51

51 Official Website

Menakar Risiko, Menjaga Diri: Belajar dari Alat Tes Risiko COVID-19 yang Dikembangkan Ilmuwan Dunia

Ilustrasi nakes melakukan swab test Covid-19
Ilustrasi nakes melakukan swab test Covid-19 (Foto: Halodoc)

Pandemi COVID-19 adalah peristiwa yang meninggalkan jejak mendalam pada kehidupan kita. Hampir setiap orang merasakannyadari kesehatan, pekerjaan, pendidikan, hingga cara sederhana seperti berjabat tangan atau berkumpul dengan keluarga. Virus ini menyebar cepat, sementara dunia pada awalnya tidak memiliki vaksin maupun obat yang siap pakai. Yang tersisa hanyalah satu benteng utama: perubahan perilaku sehari-hari.

Pada konteks ini, muncul pertanyaan penting: Apakah perilaku saya sudah cukup aman? Seberapa besar risiko saya tertular setiap kali keluar rumah? Untuk menjawab keresahan inilah, lahir sebuah inovasi global bernama Your COVID-19 Risk.

Alat ini dikembangkan pada tahun 2020 oleh lebih dari 150 ilmuwan dari berbagai negarapsikolog, dokter, ahli perilaku, hingga pakar kesehatan masyarakattermasuk dari Indonesia. Mereka bekerja lintas disiplin dan lintas batas negara dengan satu tujuan: membantu masyarakat memahami risiko pribadinya sekaligus memberi panduan sederhana agar bisa lebih terlindungi.


Perilaku: Kunci dalam Menahan Laju Pandemi

Penyebaran COVID-19 terkait erat dengan pola perilaku manusia. Seseorang yang enggan menjaga jarak atau malas mencuci tangan bisa menjadi mata rantai penyebaran baru. Sebaliknya, kebiasaan sederhanaseperti memakai masker, rajin cuci tangan, dan menghindari kerumunanterbukti mampu menekan penyebaran virus.

Karena itulah, memahami risiko perilaku menjadi sama pentingnya dengan mengetahui angka kasus harian. Your COVID-19 Risk dirancang untuk memberikan gambaran personal kepada setiap orang: apa saja kebiasaan yang membuatnya lebih rentan, dan langkah kecil apa yang bisa segera dilakukan untuk mengurangi risiko.


Cara Kerja yang Sederhana, Pesan yang Mengena

Alat ini berbentuk survei daring dengan sepuluh pertanyaan singkat. Isinya seputar rutinitas harian:

  • Apakah Anda bekerja dari rumah atau sering bertemu banyak orang?
  • Seberapa sering Anda keluar untuk belanja, olahraga, atau mengunjungi keluarga?
  • Apakah Anda menjaga jarak 1,5 meter di tempat umum?
  • Apakah Anda mencuci tangan setelah menyentuh permukaan yang dipakai bersama?

Jawaban dari pertanyaan ini kemudian diolah menjadi estimasi risiko pribadi. Hasilnya ditampilkan secara visual, dilengkapi dengan pesan singkat yang dipersonalisasi. Misalnya, seseorang yang jarang mencuci tangan akan mendapat pengingat tentang pentingnya kebiasaan tersebut, berikut cara sederhana melakukannya dengan benar.

Pesan ini tidak bersifat menggurui, melainkan memotivasi. Intinya, setiap orang diberi cermin untuk menilai diri, sekaligus kompas kecil yang menunjukkan arah perubahan perilaku.


Ratusan Ribu Orang Ikut Mengukur Risiko

Sejak diluncurkan, alat ini digunakan oleh lebih dari 100 ribu orang dari 166 negara. Hasilnya cukup menarik:

  • 60% pengguna mengaku hampir selalu menjaga jarak di tempat umum.
  • 83% rutin mencuci tangan setelah menyentuh permukaan umum.
  • 85% bersedia mengisolasi diri bila mengalami gejala COVID-19.

Di Indonesia, tercatat sekitar 440 orang ikut mencoba. Meski tidak sebanyak di negara-negara Eropa, data ini tetap memberi gambaran awal mengenai kesadaran masyarakat kita terhadap protokol kesehatan.

Lebih jauh, data yang terkumpul memberi masukan berharga bagi pemerintah dan lembaga kesehatan. Dengan memahami pola perilaku masyarakat, mereka bisa merancang kampanye kesehatan yang lebih tepat sasaran.


Kekuatan Kolaborasi Global

Salah satu hal paling menginspirasi dari proyek ini adalah pelibatan kolaborasi lintas negara. Lebih dari 150 ahli dari berbagai disiplin ilmu dari berbagai negara di belahan dunia bekerja secara sukarela dan hanya dalam waktu 10 minggu berhasil meluncurkan alat yang bisa diakses publik.

Tidak kalah penting, semua materi, kode, dan data proyek ini dibuka untuk umum (open access). Artinya, siapa pun bisa mengadaptasi dan mengembangkan alat ini sesuai konteks lokal. Riset ini bagian dari contoh nyata bagaimana sains seharusnya bekerja: terbuka, inklusif, dan memberi manfaat yang berdampak langsung bagi masyarakat.


Pelajaran untuk Kita Semua

Dari pengalaman ini, ada sejumlah pelajaran penting:

  1. Kesadaran perilaku lebih berharga daripada sekadar angka kasus.
    Data kasus memang penting, tetapi kebiasaan harian kitalah yang benar-benar menentukan laju penyebaran.
  2. Perubahan kecil berdampak besar.
    Mencuci tangan selama 20 detik atau menjaga jarak 1,5 meter mungkin terlihat sepele, namun terbukti menyelamatkan banyak nyawa.
  3. Solidaritas global bisa menyelamatkan dunia.
    Alat ini lahir karena kolaborasi lintas batas. Pandemi menunjukkan bahwa masalah global hanya bisa dihadapi dengan kebersamaan.
  4. Kesiapan menghadapi pandemi berikutnya.
    COVID-19 mungkin mereda, tetapi ancaman lain bisa muncul di masa depan. Alat ini bisa menjadi cetak biru bagaimana teknologi, data, dan ilmu perilaku bekerja bersama untuk melindungi masyarakat.

Menghargai Sains, Menghargai Hidup

Your COVID-19 Risk mengingatkan kita bahwa sains bukan sekadar teori di jurnal, tetapi bisa hadir dalam bentuk sederhana yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Hanya dengan sepuluh pertanyaan, kita bisa menakar risiko pribadi dan sekaligus mendapat motivasi untuk berubah.

Di masa pandemi, setiap perilaku kita berkontribusi: mempercepat penyebaran, atau justru menghentikannya. Disiplin kecil yang dilakukan jutaan orang terbukti bisa menghasilkan dampak besar.

Ke depan, mari kita terus mendukung inovasi berbasis sains, menjaga perilaku sehat, dan belajar dari pengalaman agar lebih siap menghadapi tantangan kesehatan global berikutnya. Pada akhirnya, melindungi diri berarti juga melindungi orang lain.

Oleh: Triana Kesuma Dewi


📌 Artikel ini ditulis berdasarkan publikasi ilmiah Collecting behavioural data across countries during pandemics: Development of the COVID-19 Risk Assessment Tool (Behavior Research Methods, 2025).

Link:

AKSES CEPAT