51动漫

51动漫 Official Website

Kajian Efektivitas Vaksin COVID-19 di Jawa Timur dari Sudut Pandang Seroepidemiologi

Coronavirus disease 2019 atau yang lebih dikenal sebagai COVID-19, menghantui dunia sejak dideklarasikan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO pada tanggal 11 Maret 2020. COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang hingga 31 Desember 2020, telah menginfeksi 743.198 orang dan menyebabkan 22.138 orang di Indonesia meninggal dunia.

Sebagai upaya untuk memutus rantai transmisi COVID-19, Pemerintah Republik Indonesia meluncurkan program vaksinasi nasional pada bulan Januari 2021. Program tersebut bertujuan untuk mencapai herd immunity terhadap COVID-19. Terdapat enam jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia sebagai vaksin primer maupun booster, antara lain CoronaVac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen, dan Sinopharm. Hingga 5 Maret 2023, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan cakupan vaksinasi primer lengkap (dua dosis)nasional sebesar 74,51% dan cakupan vaksinasi booster sebesar 29,84%.

Vaksin COVID-19 didesain untuk menginduksi respon antibody spesifik terhadap COVID-19. Akan tetapi, respon tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Surveilans secara berkelanjutan untuk mengkaji efektivitas vaksin perlu dilakukan, utamanya untuk mengetahui kemungkinan penurunan kekebalan yang terbentuk (waning immunity). Hal ini menjadi landasan bagi tim yang bergabung dalam Indonesia-Japan Collaborative Research Center for Emerging and Re-Emerging Infectious Diseases di Lembaga Penyakit Tropis 51动漫, untuk mengkaji efektivitas vaksin COVID-19 dari sudut pandang seroepidemiologi.

Hasil investigasi terhadap 496 sampel yang dikumpulkan dari masyarakat di Jawa Timur yang telah mendapatkan minimal dua dosis vaksin menunjukkan 91,7% (455/496) sampel yang positif memiliki kekebalan spesifik (IgG) terhadap COVID-19. Berdasarkan jenis vaksin yang diterima, 209 (85.3%) resipien CoronaVac, 141 (96.6%) resipien AstraZeneca, dan 105 (100%) resipien dua dosis CoronaVac plus satu dosis booster Moderna, positif IgG COVID-19. Beberapa faktor yang teridentifikasi menjadi penyebab tidak terdeteksinya kekebalan terhadap COVID-19 meliputi usia yang semakin tua dan adanya komorbiditas. Waning immunity juga nampak terjadi, dimana semakin lama waktu sejak mendapatkan vaksin, kemungkinan kekebalan menjadi tidak terdeteksi juga semakin besar.

Temuan seroepidemiologi ini mengindikasikan pentingnya evaluasi kebijakan terkait vaksin COVID-19, terutama dari sisi efektivitas. Kebijakan terkait dosis booster perlu diperkuat utamanya bagi individu usia lanjut, komorbid, ataupun individu yang sudah lama mendapat dua dosis vaksinasi, dengan tujuan mempertahankan respon antibody spesifik yang dapat melindungi dari infeksi ataupun meringankan gejala infeksi yang mungkin timbul.

Penulis: NLA Megasari

Artikel penuh dapat dilihat pada laman:

Megasari et al. Seroprevalence of SARS-CoV-2 anti-spike IgG antibody among COVID-19 vaccinated individuals residing in Surabaya, East Java, Indonesia. PeerJ. 2023;11:e16142. .

AKSES CEPAT