UNAIR NEWS Surabaya, salah satu kota besar di Indonesia ini, memiliki masyarakat sangat beragam. Tak heran juga memiliki sejumlah cagar budaya. Keragaman cagar budaya inilah yang membawa Ajeng Widya Prakasita untuk melakukan penelitian tentang cagar budaya. 淏agi saya, Kota Surabaya sangat berarti. Saya pengin tahu bagaimana kota ini berkembang, ujar peraih IPK 3,86 ini. Berkat penelitian itu mengantarkannya meraih predikat wisudawan terbaik, Maret 2017 ini.
Perempuan yang pernah menyabet juara I Lomba Debat Bahasa Inggris se-Indonesia ketika masih di SMA ini, mengatakan di Surabaya berdiri 273 cagar budaya. Namun hanya lima bangunan yang dikelola. 淟ima bangunan itu baru dikembangkan dan dibuka untuk publik sekitar tahun 2015, kata penulis skripsi berjudul 淜ontruksi Identitas Surabaya Melalui Pengelolaan Bangunan Cagar Budaya.
Bila dulu Surabaya identik dengan Kota Pahlawan, kini kota berusia ke-724 tahun ini, dikenal lebih glamor dan pro-ekonomi. 淜alau ditarik ke belakang, Surabaya identik dengan kepahlawanan, namun tidak sinkron dengan sekarang. Saat ini lebih glamor dan pro ekonomi, tambahnya.
Ajeng mengaku, menyelesaikan skripsinya itu membutuhkan perjuangan yang berarti. Ia merasa kesulitan dalam mencari literatur yang sesuai dengan tema skripsinya. 淟iteraturnya sedikit, dari alumni juga demikian. Hanya satu dua orang saja, itu pun S-2 dan S-3, tambah Ajeng.
Selama menempuh studi, Ajeng pernah menjabat sebagai staf komunikasi eksternal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR tahun 2013. Ia juga pernah bergabung di Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik selama dua periode.
淪aya juga pernah mengikuti pertukaran mahasiswa dua kali ke Vietnam. Pertama, sebagai peserta, dan yang kedua sebagai pembantu koordinator persiapan pertukaran mahasiswa, kata Ajeng. (*)
Penulis: Achmad Janny
Editor: Defrina Sukma S





