51动漫

51动漫 Official Website

Kanker Langka pada Leher Rahim: Ketika Tumor Menyamar sebagai Kista OvariumBrahmana Askandar Tjokroprawiro

ilustrasi kanker (foto: dok isitimewa)

Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang wanita. Namun, ada jenis kanker serviks yang sangat jarang terjadi, yaitu karsinoma neuroendokrin serviks (NEC). Penyakit ini tergolong agresif dan memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi. Salah satu kasus menarik dari penyakit ini baru saja dipublikasikan, yaitu seorang wanita 42 tahun yang didiagnosis dengan NEC serviks yang muncul dalam bentuk tumor besar di ovarium攕esuatu yang sangat tidak biasa.

Pasien mengalami sakit perut selama empat bulan, disertai dengan pembesaran perut dan penurunan berat badan. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya massa besar berukuran 15 cm di perutnya, yang mengarah pada dugaan tumor ovarium. Menariknya, serviksnya tampak normal tanpa tanda-tanda kanker. Tes pencitraan menggunakan CT scan menunjukkan massa besar di ovarium kiri, tetapi tidak ada kelainan di serviks atau organ lainnya. Berdasarkan temuan ini, dokter awalnya mencurigai adanya kanker ovarium dan bukan kanker serviks.
Saat operasi dilakukan, dokter menemukan tumor sebesar 25×20 cm di ovarium kiri. Tumor ini menempel pada dinding peritoneum dan rektosigmoid, tetapi tidak ada tanda-tanda kanker di organ lain. Setelah pengangkatan tumor, pemeriksaan jaringan secara mikroskopis menunjukkan bahwa tumor sebenarnya berasal dari serviks, bukan ovarium. Jadi, kanker serviks ini menyebar secara langsung ke ovarium tanpa melalui jalur metastasis yang biasa seperti kelenjar getah bening atau organ lainnya.

Hasil tes imunohistokimia menunjukkan bahwa kanker ini adalah small-cell neuroendocrine carcinoma (SCNEC), yaitu tipe NEC yang sangat agresif dan jarang terjadi. Pasien kemudian didiagnosis dengan kanker serviks stadium IB2 dengan metastasis ke ovarium. Sebagai langkah pengobatan, pasien menjalani kemoterapi kombinasi etoposide dan cisplatin selama enam siklus. Setelah perawatan, pasien menunjukkan respons yang baik, tanpa tanda-tanda kanker yang tersisa setelah 12 bulan.
Kasus ini menunjukkan bahwa kanker serviks dapat muncul dalam bentuk yang tidak biasa, sehingga berisiko disalahartikan sebagai kanker ovarium. Pemeriksaan mendalam, termasuk tes imunohistokimia, sangat penting untuk memastikan diagnosis yang akurat. Selain itu, penting bagi wanita untuk menjalani deteksi dini kanker serviks, seperti tes Pap smear dan HPV, karena kanker jenis ini sering kali dikaitkan dengan infeksi HPV tipe 18. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kanker serviks bukan hanya tentang perdarahan abnormal atau nyeri panggul, tetapi juga bisa menyamar sebagai tumor lain, membuat diagnosisnya menjadi lebih menantang.

Artikel lengkapnya dapat diakses pada tautan berikut
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11751734/

AKSES CEPAT