Kejadian infeksi akibat bakteri multi resisten (MDRO = Multiple drug resistant organisms), bauk di Puskesmas maupun di rumah sakit, makin meningkat. Salah satu bakteri tersebut adalah bakteri Batang Gram Negatif penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL). Jika seseorang terinfeksi oleh bakteri jenis tersebut, maka pilihan antibiotika yang bisa dipergunakan hanya sekitar 4-5 antibiotika dari sekian banyak yang ada di pasaran. Karena itu infeksi akibat bakteri penghasil ESBL ini menjadi perhatian khusus pada tatanan pelayanan Kesehatan, baik Puskesmas maupun Rumah Sakit.
Salah satu bakteri penghasil ESBL yang sering menjyebabkan infeksi pada manusia adalah Escherichia coli yang dalam tulisan ini dikode denganESBL-EC. ESBL-EC ini tidak hanya menjadi penyebab penyakit ifenski, tapi juga bisa hidup secara normal di lingkungan, termasuk di dalam usus manusia. Adanya ESBL-EC di dalam usus orang sehat, seolah tidak berdampak pada Kesehatan. Namun jika suatu saat terjadi gangguan Kesehatan lain, maka ESBL-EC ini bisa ikut masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi berat, dan bahkan sukar diobati.
Angka kejadian ESBL-EC dalam kasus infeksi di rumah sakit, bisa mencapai angka 62%, dari total infeksi yang disebabkan Escherichia coli. Hal ini bisa dimaklumi karena banyaknya pengggunaan antimikroba di rumah sakit. Namun, ternyata pada mahasiswa Kedokteran yang belum bekerja di rumah sakit, angka kejadian ini bisa mencapai 56%. Hal yang sangat mengejutkan, pada suatu studi pada orang-orang pemerah susu sapi, angka kejadian ini bisa mencapai 79%.
Hasil studi pada ibu hamil, yang dianggap sangat berhati-hati di dalam mengkonsumsi antibiotika, ditemukan sebanyak Hal yang juga mengkhawatirkan, dalam studi ini, di antara ESBL-EC yang diketemukan pada 100 ibu hamil di Puskesmas, 20 (20%) mengandung ESBL-EC di ususnya, dan di antara 20 isolat ini, 45% termasuk E coli yang patogen. Sedangkan ibu hamil yang dirawat di rumah sakit akibat berbagai penyakit, sebanyak 42 (42%) mengandung ESBL-EC di dalam ususnya, dan 42,9% termasuk E coli patogen. Hal ini menunjukkan bahayanya keberadaan ESBL-EC tersebut, yang bisa mengakiobatkan infeksi pada ibu hamil tersebut.
Keberadaan gen CTX-M-15, menempati jumlah erbanyak di antara gen resisten. Hasil pemeriksaan genotyping pada kelompok ini menggunakan alat khusus, menunjukkan adanya beberapa perpindahan bakteri ESBL-EC antar orang. Hal ini menunjkkan pentingnya menjaga kebersihan tangan dan mencegah perpindahan bakteri antar orang. Isolat ESBL-EC yang berasal dari rumah sakit, secara umum lebih resisten disbanding yang berasal dari Puskesmas.
Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., SpMK(K)
Link jurnal:





