51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Penggunaan High-Sensitivity Troponin-T (HsTnT) sebagai Penunjang Deteksi Kardiotoksisitas Kemoterapi Doxorubicin

Foto by Hello Sehat

Limfoma non-Hodgkin (LNH) merupakan penyakit yang disebabkan oleh proliferasi tidak terkendali dari sel-sel limfosit pada sistem peredaran getah bening manusia. Penyakit ini menduduki peringkat ke-7 sebagai penyakit kanker atau keganasan dengan insidensi tersering di Indonesia. Tercatat sekitar 16.125 kasus LNH baru yang dilaporkan serta diikuti oleh 9.024 kematian oleh karena LNH pada tahun 2020 di seluruh Indonesia (GLOBOCAN, 2020).  Kasus LNH juga diproyeksikan dapat meningkat pada masa mendatang. Dengan berkembangnya modalitas diagnostik, serta modalitas terapi diikuti dengan modalitas monitoring diharapkan di masa mendatang tatalaksana LNH dapat semakin efektif dan efisien.

Seperti berbagai jenis kanker, keefektifan tatalaksana LNH juga sangat bergantung pada stadium diagnosis limfoma, kecepatan serta ketepatan terapi, diikuti juga dengan monitoring paska terapi untuk mendeteksi serta mengontrol keadaan tubuh pasien secara holistik. Kemoterapi merupakan terapi lini-pertama serta utama pada LNH yang dapat dikombinasi dengan pembedahan, radioterapi, ataupun imunoterapi. Disamping manfaat yang diperoleh dari terapi yang dapat diberikan, juga dapat terjadi efek samping yang perlu mendapat perhatian khusus.

Regimen kombinasi kemoterapi lini pertama untuk NHL yaitu CHOP kemoterapi yang merupakan kemoterapi kombinasi antara empat obat yaitu cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, and prednisone. Secara spesifik komponen doxorubicin pada kemoterapi kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping berupa kardiotoksisitas. Kardiotoksisitas merupakan terjadinya disfungsi fisiologi kelistrikan jantung ataupun kerusakan otot jantung. Kardiotoksisitas dapat mengakibatkan melemahnya jantung karena penurunan efisiensi kemampuan pompa jantung yang akhirnya dapat mengganggu sistem peredaran darah pada tubuh manusia.

Deteksi kejadian kardiotoksisitas dapat dideteksi dengan melakukan pengukuran Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri (FEVK) yang mencerminkan kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh melalui vetrikel kiri melalui aorta hingga ke seluruh tubuh. Pengukuran FEVK dilakukan melalui pemeriksaan echocardiography atau ultrasonografi (USG) jantung. Pengukuran fungsi jantung berdasarkan parameter FEVK memberikan gambaran keadaan jantung dalam aspek fungsional sebagai pompa darah.

Berdasarkan aspek ini tim peneliti dari departemen penyakit dalam RSUD Dr. Soetomo Surabaya bekerja sama dengan departemen kardiologi-kedokteran vaskuler mencoba untuk meneliti kardiotoksisitas berdasarkan aspek seluler atau jaringan otot jantung. Kerusakan otot jantung dapat dideteksi dalam darah dengan mendeteksi penanda khusus spesifik sel otot jantung yang dilepaskan jika terjadi kerusakan seluler atau jaringan otot jantung. High-Sensitivity Troponin-T (HsTnT) merupakan parameter spesifik dan sensitif yang dapat digunakan dalam menilai kerusakan sel atau jaringan otot jantung yang terjadi pada pasien.

Penelitian dilakukan pada pasien LNH RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang menerima kemoterapi CHOP. Penilaian kardiotoksisitas dilakukan dengan aspek fungsional dengan mengukur FEVK serta HsTnT sebagai parameter deteksi kerusakan jaringan atau seluler sebelum dan sesudah 4 siklus kemoterapi CHOP.

Didapatkan hasil deteksi terjadi penurunan FEVK secara signifikan serta peningkatan HsTnT secara signifikan. Namun, pada sisi FEVK tidak dideteksi kejadian kardiotoksisitas berupa terjadinya gejala gagal jantung, penurunan FEVK >20%, ataupun penurunan FEVK >10% dengan total FEVK >50% (ESMO). Di sisi lain pada aspek HsTnT ditemukan kejadian myocardial injury (MI) yang ditandai dengan HsTnT >14pg/ml. Analisis korelasi menunjukkan jika tidak terdapat korelasi antara HsTnT dan nilai LVEF.

Berdasarkan data yang di dapatkan dapat disimpulkan bahwa kejadian kardiotoksisitas dapat dinilai dari aspek yang lebih luas baik secara fungisonal maupun seluler atau jaringan dan tidak adanya korelasi menunjukkan jika tidak dapat saling menggantikan namun saling melengkapi. Sehingga deteksi dengan menggunakan dua aspek diharapkan dapat memberikan informasi terkait kejadian kardiotoksisitas secara lebih sensitif. Berdasarkan penelitian ini dapat direkomendasikan terkait perlunya kajian deteksi kardiotoksisitas multiaspek dalam monitoring kardiotoksisitas pada pasien LNH yang menerima kemoterapi doxorubicin. Sehingga diharapkan dapat mendeteksi kardiotoksisitas secara dini dan mencegah efek samping yang terjadi.

Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih luas, termasuk penelitian pada kombinasi kemoterapi berbeda dan jenis keganasan yang berbeda masih perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi serta membuat hasil penelitian semakin obyektif di masa mendatang.

Prof. Dr. Ami Ashariati, dr., Sp-PD-KHOM, FINASIM

Penelitian ini telah dipublikasi pada jurnal ilmiah Advanced Pharmaceutical Bulletin yang dapat diakses melalui

AKSES CEPAT