Demensia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan daya ingat dan cara berpikir seseorang. Biasa juga disebut dengan pikun (pelupa), demensia banyak diderita oleh pasien lansia berusia 65 tahun keatas. Kondisi menurunnya daya ingat ini berdampak pada gaya hidup, aktivitas sehari-hari dan kemampuan bersosialisasi penderita demensia. Demensia juga menyumbang biaya perawatan kesehatan yang tidak sedikit. Emady dkk (2022) menyatakan biaya kesehatan penderita demensia lebih tinggi US$ 20.000 per tahun dibandingkan penderita non-demensia.
Penderita demensia juga rentan mengalami permasalahan terkait obat (drug related problems atau DRP). Secara umum DRP terbagi atas tujuh kategori: 1) pasien membutuhkan terapi obat tambahan, 2) pasien mendapatkan terapi obat yang tidak diperlukan, 3) terapi obat yang tidak efektif, 4) dosis obat terlampau sedikit, 5) dosis obat terlampau besar, 6) pasien mengalami efek samping obat dan 7) ketidakpatuhan pasien. DRP pada pasien demensia dapat terjadi karena polifarmasi (penggunaan 5 obat atau lebih pada satu waktu), pengobatan yang tidak tepat, adanya komorbiditas, penurunan kondisi fisik, kognitif dan psikologis pasien.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51¶¯Âþ bekerjasama dengan peneliti dari Universiti Brunei Darussalam, Sunway University Malaysia, Universiti Teknologi MARA Malaysia dan KPJ Healthcare College Malaysia melakukan telaah sistematis (systematic review) pada artikel Ilmiah yang terbit di beberapa database internasional hingga Agustus 2022. Artikel tersebut kemudian diekstrak, dipilih dan dianalisis dengan metode yang sesuai sehingga didapatkan 15 artikel terpilih untuk ditelaah.
Hasil telaah menunjukkan bahwa prevalensi kejadian DRP pada pasien demensia berkisar antara 9-83%. Sekurang-kurangnya 23% pasien mengalami satu kategori DRP. Prevalensi DRP akibat proses pengobatan yang tidak tepat (Potentially Inappropriate Medications atau PIM) “ baik itu pemilihan obat atau penggunaan obat “ mencapai 27%. Termasuk diantara kejadian PIM adalah peresepan yang tidak sesuai, dosis obat terlampau besar dan obat yang justru dikontraindikasikan untuk pasien. Penggunaan obat psikotropika, antihipertensi, antihistamin dan antitrombolitik cenderung menyebabkan DRP pada pasien demensia. Usia tua dan polifarmasi menjadi kontributor seringnya pasien demensia mengalami DRP.
Peneliti menyimpulkan bahwa kejadian DRP pada penderita demensia cukup tinggi. Hal ini menyebabkan penderita demensia rentan untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan penderita non-demensia. Meskipun demikian peneliti menyebutkan beberapa keterbatasan penelitian seperti artikel hanya berasal dari data penelitian di 8 negara sehingga relevansi topik ini pada skala yang lebih luas perlu menjadi pertimbangan.
Penulis: Andi Hermansyah
Jurnal:





