Jumlah perokok di dunia semakin lama semakin banyak. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dan negara produsen rokok terbesar, juga merupakan salah satu negara dengan presentase perokok paling banyak. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar terakhir di tahun 2018, jumlah perokok aktif berusia diatas 18 tahun adalah 28.7%. Walaupun sudah terdapat penurunan sebesar 0.5% dibandingkan dengan Riset kesehatan Dasar tahun 2013, penurunannya masih belum cukup signifikan. Salah satu penyebab tingginya konsumsi rokok di Indonesia karena merokok dianggap sebagai budaya, seperti misalnya rokok menjadi salah satu jamuan yang wajib ada saat perkumpulan warga.
Berbagai cara sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menurunkan jumlah perokok aktif, salah satunya dengan cara mewajibkan produsen rokok untuk mencantumkan peringatan gambar berhenti merokok. Penggunaan gambar peringatan berhenti merokok ini diinisiasi oleh negara Kanada sejak tahun 2001, dan terbutki efektif di beberapa negara lain. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Reupublik Indonesia No 28 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau. Pada aturan tersebut, terdapat 5 gambar yang wajib dipasang. Adapun komposisi prosentase gambar yang harus dicantumkan pada bungkus rokok adalah sebesar 40% dari luas permukaan bungkus rokok, dengan rasio yang juga telah ditentukan dalam peraturan tersebut. Selain itu, disebutkan juga bahwa gambar tersebut dapat dilakukan perubahan paling cepat 24 bulan sekali.
Empat tahun setelah peraturan tersebut berlaku, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 56 Tahun 2017 melakukan perubahan terkait beberapa hal dari peraturan sebelumnya, termasuk didalamnya adalah merubah 3 dari 5 gambar peringatan yang ada. Namun begitu, tidak ada informasi yang jelas mengenai alasan dibalik perubahan gambar tersebut, serta alasan mengapa hanya 3 dari 5 gambar yang dirubah. Lain daripada itu, hingga 3 tahun sejak peraturan tersebut diberlakukan, belum ada studi di Indonesia yang mengevaluasi efektivitas gambar peringatan berhenti merokok yang baru. Atas dasar itulah, kami melakukan penelitian terkait efektivitas gambar peringatan berhenti merokok yang baru, serta membandingkan pendapat masyarakat mengenai efektivitas gambar peringatan berhenti merokok yang baru dengan yang lama.
Pada penelitian ini, kami melakukan wawancara kepada masyarakat berusia lebih dari 18 tahun di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur pada bulan Februari 2020. Setiap warga di kecamatan Songgon yang berkunjung ke puskesmas Songgon diminta untuk ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari 103 responden yang diwawancara, sebanyak 58% dari responden merupakan perokok aktif. Sebanyak 64.1% dari responden menyatakan bahwa gambar peringatan berhenti merokok yang baru mampu memotivasi perokok aktif untuk berhenti merokok. Namun begitu, sebanyak 71.8% dari responden menyatakan bahwa gambar peringatan berhenti merokok yang lama mampu memotivasi perokok aktif untuk berhenti merokok. Ketika dipisahkan antara perokok aktif dan bukan perokok aktif, kami menemukan bahwa kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa gambar peringatan berhenti merokok yang lama lebih efektif dibandingkan dengan gambar peringatan berhenti merokok yang baru (65.1% vs 55.8% untuk perokok aktif dan 76.7% vs 70% untuk non-perokok).
Dari hasil penelitian kami, kami menyimpulkan bahwa gambar peringatan berhenti merokok yang lama maupun yang baru sama-sama efektif untuk meningkatkan keinginan berhenti merokok. Namun, tingkat efektivitasnya lebih tinggi gambar versi lama dibandingkan dengan gambar versi baru. Walupun penelitian yang kami lakukan ini relatif kecil karena hanya dilakukan di 1 daerah sehingga tidak dapat menggambarkan perbandingan efektivitas peringatan gambar berhenti merokok antara versi yang baru dengan versi yang lama di Indonesia secara keseluruhan, kami berharap penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan evaluasi di tingkat nasional terkait efektivitas gambar peringatan gambar berhenti merokok tersebut.
Penulis: dr. Firas Farisi Alkaff
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilimiah kami di:
Swatan JP, Alkaff FF, Sukmajaya WP, Sulistiawati S, Karimah A. Are Indonesian new pictorial health warnings more effective than the old ones? International Journal of Public Health Science 2022; 11:3.





