51动漫

51动漫 Official Website

Infeksi Oportunistik dan Jumlah sel Imun pada pasien HIV/ AIDS di Rumah Sakit Tersier Surabaya

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menimbulkan masalah yang signifikan bagi kesehatan masyarakat global dan merupakan salah satu penyakit menular yang paling mengancam jiwa dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Data menunjukkan kasus HIV/AIDS di Indonesia, negara dengan risiko HIV dan AIDS tertinggi kelima di Asia, terus meningkat setiap tahunnya, meski cenderung berfluktuasi. Selain itu, penyakit ini memiliki angka kematian yang tinggi di Indonesia.

Human immunodeficiency virus (HIV) menimbulkan masalah yang signifikan bagi kesehatan masyarakat global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kasus HIV/AIDS di Indonesia, negara dengan risiko HIV/AIDS tertinggi kelima di Asia, terus meningkat. Penurunan kadar CD4 menunjukkan peningkatan angka infeksi oportunistik pasien HIV. Selain itu, Rasio Neutrofil terhadap Limfosit (NLR) dapat menjadi dasar penentuan infeksi bakteri, laju infeksi, dan terapi antibiotik.

Meskipun HIV merupakan penyebab awal AIDS, namun sebagian besar kematian terjadi pada pasien terinfeksi HIV dengan komplikasi Infeksi Oportunistik (OI). OI dengan cepat menyerang pasien dengan sel dan kondisi pertahanan imun humoral. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pasien dengan HIV stadium III dan IV memiliki risiko 9,4 dan 22,6 kali lebih tinggi terkena OI dibandingkan mereka yang mengidap HIV stadium III dan IV.dengan HIV stadium I. Pasien terinfeksi HIV dengan jumlah sel T-CD4 kurang dari 200 sel per mm3 ditemukan memiliki risiko 4,9 kali lebih tinggi terkena OI dibandingkan pasien terinfeksi HIV dengan jumlah sel T CD4 lebih dari 350 sel per mm3

Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross-sectional retrospektif dan bertujuan untuk mengamati korelasi antara profil bakteri dan jamur pada spesimen klinis serta jumlah CD4 dan nilai NLR pasien rawat inap HIV/AIDS di RS Rujukan Tersier Dr. Soetomo dari bulan September 2021 hingga Agustus 2022. Sebanyak 192 hasil tes identifikasi bakteri dan jamur dari 76 pasien berhasil dikumpulkan, terdiri dari tes kultur bakteri 83,3%, terdiri dari kultur negatif 52,5%, tes TB ahli gen 12%, dan tes kultur jamur 4,7%.

Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli ESBL merupakan jumlah bakteri Gram negatif terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini yaitu sebesar 51,33%, disusul oleh Streptococcus viridans jumlah bakteri Gram positif terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini yaitu sebesar 48,67%. Sebanyak 34,2% bakteri komensal dan 21,05% bakteri Multi-Drug Resistance Organism (MDRO) juga ditemukan pada penelitian ini. Tes TBC ahli gen menghasilkan 73,9% M. tuberkulosis yang tidak terdeteksi, sedangkan tes kultur jamur menghasilkan 88,9% Candida albicans.

Selain itu, tidak ada korelasi antara profil bakteri dan jamur dari spesimen klinis dengan jumlah CD4 atau nilai NLR pada pasien terinfeksi HIV/AIDS.

Penulis Agung Dwi Wahyu Widodo

AKSES CEPAT