Sapi Madura merupakan plasma nutfah sapi potong asli Indonesia. Peternak memelihara sapi Madura untuk tabungan, pendapatan tambahan, produksi pupuk kandang, status sosial, dan nilai budaya. Sesuai dengan namanya, sapi Madura telah diternakkan selama berabad-abad oleh masyarakat Pulau Madura. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, peternak lebih memilih untuk mengawinkan sapi Madura betina milik mereka dengan teknik inseminasi buatan menggunakan semen beku sapi Eropa, seperti sapi Simental dan Limosin. Permintaan inseminasi buatan menggunakan semen beku sapi Simental dan Limosin meningkat setiap tahun. Sapi Madura betina yang diinseminasi dengan semen beku sapi Simental menghasilkan sapi Metal, sedangkan Sapi Madura betina yang diinseminasi dengan semen beku sapi Limosin menghasilkan sapi Madrasin. Sapi potong persilangan tersebut memiliki produktivitas daging dan harga pasar yang lebih tinggi karena bobot tubuh saat lahir, pada usia sapih maupun saat siap dipotong lebih tinggi dibandingkan anak sapi Madura asli. Dengan demikian, persilangan sapi Madura betina dengan semen beku sapi Simental maupun sapi Limosin memiliki banyak manfaat ekonomi bagi peternak dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas dagung secara nasional. Namun persilangan antara breed sapi Eropa dengan sapi lokal yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat menimbulkan akibat yang merugikan yaitu dapat menyebabkan kepunahan ras sapi Madura.
Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan sapi Madura sebagai sapi lokal Indonesia yang harus dilindungi dari kepunahan. Pemerintah juga mengeluarkan standar mutu breed sapi Madura untuk meningkatkan kualitas genetik. Pulau Sapudi, sebuah pulau terpencil di Provinsi Jawa Timur, ditetapkan sebagai sentra pengembangan sapi Madura ras murni. Sapi jenis lain tidak diperbolehkan dipelihara di pulau Sapudi. Kualitas genetik sapi Madura harus ditingkatkan dengan teknik inseminasi buatan menggunakan pejantan unggul sapi Madura asli. Oleh karena itu, diperlukan seleksi untuk memperoleh pejantan sapi Madura dengan kinerja reproduksi unggul untuk mengoptimalkan efisiensi produksinya. Kesuburan sapi secara genetik berkorelasi dengan sifat-sifat pertambahan berat badan rata-rata harian, tingkat kebuntingan, dan interval melahirkan. Sifat-sifat tersebut diatur oleh faktor pertumbuhan. Faktor pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi adalah Nerve Growth Factor (NGF), yang mengendalikan pertumbuhan sel Leydig. Fungsi utama sel Leydig adalah menghasilkan testosteron. Testosteron memainkan peran penting dalam pembelahan sel germinal untuk membentuk spermatozoa, terutama selama meiosis. Sejauh yang kami ketahui, belum ada standar penanda molekuler yang ditetapkan sebagai prediktor seleksi fertilitas pada calon pejantan sapi Madura. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi NGF dalam serum sebagai prediktor fertilitas calon pejantan Madura berdasarkan konsentrasi hormone testosterone dalam serum, motilitas, viabilitas, dan konsentrasi spermatozoa pada semen segar sebagai parameter fertilitas.
Penilaian kualitas semen dilakukan di Laboratorium Dinas Peternakan Pamekasan, Madura. Sedangkan kadar NGF serum dan testosteron diukur menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) di Institute of Tropical Disease 51动漫. Protokol penelitian ini telah diperiksa dan disetujui oleh Animal Care and Use Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 dengan nomor referensi 792-KE. Para peneliti terdiri atas Dr. Rimayanti, drh., M.kes., Prof. Dr. Pudji Srianto, drh., M.Kes., Prof. Dr. Sri Pantja Madyawati, drh., M.Si., Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si., dan Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes. dari Divisi Reproduksi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫, serta Nurul Azizah, drh., M.Vet., dari Balai Penelitian Peternakan Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Ciawi, Bogor.
Penelitian ini menggunakan sebelas ekor calon pejantan sapi Madura untuk produksi semen beku. Sapi jantan dipelihara di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pamekasan, Madura. Sampel darah dikumpulkan menggunakan vacutainer dari vena Jugularis untuk menganalisis kadar NGF dan testosterone dalam serum. Sedangkan pengambilan semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan untuk penilaian motilitas, viabilitas, dan konsentrasi spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NGF memiliki korelasi yang bermakna dengan kadar testosteron, motilitas, viabilitas, dan konsentrasi spermatozoa. Demikian juga terdapat korelasi yang signifikan antara kadar testosteron, konsentrasi sperma, dan viabilitas sperma. Semen segar sapi harus memiliki motilitas spermatozoa sekurang-kurangnya 70% agar dapat diproses menjadi semen beku. Berdasarkan persentase minimum motilitas spermatozoa tersebut, maka kadar NGF minimum adalah 2,12 ng/mL, dengan nilai minimum viabilitas 78,63% dan konsentrasi spermatozoa lebih dari 1.462,177 juta/mL, serta kadar testosteron sekurang-kurangnya sebesar 25,67 ng/mL. Penelitian ini merupakan penelitian pertama di dunia yang mengidentifikasi NGF sebagai prediktor fertilitas jantan pada calon pejantan sapi Madura. Oleh karena itu, kadar NGF dapat digunakan sebagai penanda fertilitas jantan pada calon sapi jantan Madura.
Artikel ilmiah hasil penelitian ini sudah terbit pada Veterinary Medicine International, suatu jurnal bereputasi terindeks Scopus Q1, H-index=30, Skor SJR= 0.62 (pada Scimago Journal & Country Rank: . Artikel dapat di akses melalui tautan
Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes. (Co author)
Disarikan dari artikel:
Research article
Rimayanti Rimayanti, Nurul Azizah, Pudji Srianto, Sri Pantja Madyawati, Trilas Sardjito, and Imam Mustofa, ” Serum Nerve Growth Factor Levels as a Predictor of Bull Candidate Semen Quality of Madura Cattle”, Veterinary Medicine International, vol. 2022, Article ID 7128384, 8 pages, 2022.





