Malaria masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh lima spesies Plasmodium yaitu Plasmodium falciparum, P. malariae, P. ovale, P. vivax, dan P. knowlesi. Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi Plasmodium. Mayoritas malaria dengan gejala berat disebabkan oleh P. falciparum. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2021 terdapat 247 juta kasus malaria di dunia dengan angka kematian mencapai 619.000 jiwa. Kasus malaria di Indonesia juga masih tergolong tinggi. Data Kementrian Kesehatan menunjukkan ada 415.140 kasus malaria di Indonesia pada 2022, melonjak 36,29% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 304.607. Hal ini menunjukkan bahwa angka kejadian malaria masih tergolong tinggi dan diperlukan usaha untuk mengeradikasi penyakit ini, salah satunya dengan usaha penemuan obat antimalaria baru.
Penelitian senyawa bahan alam telah banyak berkontribusi terhadap penemuan obat antimalaria. Potensi tanaman sebagai sumber obat antimalaria telah dilaporkan dalam beberapa review artikel. Salah satu famili tanaman hutan tropis yang potensial sebagai sumber senyawa aktif dan terdapat dalam jumlah yang relatif besar adalah Moraceae. Famili ini terdiri dari 60 genus dan 1400 spesies. Genus Artocarpus merupakan salah satu genus dari famili Moraceae yang mencakup 50 spesies dan tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara sampai Kepulauan Solomon, Kepulauan Pasifik, Australia Utara, dan Amerika Tengah. Beberapa tanaman dari genus Artocarpus telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antimalaria diantaranya adalah Artocarpus champeden (cempedak), Artocarpus heterophyllus (nangka), Artocarpus altilis (sukun) dan Artocarpus camansi (kluwih).
Artocarpus sericicarpus termasuk dalam famili Moraceae dan merupakan salah satu tumbuhan asli Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku), Malaysia (Sarawak), dan Filipina. Tanaman ini dikenal secara lokal dengan nama peluntan, pedalai, gumihan, dan terap bulu. Genus Artocarpus dilaporkan menghasilkan senyawa golongan terpenoid, flavonoid, stilbenoid, arilbenzofuran, dan neolignan. Sejumlah senyawa dengan aktivitas antimalaria telah diisolasi dari genus Artocapus termasuk senyawa flavon terprenilasi dan kalkon. Kalkon memiliki gugus karbonil tak jenuh 伪, 尾 yang unik dengan berbagai bioaktivitas dan dianggap sebagai mediator untuk sintesis. Banyak prosedur sintesis dengan kalkon yang telah dilaporkan karena kontribusinya terhadap kimia sintetik dan industri farmakologi. Sedangkan ekstrak dan fraksi dari daun dan kulit batang A. sericicarpus telah dilaporkan menunjukkan aktivitas antimalaria.
Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi sebanyak tiga senyawa baru yang termasuk dalam golongan senyawa dihidrokalkon yang pertama kali dilaporkan dari daun A. sericicarpus yaitu Artoserichalcone A, Artoserichalcone B dan Artoserichalcone C. Aktivitas antimalaria dari ketiga senyawa ini dilakukan melalui pengujian secara in vitro cell-based assay terhadap Plasmodium falciparum dengan menggunakan enzim Laktat Dehidrogenase (LDH). Uji sitotoksisitas juga telah dilakukan pada beberapa sel yaitu sel Huh7, HepG2, BHK-21, dan Vero dengan uji Resazurin untuk mengetahui keamanan senyawa sebagai agen antimalaria. Hasil uji menunjukkan bahwa ketiga senyawa ini memiliki aktivitas antimalaria pada terhadap Plasmodium falciparum dan juga tidak toksik sebagai agen antimalaria terhadap sel Huh7, HepG2, BHK-21, dan Vero pada pengujian secara in vitro.
Penemuan senyawa baru ini dapat berkontribusi dalam menambah informasi baru mengenai kandungan senyawa tanaman A. sericicarpus dan menambah data fitokimia tanaman terutama Artocarpus. Aktivitas antimalaria senyawa dihidrokalkon dari A. sericicarpus juga belum pernah dilaporkan sehingga hasil penelitian ini dapat berkontribusi menambah informasi baru yaitu tiga senyawa dihidrokalkon dari daun A. sericicarpus dengan aktivitasnya sebagai antimalaria dan juga kemungkinan senyawa tersebut dapat menjadi senyawa penuntun (lead compounds) untuk pengembangan obat malaria.
Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat pada tulisan kami di:





