanan atau campur tangan. Kualitas kepemimpinan yang dilakukan oleh Agus Harimurti Yudhoyono dikonfirmasi oleh temuan empiris dan statistik yang telah menjadi bukti kuat dari keberlanjutan Partai Demokrat di Indonesia. Ini bisa menjadi referensi dan contoh yang baik bagi organisasi lain untuk bertahan setelah menghadapi krisis dan menghadapi ketidakpastian yang tinggi.
Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya kepemimpinan transformasional dalam mempertahankan anggota partai melalui peningkatan komitmen. Penelitian ini juga merekomendasikan agar kepemimpinan di Partai Demokrat terus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan di masa depan dan memastikan keberlanjutan organisasi. Penelitian ini memberikan bukti empiris bagaimana kualitas kepemimpinan, khususnya kepemimpinan transformasional, mempengaruhi keputusan anggota untuk tetap berkontribusi pada organisasi.
Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog
Link:





