Spondiloartritis (SpA) adalah sekelompok penyakit peradangan kronis yang mempengaruhi tulang belakang dan sendi yang terkait. Beberapa jenis SpA meliputi arthritis psoriatik, artritis reaktif, dan ankylosing spondylitis. SpA dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada tulang belakang, menyebabkan nyeri, kekakuan, dan gangguan gerakan. Kondisi ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat dan hilangnya fungsi secara permanen. Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan pengobatan dan perawatan serta mengelola gejala dan mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita SpA.
Peran protein dickkopf-1 (DKK-1) dalam perkembangan radiografik dapat menjadi penanda yang kuat untuk diagnosis dini penyakit SpA. Namun protein ini masih sangat jarang diteliti terutama keterkaitannya dengan SpA. Penelitian ini dapat menjadi studi awal untuk menghasilkan alat yang kuat dalam mengurangi dampak fatal pada SpA akibat keterlambatan diagnosis. Dalam SpA, protein DKK-1 dapat mempengaruhi perkembangan penyakit. Protein ini berperan dalam mengatur jalur sinyal Wnt, yang terlibat dalam proses pembentukan dan pertumbuhan tulang. Ketika kadar DKK-1 tinggi, jalur sinyal Wnt menjadi terhambat yang mengakibatkan penurunan pembentukan tulang baru dan peningkatan kerusakan tulang pada SpA.
Penelitian dengan desain potong-lintang ini melibatkan pasien SpA dari RSUD Dr. Soetomo yang memenuhi kriteria ASAS 2010. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik umum pasien, durasi penyakit, aktivitas penyakit menggunakan ASDAS-CRP dan ASDAS-ESR, kadar serum DKK-1, dan BMD. Pasien diklasifikasikan sebagai pasien dengan SpA awal jika durasi penyakit ≤5 tahun dan pasien dengan SpA jangka panjang jika durasi penyakit >5 tahun, sedangkan rendahnya BMD ditandai dengan skor Z ≤-2,00.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein DKK-1 pada serum pasien dengan SpA awal (7365 ± 2067 pg/dL) secara signifikan lebih tinggi daripada pada SpA jangka panjang (5360 ± 1054 pg/dL). Tingkat serum DKK-1 juga berkaitan dengan durasi penyakit (r = -0.370, p = 0,040) dan BMD pada pinggul total (r = 0.467, 0,028). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa DKK-1 dapat menjadi penanda diagnostik potensial untuk SpA awal. Diagnosis dini dapat mengarah pada pengobatan yang lebih cepat untuk menunda perburukan penyakit dan mencegah kecacatan di masa depan. Walaupun memiliki kadar protein DKK-1 yang tinggi, pasien dengan SpA awal memiliki tingkat aktivitas penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien SpA yang sudah lama mengalami kondisi tersebut, seperti ditunjukkan oleh nilai ASDAS-ESR dan ASDAS-CRP yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan potensi DKK-1 sebagai marker diagnostik yang kuat untuk SpA awal yang seringkali tidak terdeteksi akibat belum munculnya aktivitas penyakit yang signifikan.
Meskipun memiliki hasil yang signifikan, penelitian ini memiliki keterbatasan, yang paling utama adalah jumlah pasien yang sedikit dan cakupan yang terbatas hanya pada satu rumah sakit. Jumlah pasien yang sedikit ini salah satunya disebabkan oleh kesadaran pasien SpA untuk melakukan pemeriksaan rutin sehingga membuat kami kehilangan kontak dengan beberapa pasien, dan pengumpulan data tindak lanjut menjadi cukup sulit. Selain itu, kekurangan lainnya adalah studi desain potong lintang menyebabkan peneliti tidak dapat membuat kesimpulan sebab-akibat yang pasti tentang hubungan antara tingkat DKK-1 dan durasi penyakit. Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang potensi DKK-1 sebagai penanda pada SpA awal, penelitian masa depan sebaiknya melibatkan jumlah partisipan yang lebih banyak, termasuk mereka yang menerima perawatan yang berbeda. Selain itu, studi kohort khusus di Indonesia dapat menyelidiki perkembangan tingkat DKK-1 pada pasien SpA dan peran keseluruhan mereka dalam penyakit ini. Meskipun ada keterbatasan-keterbatasan ini, temuan dari penelitian ini memberikan dasar bagi penelitian selanjutnya tentang potensi DKK-1 sebagai penanda dan target pengobatan pada SpA awal.
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kadar protein DKK-1 dalam serum darah yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan durasi penyakit pada pasien dengan SpA awal, dan tingkat DKK-1 dalam darah juga ditemukan berkorelasi dengan durasi penyakitDiagnosis dini dapat membantu penanganan yang cepat dan tepat untuk menunda perkembangan penyakit dan mencegah kerusakan di masa depan. Meskipun penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi peran DKK-1 sebagai penanda diagnostik atau target pengobatan pada SpA awal, peneliti menyadari perlunya penelitian dengan skala yang lebih besar untuk mengonfirmasi dan memperkuat potensi ini.
Penulis : Dr. dr. Yuliasih, SpPD-KR
Laman : https://www.hindawi.com/journals/ad/2023/5543234/
Judul : The Increasing Level of DKK-1 as a New Bone Formation Factor in Patients with Early Spondiloartritis
DOI : https://doi.org/10.1155/2023/5543234





