51动漫

51动漫 Official Website

Kampung dan Bangsa: Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Perkotaan di Kampung Peneleh Surabaya

Foto by Toko Buku Peneleh

Studi perkotaan yang ada selama ini telah membahas bagaimana nasionalisme memengaruhi pembangunan dan bagaimana proyek perkotaan menjadi simbol nasionalisme, tetapi jarang membahas sejauh mana kehidupan perkotaan sehari-hari di ruang kecil membentuk wacana para pionir nasionalisme. Sayangnya, studi sejarah perkotaan yang ada jarang mempertimbangkan pentingnya lingkungan tempat tinggal maupun hidup dalam membentuk pemikiran para pendukung wacana nasionalis. Beberapa studi meihat konteks perkotaan sebagai ruang di mana perjuangan antikolonial muncul dan peran aktivis kelas menengah, politisi, dan pelajar dalam mempengaruhi budaya publik. Namun, masih banyak ruang kosong dalam studi untuk memahami peran kehidupan kota sehari-hari dalam konstruksi wacana nasionalis, serta pemanfaatan wacana tersebut.

Kota dan perkembangan sejarahnya penting dalam pemikiran nasionalis Indonesia. Sukarno menyebut kota Surabaya sebagai Kawah Candradimukanya, sebuah metafora dari kawah mistis Jawa di mana berbagai kelompok dan tokoh berdiskusi, berdebat, dan merundingkan gagasan. Beberapa nama dalam sejarah nasional Indonesia, termasuk Sukarno, dapat ditelusuri jejak sejarahnya di kampung-kampung yang ada di Surabaya. Dengan demikian, kampung kota bisa jadi merupakan ‘kawah’ penting dalam pembentukan gagasan nasionalis Indonesia di awal abad ke-20.

Tulisan ini mengkaji peran kampung kota dalam konstruksi sosial budaya Bhinneka Tunggal Ika sebagai wacana kebangsaan di Indonesia. Dengan melihat dari kehidupan sehari-hari di kampung, kami menelaah praktik-praktik yang melegitimasi penyatuan Indonesia. Saat ini, kekhawatiran tentang keragaman dan toleransi di Indonesia meningkat karena pemilihan umum baik di tingkat lokal maupun nasional yang terpolarisasi dan penggunaan politik identitas secara terang-terangan dalam kampanye politik. Namun, peran kampung kota jarang diakui dalam perdebatan. Malahan, kampung terus menjadi obyek pembangunan perkotaan karena pandangan negara maupun masyarakat umum hanya mereduksi kampung sekedar perlu pembenahan hal yang sifatnya teknis seperti infrastuktur.

Kami menganggap kampung kota sebagai sudut pandang dalam pembangunan kota dan akhirnya pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kami menempatkan pentingnya mengamati realitas sehari-hari dalam menafsirkan praktik dan konseptualisasi Bhinneka Tunggal Ika. Sejauh mana slogan itu berperan dalam konstruksi sosial lingkungan kota? Bagaimana realitas sehari-hari di lingkungan kota terkait, dipraktikkan, dilanggengkan, dan disesuaikan dengan slogan nasional. Metode yang kami pakai selama ini adalah etnografi dan penggunaan arsip. Interaksi kami dengan warga di Kampung Peneleh dimulai pada 2017, setelah lebih dari satu dekade berinteraksi dengan Peneleh dan beberapa kampung lain di Surabaya. Kami mengandalkan catatan lapangan dan wawancara yang dikumpulkan selama empat tahun penelitian etnografi sebagai bagian dari jaringan riset Southeast Asia Neighborhood Network (SEANNET).

Banyak kampung di Surabaya yang menjadi rumah bagi para pendatang pada masa kolonialisme Hindia-Belanda. Sebagai contoh, banyak pendatang dari Bali yang bermukim di Kampung Lawang Seketeng di tepi sungai Kali Mas dan bekerja sebagai penjual di pasar buah. Keterbukaan kampung terhadap berbagai kelompok etnis dan agama meluas dengan masuknya orang asing Asia dan Eurasia. Ketika Kampung Tionghoa kelebihan penduduk akibat masuknya pendatang baru dari Tiongkok pada awal abad ke-20, pendatang baru tinggal di kampung terdekat seperti Peneleh, Pandean, dan Lawang Seketeng. Bagi orang Eurasia, kota kolonial yang terpisah mempersulit etnis campuran untuk masuk ke dalam satu kategori etnis tertentu sehingga kampung adalah tempat yang dapat menerima mereka.

Kampung menjadi tempat yang beragam, namun tidak luput dari stereotip rasial. Narasumber kami menceritakan bahwa di Kampung Peneleh dan sekitarnya, kata-kata hinaan seperti singkeh (pendatang atau imigran Tionghoa) atau cino (seorang Tionghoa yang lahir di Indonesia) sering terdengar sebagai stereotype orang Tionghoa sebagai penipu. Ada juga stereotip orang Eurasia sebagai orang Belanda yang mengancam karena penduduk setempat sering melihat orang Eurasia lebih sebagai orang Belanda daripada orang lokal.

Ketika para tokoh yang berasal dari kampung menjadi aktivis pergerakan nasional  maka keragaman yang ada di kampung tersebut diangkat menjadi wacana nasionalis. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan resmi nasional setelah rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada Mei dan Juni 1945. Diprakarsai oleh Muhammad Yamin dari Sumatera dan I Gusti Bagus Sugriwa dari Bali, Sukarno dengan cerdas menerima usulan tersebut. Dalam berbagai literatur sejarah Indonesia mengidentifikasi Yamin sebagai propaganda yang aktif dalam mengangkat Majapahit sebagai prototipe ideal bangsa modern Indonesia, Sukarno tumbuh di sebuah kampung di Surabaya berkontribusi pada adopsi slogan tersebut.

Dalam suatu kajian, Benedict Anderson (2002) mengaitkan nasionalisme Sukarno yang 渄alam, kuat, dan berapi-api dengan kesadaran dan pemahamannya tentang pentingnya persatuan nasional pada saat 渟ebagian besar penduduk Nusantara masih tinggal di desa dan kampung tradisional mereka [sic]. Pengalaman Sukarno tumbuh di kampung, belajar di bawah Tjokroaminoto di Kampung Peneleh, dan pengamatannya tentang ketimpangan antara warga kampung dan kuarter kolonial hingga awal 1920-an adalah kunci gagasan nasionalismenya; ide-ide awal ini terus mempengaruhi pidatonya setelah tahun 1950-an.

Desakan untuk bersatu di tengah keragaman adalah antitesis dari segregasi etnis kota kolonial, dan pandangan seperti itu bergema dengan harmoni sebagai manifestasi kesaktian atau ide kekuasaan Jawa. Namun demikian, idealisasi Majapahit sebagai kerajaan yang agung mengaburkan kemungkinan persaingan agama untuk merebut kekuasaan di istana. Sementara keragaman (Bhinneka) adalah dan masih menjadi kenyataan, Tunggal Ika (persatuan) adalah konstruksi politik sebagai representasi resmi bangsa Indonesia, di luar koeksistensi, menuju kesatuan sosial yang kiranya harmonis. Tunggal Ika mungkin tidak menjadi kenyataan selama era Majapahit, dan itu juga tidak menjadi kenyataan di kampung kota, mengingat stereotip yang umum dipegang terhadap pendatang di awal abad ke-20.

Dalam riset etnografi kami di Kampung Peneleh sejak tahun 2017 terbukti terdapat beberapa praktik dalam kehidupan sehari-hari Kampung Peneleh yang disebut-sebut oleh kelompok minoritas di sana sebagai perwujudan Bhinneka Tunggal Ika. Pertama adalah terbukanya kesempatan bagi warga minoritas untuk menjadi pemimpin komunitas. Seorang ketua RT Tionghoa-Kristen di Kampung Peneleh menceritakan kepada kami bahwa orang-orang di Peneleh tidak melihat identitasnya sebagai etnis dan agama minoritas sebagai masalah; mereka menghargai pemahamannya yang baik tentang kampung. Ada juga seorang dengan latar belakang etnis dan agama minoritas sebagai ketua rukun tetangga di kampung terdekat, seperti ketua RT wanita Tionghoa-Kristen di Plampitan dan ketua RT Bali-Hindu di Lawang Seketeng.

Kedua, perasaan bahwa kampung tersebut seakan-akan rumah sendiri di kampung tersebut seperti yang terlihat dalam praktik bertetangga. Saat diwawancarai, beberapa warga etnis minoritas mengungkapkan preferensi mereka untuk tinggal di kampung. Seorang yang diwawancarai, seorang wanita Tionghoa-Indonesia berusia 76 tahun, pindah ketika dia berusia 4 tahun. Orang tuanya memutuskan untuk menetap di Peneleh setelah mengunjungi bibinya untuk tilik bayi (melihat bayi yang baru lahir) pada tahun 1947. Ketika mereka mencarinya rumah bibi di Peneleh Gang 3, mereka menyukai suasana ramah-tetangga, dan akhirnya membeli rumah di gang yang sama. Hingga saat ini, dia menganggap Peneleh sebagai rumahnya dan tidak berpikir untuk pergi. Ketiga adalah saat anak-anak bermain yang menunjukkan keragaman etnis sebagai ekspresi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kampung. Seorang warga menggambarkan masa kecilnya di Peneleh sebagai 榩utih ireng mlayu bareng atau mereka bermain bersama tanpa memedulikan warna kulitnya.

Pada akhirnya kami menarik kesimpulan bahwa warga kampung mempraktikkan slogan nasional Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di kampung memungkinkan terjadinya perpaduan antara melestarikan tradisi dan menegosiasikan wacana nasionalis dari masa ke masa. Dinamika tersebut menunjukkan keberadaan kampung sebagai ruang yang relatif otonom; meskipun mungkin tidak menjadi kekuatan dominan dari perkembangan perkotaan mainstream atau arus utama, setidaknya masih memperlihatkan kontribusi kamoung sebagai bagian dari kota. Menempatkan kampung sebagai sudut pandang untuk meninjau kembali konsep wacana dan kontra-wacana dalam konteks perkotaan Jawa memungkinkan wawasan tentang pengetahuan pembangunan kota dan bangsa yang menyatukan praktik sehari-hari dan konseptualisasi kota dan bangsa di Indonesia.

Penulis: Adrian Perkasa

Link Jurnal:

AKSES CEPAT