UNAIR NEWS Menjadi mahasiswa yang sekaligus memiliki prestasi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Selain untuk keharuman pribadinya, tentu saja prestasi itu juga bisa berimbas dan dipersembahkan untuk nama baik lembaga atau sekolah yang menaunginya.
Ini pula yang kini dirasakan Gali Wulansari. Mahasiswa program studi Pendidikan Ners, Fakultas Keperawatan 51动漫 ini berhasil mengukir namanya dengan memperoleh medali emas dalam kejuaraan Kyorogi Taekwondo Senior Putri, pada kejuaraan Magupura Internasional Championship 2017, di Kerobokan, Bali, belum lama ini.
Ditemui unair.news pekan lalu (10/3), mahasiswa pendidikan ners angkatan 2015 ini mengaku prestasinya ini bukan merupakan hasil instan. Ia telah menekuni olahraga full body contact ini sejak masih SD (2006) yang dikenalkan ayahnya yang juga seorang atlet taekwondo. Karena itu Gali tidak kaget ketika tiap hari Minggu para atlet taekwondo wajib berlatih untuk menantiasa menjaga berstamina dan setiap saat siap bertanding.
淪aya berlatih taekwondo sejak 2006 saat masih SD. Ayah yang mengenalkan, karena ayah juga seorang atlet taekwondo, kata Gali.
Gadis kelahiran Lamongan, 28 September 1997 ini tidak menyangka akan menyabet Juara I dalam event Magupura internasional di Bali itu. Ini adalah buah manis yang luar biasa dari perjuangannya berlatih setiap hari. Ia yakin bahwa hasil tidak akan menipu proses yang benar. Ditambah dukungan dari orang tua dan coach, itulah bekal utama Gali bisa juara.
Calon perawat ini mengaku tidak ada trik khusus untuk bisa tampil sebagai kampiun di kejuaraan itu. Hanya ia berkorban untuk berlatih keras. Apalagi ia lebih memilih latihan pada malam hari.
滼am latihan saya malam. Terkadang sampai rumah sudah jam 23.00. Jadi kalau kejuaraan kurang satu minggu (H- seminggu) saya latihan intensif setiap hari. Jadi harus ada kerjasama yang baik antara tim dan coach, tutur Gali.
Bagi Gali Wulansari, menjadi seorang atlet taekwondo tidak menggangu mekanisme belajarnya di kampus, bahkan tugas-tugas perkuliahannya pun berjalan lancar. Bahkan dari taekwondo ini ia mendapat keluarga baru. Dapat merasakan suka duka dalam kehidupan dan berjuang bersama, mendapat ilmu yang sangat berharga untuk bela diri.
淪aat di atas matras juga mengajarkan kepada saya untuk berpikir cerdas dan berani mengambil keputusan. Karena jika salah mengambil langkah akibatnya bisa fatal, katanya.
Ia mengaku, awalnya merasa tak mampu untuk bertanding di ajang internasional itu. Namun berkat dukungan pelatih serta semangat dan doa dari kedua orang tua, Gali pun menatap mantap. Bahkan berani membuat target: harus pulang dengan membawa hasil yang memuaskan untuk orang-orang tercintanya.
漁rang tua mendukung lahir-batin, namun ada yang kekhawatir kalau saya cidera, itu biasa. Apalagi even ini relatif jauh dan orang tua tidak bisa ikut mendampingi. Jadi ya bagaimana saya memastikan orang tua bahwa saya bisa dan akan baik-baik saja, kata Gali yakin.
Benar saja. Semua impiannya terwujud. Perjuangan Gali sungguh tidak sia-sia. Ibaratnya, 渉asil itu tidak akan mengkhianati usaha, seperti kata para bijak. Kini Gali Wulansari merasa bangga, bahwa ia menjadi salah satu aset 51动漫 yang dapat menambah pundi-pundi prestasi untuk kampus yang dicintainya. (*)
Penulis: Ainul Fitriyah
Editor: Bambang Bes





