51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Infeksi Pasca Stroke Iskemik: Tantangan Klinis dan Dampak Pandemi COVID-19

Ilustrasi infeksi pneumonia (Gambar: Generated image)

Stroke iskemik akut (AIS) merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Salah satu komplikasi serius yang sering terjadi setelah serangan stroke adalah infeksi, yang dapat memperburuk kondisi pasien, memperpanjang masa rawat inap, dan meningkatkan biaya perawatan. Sebuah studi retrospektif terbaru yang dilakukan di Indonesia selama lima tahun (2018“2022) mengungkap dinamika infeksi pasca-stroke, termasuk perubahan pola patogen dan faktor risiko selama pandemi COVID-19.

Prevalensi dan Jenis Infeksi

Dari 599 pasien AIS yang menjalani kultur mikrobiologis, 21,4% di antaranya menunjukkan hasil positif, dengan sebagian besar sampel berasal dari dahak. Hal ini mengindikasikan bahwa pneumonia merupakan infeksi paling umum pada pasien pasca-stroke. Patogen utama yang teridentifikasi adalah bakteri Gram-negatif seperti Klebsiella pneumoniaeEscherichia coli, dan Acinetobacter baumannii, serta bakteri Gram-positive seperti Staphylococcus aureus. Infeksi jamur, seperti Candida albicans, juga ditemukan meskipun dalam proporsi yang lebih kecil.

Dampak Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 membawa perubahan signifikan dalam pola infeksi. Selama periode COVID-19 (2020“2021), terjadi penurunan tajam dalam tingkat positif kultur mikrobiologis dibandingkan dengan periode sebelumnya. Namun, di saat yang sama, muncul resistensi antibiotik yang lebih tinggi, termasuk bakteri penghasil ESBL (extended-spectrum beta-lactamases) pada Gram-negatif dan MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) pada Gram-positif. Hal ini diduga akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi.

Faktor Risiko yang Berubah

Beberapa faktor yang terkait dengan infeksi pasca-stroke juga mengalami pergeseran. Perawatan di unit stroke atau intensif terbukti menurunkan risiko infeksi, baik pada masa pandemi maupun non-pandemi. Sementara itu, pemasangan kateter urin meningkatkan risiko infeksi pada periode non-COVID-19. Di sisi lain, penggunaan steroid, nutrisi parenteral total (TPN), dan trakeostomi justru dikaitkan dengan penurunan risiko infeksi selama masa pandemi.

Implikasi Klinis dan Rekomendasi

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pencegahan infeksi pada pasien stroke, terutama melalui skrining disfagia sejak dini untuk mencegah pneumonia aspirasi. Perawatan di unit stroke yang terintegrasi juga terbukti efektif dalam mengurangi komplikasi infeksi. Di era pascapandemi, pengawasan ketat terhadap penggunaan antibiotik sangat diperlukan untuk mencegah resistensi yang lebih luas.

Infeksi pasca-stroke tetap menjadi tantangan klinis yang memerlukan pendekatan proaktif dan berbasis bukti. Pemahaman tentang perubahan pola infeksi dan faktor risikonya, terutama dalam konteks pandemi, dapat membantu tenaga kesehatan dalam merancang strategi pencegahan yang lebih efektif. Penelitian lanjutan di berbagai setting kesehatan diperlukan untuk memperkuat temuan ini dan mendukung tata laksana stroke yang lebih komprehensif.

Penulis: Prof. Dr. Aryati.dr. MS.,Sp.PK., Subsp.P.I(K)., Subsp.I.M(K)
Artikel tersebut bisa di akses :
Prevalence and Factors Associated with Infections After Acute Ischemic Stroke: A Single-Center Retrospective Study over Five Years.
Weny Rinawati, Aryati Aryati, Abdulloh Machin, Stefan Kiechl, Gregor Broessner

AKSES CEPAT