Home industry marmer Tulungagung merupakan usaha perseorangan yang bergerak di bidang industri kerajinan batu marmer. Kegiatan atau bagian pekerjaan yang dilakukan adalah memotong bongkahan batu marmer hingga ukuran yang diperlukan untuk dibentuk barang yang akan dibuat. Proses pengolahan batu marmer hingga menjadi produk yang dapat dijual terdiri menjadi beberapa bagian yaitu proses pemotongan, penghalusan, pengeringan, pendempulan, pemanasan, pemolesan, dan pengeringan. Pada beberapa proses tersebut terdapat proses yang menghasilkan cemaran udara berupa debu antara lain proses pemotongan, penghalusan, dan pemolesan. Debu yang dihasilkan dari proses tersebut dapat masuk ke dalam saluran pernapasan pekerja, karena seluruh proses produksi masih dilakukan oleh manusia. Pekerja seringkali terpapar debu di lingkungan kerja sehingga dapat mempengaruhi kesehatan faal paru pekerja dan debu marmer mempnuyai kandungan silika yang dapat menyebabkan terjadinya silikosis.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan masa kerja, kadar debu pernafasan dan gangguan fungsi paru pada pekerja industri rumahan marmer di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan data yang diperoleh dari teknik cross-sectional. Populasi penelitian terdiri atas 18 pekerja yang diambil sebagai responden. Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi masa kerja dan tingkat debu terhirup, sedangkan variabel terikatnya adalah gangguan fungsi paru yang dialami pekerja. Analisis data menggunakan uji Correlation Contingency. Terdapat hubungan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru sebesar 0,196 yang mengindikasikan lemahnya tingkat hubungan antar variabel. Kuatnya hubungan antara kadar debu pernafasan dengan gangguan fungsi paru tidak dapat diperoleh karena hasil konstanta memenuhi nilai ambang batas. Tingkat hubungan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru lemah dan tidak dapat diperoleh hubungan antara kadar debu pernafasan dengan gangguan fungsi paru.
Hasil penelitian ini menunjukkan18 responden terdapat 16,7% responden mengalami gangguan faal paru berupa restriktif ringan dan sedang. Responden yang mengalami gangguan faal paru adalah responden yang bekerja di bagian operator kerajinan, finishing, dan packing yang memiliki konsentrasi debu tinggi. Paparan debu terus menerus dan dalam konsentrasi yang tinggi memungkinkan jumlah debu marmer yang terdeposit pada saluran pernapasan. Setelah dilakukan pengukuran paparan debu respirabel pada pekerja home indutsry marmer Tulungagung menunjukkan hasil tabulasi silang bahwa paparan debu respirabel <3 mg/m3 lebih tinggi persentase responden yang mengalami gangguan faal paru, yang artinya paparan debu respirabel di bawah nilai ambang batas memiliki risiko tinggi untuk pekerja mengalami gangguan faal paru. Walaupun hasil penelitian menunjukkan paparan debu respirabel berada di bawah nilai ambang batas, tetapi hal ini perlu diperhatikan karena debu respirabel yang terhirup setiap hari akan terdeposit di dalam paru.
Sosialisasi risiko bahaya debu marmer yang dapat menyebabkan silicosis kepada pemilik usaha dan pekerja agar dapat menyediakan APD makser yang dapat mencegah masuknya partiker debu silika serta menjaga hygiene individu serta lingkungan kerja agar kesehatan pekerja terlindungi dan meningkatkan produktivitas kerja.
Penulis: Dr. Noeroel Widajati, S.KM, M.Sc
Jurnal:





