51动漫

51动漫 Official Website

Pemanfaatan dan Pemodelan Data Gravitasi Satelit untuk Penilaian Geohazard di Wilayah Yogyakarta, Pulau Jawa, Indonesia

Penilaian geohazard dilakukan di area Aerotropolis Bandara Internasional Yogyakarta yang baru, yang terletak di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Aerotropolis adalah jenis kawasan perkotaan yang dibangun di sekitar bandara, dengan fokus khusus pada infrastruktur, penggunaan lahan, dan ekonomi. Tujuan utama dari aerotropolis adalah untuk meningkatkan efisiensi bagi dunia usaha dengan memfasilitasi akses cepat ke pemasok, pelanggan, dan mitra baik di tingkat nasional maupun global. Selama bertahun-tahun, aerotropolis telah muncul sebagai katalis penting bagi pertumbuhan ekonomi regional dan nasional.

Yogyakarta terletak di selatan-tengah Jawa, Indonesia, dan sering dipengaruhi oleh pergerakan tektonik akibat subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Pergerakan tektonik di wilayah selatan Jawa mengakibatkan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan aktivitas gunung berapi. Pada tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi berkekuatan 6,3 Mw yang melanda wilayah Yogyakarta dini hari. Gempa tersebut menimbulkan kerusakan parah di Jawa Tengah dan sekitarnya, mengakibatkan hilangnya lebih dari 5.700 nyawa serta kerusakan sekitar 240.396 rumah, infrastruktur, dan tempat usaha.

Beberapa penelitian geofisika telah dilakukan sebelumnya di wilayah Yogyakarta. Model bawah permukaan dibuat untuk mengkaji sesar Opak pemicu gempa tahun 2006 di kedalaman 20 km. Hasilnya dianalisis menggunakan inversi tomografi seismik, menunjukkan bahwa wilayah dengan rasio Vp/Vs yang lebih tinggi, menunjukkan sedimen yang tidak terkonsolidasi, mempunyai risiko lebih besar mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi. Data geofisika sangat penting untuk memperkirakan dan mengevaluasi risiko seismik yang terkait dengan formasi geologi. Metode gravitasi digunakan untuk mengidentifikasi sesar di dekat atau di dalam zona Aerotropolis Bandara Internasional Yogyakarta di Indonesia. Pemodelan data gravitasi didasarkan pada variasi kepadatan massa kerak bumi yang disebabkan oleh patahan dan fitur geologi lainnya yang penting bagi geohazard.

Kajian ini melibatkan analisis dan pemodelan inversi 3-D data anomali gravitasi bumi yang diperoleh dari Global Gravity Model (GGM) resolusi tinggi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan seperti sesar, gunung berapi aktif, dan lapisan sedimen yang dapat menimbulkan potensi bahaya bagi kawasan aerotropolis Yogyakarta. Anomali Bouguer lengkap di wilayah penelitian dihitung menggunakan metode koreksi medan modern yang mengandalkan data gravitasi topografi skala penuh dari model gravitasi SRTM2. Analisis spektrum radial 2-D kemudian dilakukan pada data anomali ini, yang menunjukkan bahwa ketebalan rata-rata lapisan sedimen diperkirakan lebih dari 100 m. Kontras densitas batuan ditentukan dengan menggunakan inversi anomali gravitasi sisa yang menunjukkan kisaran 0,086 g/cm3 hingga 0,043 g/cm3.

Pemanfaatan dan pemodelan data gravitasi bumi resolusi tinggi dari model GGMplus telah memberikan hasil yang signifikan dalam penilaian struktur geologi bawah permukaan di wilayah provinsi Yogyakarta. Secara khusus penelitian ini difokuskan pada kawasan aerotropolis bandara internasional baru Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo. Analisis data anomali Bouguer lengkap dan anomali sisa menunjukkan bahwa kawasan Aerotropolis mempunyai anomali gravitasi rendah hingga sedang yang diduga terkait dengan batuan sedimen lepas pantai atau alluvium. Selain itu, analisis spektrum daya radial 2-D terhadap data anomali gravitasi di tiga segmen wilayah signifikan mengidentifikasi ketebalan lapisan sedimen rata-rata atau kisaran ketebalan 100 m, yang dapat berguna untuk penilaian potensi bahaya. Inversi 3-D anomali gravitasi sisa telah mengungkapkan informasi struktur geologi bawah permukaan berdasarkan variabel kontras kepadatan, mengidentifikasi empat lapisan batuan pada kedalaman berbeda yang konsisten dengan geologi regional daerah penelitian.

Tiga model penampang inversi gravitasi menunjukkan adanya pola intrusi batuan beku dengan kontras densitas tinggi, dapur magma di Gunung Merapi berasosiasi dengan kontras densitas negatif rendah, dan garis sesar Opak normal pada batas kontras rendah dan tinggi. Struktur geologi tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber bencana alam di wilayah Yogyakarta. Oleh karena itu, sesar aktif seperti Sesar Opak dan Gunung Merapi perlu dipertimbangkan sebagai struktur geologi utama yang dapat menimbulkan bencana alam dalam pengembangan kawasan aerotropolis Yogyakarta.

Penulis: Dr. Hijrah Saputra, S.T., M.Sc.

Artikel selengkapnya dapat diakses di: .

AKSES CEPAT