Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat, terutama pada wanita muda. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan hormonal. Salah satu pendekatan diet yang semakin populer untuk mengatasi obesitas adalah puasa intermiten (intermittent fasting), yaitu pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa secara bergantian. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat memberikan berbagai efek metabolik, meskipun respons tubuh dapat berbeda tergantung pada jenis dan durasi puasa.
Puasa intermiten memiliki beberapa metode yang umum digunakan. Dua di antaranya adalah time-restricted feeding (TRF) dan alternate-day modified fasting (ADMF). Pada metode TRF, seseorang hanya diperbolehkan makan dalam jangka waktu tertentu setiap hari, misalnya 6 jam, dan berpuasa selama 18 jam. Sementara itu, pada metode ADMF, seseorang menjalani puasa hampir penuh setiap dua hari sekali, dengan asupan kalori sangat terbatas pada hari puasa. Kedua metode ini bertujuan untuk mengurangi asupan energi dan memperbaiki metabolisme tubuh.
Penelitian yang dilakukan pada wanita muda obesitas selama 20 hari menunjukkan bahwa kedua metode puasa intermiten memberikan efek metabolik yang berbeda. Salah satu temuan penting adalah bahwa metode ADMF secara signifikan mampu menurunkan berat badan dan lemak visceral, yaitu lemak yang berada di sekitar organ dalam. Penurunan lemak visceral sangat penting karena jenis lemak ini berhubungan erat dengan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Hal ini menunjukkan bahwa puasa dengan periode lebih panjang dapat meningkatkan pembakaran lemak sebagai sumber energi.
Sebaliknya, metode TRF tidak menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan dalam jangka waktu 20 hari, tetapi memberikan efek lain yang tidak kalah penting, yaitu penurunan kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-1). IGF-1 merupakan hormon yang berperan dalam pertumbuhan sel dan metabolisme. Kadar IGF-1 yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker dan penyakit kronis lainnya. Oleh karena itu, penurunan IGF-1 melalui puasa intermiten dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang, terutama dalam pencegahan penyakit degeneratif.
Namun, hasil penelitian ini juga menemukan temuan yang cukup menarik, yaitu adanya peningkatan kadar gula darah puasa pada kedua kelompok puasa intermiten, baik TRF maupun ADMF. Meskipun terdengar kontradiktif, peningkatan ini kemungkinan merupakan respons sementara tubuh terhadap perubahan pola makan. Selama puasa, tubuh mengalami adaptasi metabolik, termasuk peningkatan hormon stres seperti kortisol dan perubahan sensitivitas insulin. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan sementara kadar glukosa darah, yang biasanya akan membaik setelah tubuh beradaptasi dengan pola puasa tersebut.
Adaptasi metabolik selama puasa juga melibatkan perubahan penggunaan sumber energi. Pada awal puasa, tubuh menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi utama. Setelah cadangan ini berkurang, tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi melalui proses yang disebut lipolisis. Proses ini menjelaskan mengapa puasa intermiten, terutama dengan durasi puasa yang lebih lama seperti pada metode ADMF, dapat membantu mengurangi lemak tubuh secara efektif. Selain itu, puasa juga dapat menurunkan kadar insulin, yang berperan dalam penyimpanan lemak, sehingga membantu meningkatkan pembakaran lemak.
Temuan ini menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat memberikan manfaat kesehatan, tetapi efeknya bergantung pada metode yang digunakan dan durasi intervensi. Metode ADMF lebih efektif dalam menurunkan berat badan dan lemak visceral, sedangkan metode TRF lebih efektif dalam menurunkan kadar IGF-1 yang berkaitan dengan risiko penyakit kronis. Namun, peningkatan sementara kadar gula darah menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan pola makan.
Secara keseluruhan, puasa intermiten merupakan strategi yang menjanjikan untuk membantu mengatasi obesitas dan meningkatkan kesehatan metabolik, terutama pada wanita muda. Namun, penting untuk memahami bahwa efeknya tidak selalu langsung terlihat dan dapat berbeda pada setiap individu. Oleh karena itu, puasa intermiten sebaiknya dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan, terutama pada individu dengan risiko gangguan metabolik. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami efek jangka panjang puasa intermiten terhadap kesehatan dan untuk menentukan metode yang paling optimal bagi setiap individu.
Penulis: Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes.
Referensi:
Rachmayanti, D. A., Rejeki, P. S., Argarini, R., Novida, H., Soenarti, S., Halim, S., Permataputri, C. D. A., & Purnomo, S. P. (2025). Effects of Short-Term (20-Day) Alternate-Day Modified Fasting and Time-Restricted Feeding on Fasting Glucose and IGF-1 in Obese Young Women.Diseases,听13(12), 390.





