Kepulauan adalah permata dunia, dan pariwisata adalah mesin penggerak ekonominya. Namun, pertumbuhan pariwisata yang pesat, terutama di destinasi seperti. Gili Trawangan, Indonesia, kini berhadapan dengan ancaman lingkungan yang sunyi namun mematikan: mikroplastik (MPs). Didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, MPs adalah warisan buruk dari sampah plastik sekali pakai yang terurai dan kini menyusup ke seluruh ekosistem laut.
Sebuah studi ilmiah komprehensif di Gili Trawangan telah secara eksplisit mengaitkan aktivitas pariwisata dengan kontaminasi MPs. Penelitian ini mengadopsi pendekatan multi-kompartemen, menganalisis sampel dari tiga media lingkungan”air pantai, sedimen, dan ikan”di tiga zona yang mewakili intensitas aktivitas manusia yang berbeda: Pelabuhan, Pantai Rekreasi, dan Area Hutan Bakau (Mangrove).
Hotspot Kontaminasi: Pelabuhan dan Pantai Rekreasi
Hasil penelitian menunjukkan pola distribusi MPs yang jelas, mencerminkan adanya perbedaan sumber sampah dari aktivitas manusia di setiap lokasi.
1. Air Pantai: Pantai Rekreasi Mendominasi
Konsentrasi MPs tertinggi dalam sampel
air pantai ditemukan di Pantai Rekreasi, mencapai 19,25 partikel per Liter (partikel/L). Angka ini melampaui area Pelabuhan (16,25 partikel/L). Tingginya kadar MPs di zona rekreasi ini konsisten dengan fakta di daerah pariwisata intensif lainnya, di mana kurangnya pengelolaan sampah plastik sekali pakai”seperti botol, kemasan makanan, dan sedotan”secara signifikan berkontribusi pada fragmentasi menjadi MPs yang mudah tersuspensi dalam air.
2. Sedimen dan Biota: Pelabuhan Jadi Gudang Utama
Berbeda dengan air, konsentrasi MPs tertinggi dalam sampel
sedimen tercatat di area Pelabuhan, mencapai 23,15 partikel per kilogram (partikel/kg) berat kering. Konsentrasi yang tinggi ini menyoroti peran Pelabuhan sebagai zona penumpukan dari aktivitas pelayaran dan perkapalan, di mana proses hidrodinamika air laut memfasilitasi pengendapan partikel plastik di dasar laut.
Lebih lanjut, temuan yang paling mengkhawatirkan adalah pada
ikan (biota) yang diambil dari dekat Pelabuhan, menunjukkan beban MPs tertinggi sebesar 17,5 partikel per individu. Tingginya beban MPs pada ikan di zona padat lalu lintas ini meningkatkan risiko
bioakumulasi”penumpukan partikel dalam organisme”dan berpotensi meningkatkan transfer ke tingkat trofik yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mengancam kesehatan manusia melalui konsumsi makanan laut yang terkontaminasi.
Mangrove: Filter Alami yang Tetap Terkontaminasi
Area
Hutan Bakau (Mangrove) secara konsisten menunjukkan tingkat MPs yang jauh lebih rendah di semua kompartemen (air: 5,89 partikel/L; sedimen: 3,00 partikel/kg). Hal ini menggarisbawahi fungsi penting ekosistem mangrove sebagai
penyaring alami. Sistem akar bakau yang rumit secara efektif memerangkap dan menahan partikel, membatasi penyebaran MPs ke laut lepas.
Meskipun demikian, MPs tetap terdeteksi pada ikan di area mangrove, dengan rata-rata
9,25 partikel per individu. Kehadiran MPs dalam biota di zona yang relatif bersih ini mengindikasikan bahwa kontaminan ini tetap gigih dalam rantai makanan, bahkan di lingkungan yang berfungsi sebagai “penjaga” ekologis.
Bentuk dan Jenis Plastik yang Mendominasi
Analisis karakteristik MPs menggunakan spektroskopi FTIR (Fourier-Transform Infrared Spectroscopy) mengungkapkan bentuk dan jenis polimer yang mendominasi.
- Bentuk Dominan: Fragmen (pecahan dari plastik yang lebih besar) dan Serat (sering berasal dari tekstil sintetis atau tali temali kapal).
- Polimer Dominan: PS (Polystyrene), PE (Polyethylene), dan LDPE (Low-Density Polyethylene). Jenis-jenis ini adalah plastik yang paling umum digunakan dalam kemasan sekali pakai dan barang-barang konsumsi.
- Warna Dominan: Hitam, biru, dan merah, mencerminkan warna umum pada jaring ikan, kemasan, dan perlengkapan rekreasi.
Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Temuan ini memberikan bukti ilmiah yang jelas: tidak ada kompartemen lingkungan di Gili Trawangan yang terbebas dari ancaman MPs. Distribusi MPs yang tidak merata menunjukkan bahwa upaya mitigasi harus disesuaikan dengan sumber polusi spesifik di setiap zona.
Studi ini mendesak semua pemangku kepentingan, dari pemerintah daerah hingga pelaku industri pariwisata dan wisatawan, untuk segera mengambil tindakan. Intervensi yang terarah sangat diperlukan, meliputi:
- Peningkatan Pengelolaan Sampah: Menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ketat, terutama di Pantai Rekreasi dan Pelabuhan.
- Regulasi dan Larangan Plastik: Menerapkan kebijakan larangan plastik sekali pakai yang lebih tegas dan meningkatkan penegakan peraturan limbah maritim.
- Edukasi Publik: Mengedukasi wisatawan dan penduduk lokal tentang bahaya MPs dan mempromosikan konsumsi plastik yang berkelanjutan.
- Perlindungan Ekosistem Bakau: Melindungi area mangrove sebagai sistem penyaring alami yang vital bagi ekosistem pesisir.
Dengan menyeimbangkan pembangunan sosial-ekonomi pariwisata dengan kelestarian lingkungan, Gili Trawangan dapat berupaya menyelamatkan keindahan lautnya dan menjaga ekosistem pesisir yang rapuh dari krisis mikroplastik.
Penulis: Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D
Link:





