UNAIR NEWS Intan Putriani, mahasiswa 51动漫, terpilih sebagai penerima program Canada-ASEAN SEED (Scholarships and Educational Exchanges for Development) 2025. Melalui program itu, ia melakukan penelitian di Dalhousie University, memperluas perspektif akademiknya sekaligus memperoleh pengalaman riset internasional.
Selama mengikuti program SEED, Intan menganalisis bagaimana isu fair trade coffee yang diberitakan di surat kabar nasional Kanada, The Globe and Mail, dalam rentang waktu 35 tahun (1989-2024). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, ia menelaah bagaimana kebijakan fair trade global dibingkai di negara maju serta implikasi narasi tersebut bagi negara-negara berkembang penghasil kopi.
Penelitiannya berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendasar: 淢engapa masyarakat di wilayah hulu penghasil kopi masih jauh dari kata sejahtera, padahal kopi dikonsumsi secara global dan dijual dengan harga tinggi? Produksi kopi sebagian besar berada di negara berkembang seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Sementara industri hilir dan pasar konsumen utama terkonsentrasi di Amerika Utara dan Eropa. Indonesia sendiri merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia.
Berasal dari Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat, daerah yang dikenal dengan perkebunan kopi Tambora, Intan menyaksikan secara langsung bagaimana petani masih menghadapi kesulitan ekonomi. Sementara secangkir kopi di kafe perkotaan dapat dijual seharga 20.000 hingga 50.000 rupiah, petani sering kali hanya menerima keuntungan yang sangat kecil dari hasil panen mereka. Intan juga merasakan kontradiksi ketika melihat Kanada, negara yang tidak memiliki perkebunan kopi, namun hampir setiap kafe dan supermarket menyediakan kopi. Pemikiran inilah yang mendorongnya untuk mengkaji secara kritis bagaimana konsep fair trade dikonstruksikan dalam wacana publik dan suara siapa yang lebih diprioritaskan dalam narasi media.
Untuk melakukan penelitiannya, Intan mengumpulkan artikel melalui basis data Factiva dan menganalisisnya menggunakan perangkat lunak NVivo 14. Meskipun kerangka analisis yang digunakan serupa dengan yang ia pelajari di program magister, akses terhadap berbagai perangkat dan sumber riset digital di Kanada jauh lebih luas dan mudah diakses. Perpustakaan universitas menyediakan langganan jurnal akademik, arsip berita, hingga film dokumenter yang berkaitan dengan industri kopi.
Mengelola data dalam jumlah besar menuntut ketelitian dan konsistensi sepanjang proses penelitian. Tinggal di Bible Hill, sebuah kawasan yang tenang dan cukup jauh dari pusat kota dengan akses transportasi umum yang terbatas, juga menjadi tantangan tersendiri. 淎walnya cukup melelahkan secara fisik, namun lama-kelamaan saya belajar menikmati ritme hidup yang lebih lambat, ujarnya. Untuk menjaga fokus, ia menyeimbangkan disiplin akademik dengan perawatan diri, seperti berjalan santai ke pusat kota untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali meneliti.
Secara akademik, ia menilai budaya riset di Dalhousie University memiliki ritme dan ekspektasi yang tidak jauh berbeda dengan kampus asalnya, terutama dalam hal tenggat waktu dan kemandirian. Namun, dukungan institusional yang diberikan sangat terasa. Perpustakaan buka hingga pukul 23.00 pada hari kerja, dan komunikasi akademik dengan pembimbing berlangsung terbuka, suportif, serta kolaboratif. 淒iskusi kami tidak hanya membahas analisis teknis, tetapi juga tentang Kanada, Indonesia, dan industri kopi global. Percakapan itu memperluas perspektif akademik sekaligus pribadi saya, tuturnya.
Di luar kegiatan riset, proses adaptasi di Kanada menjadi pengalaman yang menantang sekaligus berkesan. Kantor internasional kampus memberikan dukungan yang kuat, terutama karena ia memilih tinggal di rumah bersama mahasiswa internasional lainnya, bukan di asrama kampus. Ia dan rekannya juga mendapat bantuan dalam berbagai kebutuhan praktis, termasuk tumpangan menuju toko yang lokasinya cukup jauh dari kampus.
Secara budaya, ia menggambarkan masyarakat Kanada sebagai sopan dan ramah. Namun, adaptasi terhadap gaya komunikasi sehari-hari membutuhkan kepekaan. Ungkapan seperti How are you? sering kali hanya digunakan sebagai sapaan ringan, bukan pertanyaan yang menuntut jawaban panjang. Memahami nuansa ini membantunya berinteraksi dengan lebih nyaman. Dalam keseharian, ia memasak sendiri dan membawa sambal serta mi instan dari Indonesia. Ia mengaku kerap merindukan makanan seperti sambal pedas, tahu goreng, tempe, ikan, dan masakan Padang. Meski demikian, fasilitas pemanas ruangan yang memadai serta akses terhadap pakaian musim dingin membuat cuaca dingin dapat diatasi.
Karena fokus utamanya adalah penelitian, interaksinya dengan mahasiswa lain relatif terbatas. Sebagian besar waktunya di kampus dihabiskan untuk bertemu pembimbing atau bekerja mandiri di perpustakaan. Namun, kesempatan mengunjungi beberapa kota di Kanada memberikan kesan mendalam. Ia melihat pengaruh budaya Prancis yang kuat dalam bahasa dan arsitektur, serta rasa sejarah yang kental, khususnya di Nova Scotia, yang membentuk identitas lokal.
Sebagai luaran nyata, Intan dan pembimbingnya berencana mengirimkan hasil penelitian mereka ke jurnal internasional. Pengalaman ini secara signifikan memperkuat kemampuan risetnya, terutama dalam mengelola data besar dan menggunakan NVivo untuk analisis kualitatif. 淪aya merasa jauh lebih percaya diri sekarang dalam menangani data kualitatif yang kompleks dan membangun argumen analitis yang terstruktur, ungkapnya.
Merefleksikan perjalanannya, Intan menyampaikan bahwa menempuh studi magister di usia 30 tahun membuat pengalaman ini terasa semakin bermakna. Menghabiskan tiga bulan di Bible Hill menguji kemandirian dan ketahanannya. Tinggal di desa yang tenang dengan akses transportasi terbatas menuntut kemampuan adaptasi dan kemandirian yang tinggi.
Bagi calon penerima Canada-ASEAN SEED di masa mendatang, ia menekankan pentingnya persiapan yang matang, termasuk memahami lokasi kampus, norma budaya, serta gaya komunikasi sebelum keberangkatan. Baginya, mengikuti program ini tidak hanya memenuhi, tetapi bahkan melampaui ekspektasinya. 淧engalaman ini tidak hanya memperkaya secara akademik, tetapi juga mentransformasi saya secara pribadi. Ini meneguhkan komitmen saya untuk terus melakukan riset yang bermakna dan belajar sepanjang hayat, pungkasnya.
Penulis: AGE UNAIR
Editor: Khefti Al Mawalia





