51

51 Official Website

Inovasi Pertanian Hijau: Pemanfaatan Ampas Kelapa untuk Menghambat Jamur Tanaman

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Selama ini, petani banyak menggunakan pestisida/fungisida kimia untuk melindungi tanaman dari serangan jamur dan hama penyakit. Namun, bahan kimia tersebut sering kali berdampak buruk bagi tanah, air, dan lingkungan sekitar. Karena itu, para peneliti mencari cara yang lebih aman dan ramah lingkungan untuk menjaga tanaman tetap sehat dan menghasilkan produk panen yang berkualitas. Salah satu solusi menarik datang dari bakteri Bacillus velezensis ES7.3. Bakteri ini mampu menghasilkan zat alami yang disebut biosurfaktan. Zat ini bisa membantu melindungi tanaman dari serangan jamur penyakit, serta lebih aman bagi lingkungan dibandingkan bahan kimia sintetis.

Yang lebih menarik lagi, bakteri ini dapat tumbuh dengan memanfaatkan ampas kelapa. Ampas kelapa biasanya dianggap sebagai limbah atau sisa produksi, padahal masih mengandung banyak nutrisi. Dalam penelitian ini, ampas kelapa digunakan sebagai makanan bagi bakteri untuk menghasilkan zat pelindung bagi tanaman tersebut. Hasilnya, produksi zat alami ini justru lebih baik ketika menggunakan ampas kelapa dibandingkan menggunakan bahan gula buatan di laboratorium.

Selain ramah lingkungan, bakteri ini juga terbukti mampu menekan pertumbuhan jamur penyebab penyakit tanaman, yaitu Fusarium oxysporum. Jamur ini sering menyerang berbagai jenis tanaman di lahan pertanian dan dapat menyebabkan kerugian besar bagi petani. Dalam pengujian di laboratorium, bakteri tersebut mampu menghambat pertumbuhan jamur hingga lebih dari 80 persen.

Cara kerjanya dari zat ini sangat sederhana. Zat alami yang dihasilkan bakteri membantu merusak lapisan pelindung jamur sehingga jamur tidak dapat berkembang dengan baik. Dengan begitu, tanaman memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat tanpa bergantung sepenuhnya pada pestisida/fungisida kimia. Pemanfaatan ampas kelapa dalam penelitian ini juga membawa manfaat tambahan. Limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini bisa diubah menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi. Hal ini mendukung konsep pertanian berkelanjutan, yaitu sistem pertanian yang tetap produktif tanpa merusak lingkungan.

Meskipun masih memerlukan penelitian lanjutan sebelum digunakan secara luas di lapangan, temuan ini membuka harapan baru. Kedepannya, bakteri penghasil zat alami ini berpotensi menjadi bagian dari solusi pertanian yang lebih aman, hemat biaya, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.

Penilus: Dr. Salamun, Drs., M.Kes

Link Jurnal:

F.A. Nafidiastri, Salamun, N. Fadhillah, Ni’matuzahroh, Fatimah, A. Geraldi, A.R. Febriyanti. Biosurfactant Production Using Coconut Meal by Indigenous Bacillus Velezensis ES7.3: Genetic Characterization and Antifungal Activity against Fusarium Oxysporum. Asian Journal of Green Chemistry, Volume 10, Number 3,  2026, Pages 464-482.

AKSES CEPAT