UNAIR NEWS “ Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menunjukkan tren positif, terutama dalam kebiasaan mengonsumsi vitamin dan suplemen harian. Namun, banyak masyarakat yang masih terjebak dalam pemahaman keliru bahwa semakin besar mengkonsumsi dosis vitamin, maka semakin baik pula manfaatnya bagi tubuh.
Menanggapi fenomena tersebut, Dokter Spesialis Gizi Klinik UNAIR), dr Kurnia Sitompul Sp GK, menekankan pentingnya memahami batasan dan aturan main dalam mengonsumsi nutrisi mikro agar tidak menjadi bumerang bagi kesehatan. Ketidaktahuan akan dosis dan waktu konsumsi justru berisiko menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan.
Bedakan Vitamin Alami dan Suplemen Tambahan
Banyak orang sering kali menyamakan istilah vitamin dan suplemen. Dr Kurnia menjelaskan bahwa vitamin pada dasarnya adalah nutrisi mikro yang tubuh buthkan setiap hari dan tersedia secara alami dari makanan yang kita konsumsi, seperti karbohidrat, protein, dan lemak.
“Suplemen itu berbeda. Suplemen adalah sesuatu yang kita konsumsi dari luar untuk melengkapi asupan nutrisi. Isinya bisa berupa vitamin, mineral, atau nutrien spesifik lainnya seperti temulawak (kurkuma),” jelas dr Kurnia. Ia menegaskan bahwa suplemen bersifat tambahan jika makanan harian belum mampu mencukupi kebutuhan tubuh.
Dr Kurnia mengingatkan bahwa kebutuhan vitamin setiap orang bersifat sangat personal (personalized). Faktor usia, jenis kelamin, kondisi medis, hingga perbedaan genetik sangat menentukan berapa dosis yang seseorang butuhkan. Pengabaian terhadap dosis aman dapat memicu efek samping yang serius dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, dr Kurnia menyebutkan batas aman tertinggi vitamin C berada di kisaran 1800“2000 mg, sedangkan vitamin D sebaiknya tidak melebihi 10.000 IU. “Jika kelebihan vitamin D dikonsumsi dalam waktu lama, bisa terjadi penumpukan kalsium di dalam tubuh. Begitu juga vitamin E, dosis besar jangka panjang bisa berhubungan dengan pengenceran darah,” tambahnya.
Interaksi Nutrisi: Menjawab Pertanyaan Masyarakat
Dalam diskusi tersebut, seorang warga bernama Christopher Tulus menanyakan perihal kebiasaan mengonsumsi minyak ikan (Omega-3) setelah sarapan serta kekhawatiran mengenai konsumsi kopi atau susu setelahnya.
Menanggapi hal tersebut, dr Kurnia menjelaskan bahwa minyak ikan merupakan lemak yang justru penyerapannya akan lebih optimal jika mengkonsumsinya bersama vitamin larut lemak seperti vitamin D. Terkait kopi dan susu, dr Kurnia memberikan catatan khusus.
“Sebenarnya tidak ada masalah langsung antara minyak ikan dengan kopi atau susu. Namun, beberapa jenis mineral di dalam susu penyerapannya bisa tidak optimal jika berbarengan dengan kafein dalam kopi. Secara umum, minyak ikan tetap aman dikonsumsi setelah sarapan,” papar dr Kurnia.
Aturan Waktu Konsumsi dan Tips Memilih Produk
Waktu konsumsi menjadi kunci efektivitas penyerapan nutrisi. Dr Kurnia memberikan panduan praktis: vitamin larut lemak (A, D, E, K) sebaiknya dikonsumsi setelah makan besar. Sementara konsumsi vitamin larut air (B dan C) bisa saat perut kosong, kecuali jika muncul keluhan pada saluran cerna.
“Khusus vitamin B, sebaiknya dikonsumsi di pagi hari karena berhubungan dengan metabolisme energi. Jika diminum malam hari, energinya bisa berlebih dan mengganggu kualitas tidur,” tutur dr Kurnia.
Dalam memilih produk, beliau mengimbau masyarakat untuk cermat membaca label Angka Kecukupan Gizi (AKG). Jika label menunjukkan 100%, maka dosis tersebut sudah mencukupi kebutuhan harian. Hindari dosis ekstrem misal 500%“1000% tanpa saran medis, pastikan produk terdaftar di BPOM, serta perhatikan kandungan tambahan bagi mereka yang memiliki intoleransi gluten atau laktosa.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





