Spektrum plasenta akreta (PAS) merupakan suatu komplikasi kehamilan yang terjadi ketika plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim. Dalam penatalaksanaannya, kondisi ini masih menjadi salah satu tantangan pada bidang obstetri karena membutuhkan tim multi-disiplin untuk mencegah perdarahan masif selama operasi yang menyebabkan berbagai komplikasi dan bahkan kematian pada pasien. Terdapat peningkatan yang signifikan pada jumlah kasus plasenta akreta dan 1 dekade terakhir. Selama periode 2013“2020, tercatat adanya peningkatan jumlah kasus plasenta akreta di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, yakni mencapai 396 kasus. Peningkatan jumlah kasus yang cepat ini dilaporkan juga disertai dengan peningkatan kesakitan (morbiditas) akibat peningkatan pembuluh darah baru (neovaskularisasi) yang masif pada plasenta akreta. Literatur menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara faktor yang berpengaruh pada pembentukan pembuluh darah baru (faktor angiogenik dan anti-angiogenik pada plasenta akreta. yang berkontribusi terhadap terjadinya perdarahan.
PLGF (Faktor Pertumbuhan Plasenta) dan sFlt-1 merupakan faktor proangiogenik dan anti-angiogenik, yang sebelumnya banyak dilaporkan memiliki peran dalam pertumbuhan dan maturasi vaskuler plasenta selama proses neovaskularisasi pada plasenta akreta. Meskipun ketidakseimbangan faktor angiogenik dan anti-angiogenik yang terjadi ini merupakan suatu proses lokal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini juga dapat terjadi pada sirkulasi sistemik. Beberapa penelitian sebelumnya belum dapat membuktikan hal ini dikarenakan belum jelasnya mekanisme yang menyebabkan proses neovaskularisasi pada plasenta akreta.
Untuk mengetahui hubungan antara kadar PLGF dan sFlt-1 pada serum dan ekspresi jaringan plasenta, sebuah penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk lebih memahami peran lokal dan / atau sistemik dari PLGF dan sFlt-1 pada kasus plasenta akreta dengan grading FIGO yang berbeda. Hasil penelitian yang dilakukan selama lima bulan pada 20 pasien plasenta previa dan 40 pasien plasenta akreta ini menunjukkan adanya peningkatan ekspresi PLGF pada jaringan plasenta dan penurunan serum dan ekspresi sFlt-1 seiring dengan peningkatan grading. Hal tersebut menjelaskan bahwa profil proangiogenik memiliki kemungkinan terlibat dalam peningkatan proses neovaskularisasi yang masif pada plasenta akreta. Pada rahim, faktor angiogenik PLGF yang sebagian besar diproduksi plasenta ini nampak pada tempat implantasi oleh sel NK uterus dan sel trofoblas janin yang memiliki fungsi untuk mendukung proses pertumbuhan dan pematangan sistem pembuluh dalam plasenta.
Dalam penelitian ini, ekspresi PLGF dan sFlt-1 pada jaringan plasenta tidak berhubungan dengan kadar serum kedua biomarker tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menemukan tidak adanya perbedaan faktor angiogenik (PLGF) dan faktor anti-angiogenik (sFlt-1) antara plasenta previa dengan FIGO derajat I dan II, sedangkan perbedaan yang signifikan dijumpai pada FIGO derajat III. Temuan pada FIGO derajat III dalam studi ini mencerminkan proses neovaskularisasi yang sangat meningkat pada plasenta akreta FIGO derajat III yang menembus ke luar jaringan rahim. Sedangkan plasenta akreta derajat I, II, perlekatan plasenta masih terbatas di dalam rahim, hal ini mirip dengan gambaran pada plasenta previa.
Literatur yang ada belum bisa menunjukkan apakah status proangiogenik pada plasenta akreta hanya merupakan penanda proses patologis atau sebuah faktor penyebab. Peran sFlt-1 pada plasenta akreta juga masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang tidak konsisten, McMahon dan tim berpendapat bahwa sFLT-1 memiliki peran dalam regulasi invasi plasenta, dan mempunyai kemungkinan berhubungan antara ekspresi sFlt-1 dengan tingkat invasi plasenta. Sebaliknya, Biberoglu dkk. menemukan tidak adanya perbedaan rasio serum maternal sFlt-1, PLGF, dan VEGF antara plasenta previa dan spektrum plasenta akreta.
Penelitian ini menemukan bahwa tidak didapatkan adanya korelasi antara kadar serum dan ekspresi PLGF dan sFlt-1 pada jaringan plasenta. Hal ini menjawab pertanyaan bahwa ketidakseimbangan faktor angiogenik dan anti-angiogenik merupakan mekanisme lokal yang terjadi pada plasenta dan dinding Rahim dan tidak bersifat sitemik.
Penulis: Ernawati
Jurnal:





