51动漫

51动漫 Official Website

Karakterisasi mikroplastik dan logam terkait dalam budidaya kerang hijau: Estimasi potensi risiko kesehatan

Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)
Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)

Sekitar 70% (4,8 juta ton) sampah plastik di Indonesia tidak terkelola, dengan perkiraan 9% (0,62 juta ton) dari plastik yang tidak terkelola ini berakhir di perairan Indonesia (National

Plastic Action Partnership Indonesia, 2023). Perkiraan konsentrasi sampah plastik di perairan berkisar antara 7.400 hingga 10.304 lembar per kilometer persegi (Dwiyitno dkk., 2020). Teluk Jakarta di Indonesia menerima limpasan dari 13 sungai, yang kemungkinan merupakan sumber utama sampah plastik, yang berkontribusi terhadap tingginya volume plastik yang masuk ke teluk.

Kepadatan penduduk yang tinggi, industrialisasi dan urbanisasi yang pesat di wilayah pesisir telah memperburuk masalah pencemaran plastik di Indonesia. Muara Kamal mengalami degradasi lingkungan yang signifikan akibat polusi industri dan pengelolaan sampah yang tidak memadai. Masuknya polutan, termasuk plastik dan bahan kimia, memengaruhi ekosistem lokal (Lestari dan Trihadiningrum, 2019). Muara Kamal, yang terletak di dekat Teluk Jakarta, sangat terdampak oleh praktik akuakultur yang intensif dan tingkat polusi yang tinggi (Puspitasari dkk., 2023).

Sampah plastik di perairan pesisir dapat terurai menjadi mikroplastik (MP) berukuran kurang dari 5 mm, menjadikannya komponen utama sampah plastik laut (Law dan Thompson, 2014; Ahmed dkk., 2023).

Partikel-partikel ini dapat tertelan oleh berbagai organisme laut, termasuk spesies yang bernilai ekonomis penting seperti kerang hijau (Irnidayanti dkk., 2025). Kerang yang melakukan filter feeder sangat rentan terhadap akumulasi MP dari lingkungannya. Metode pemberian pakan ini pada kerang hijau memfasilitasi penyerapan zat berbahaya, termasuk MP dan logam, ke dalam tubuh mereka (Phaksopa dkk., 2022), dan akumulasi MP pada kerang dapat menyebabkan potensi risiko kesehatan bagi konsumen. MP yang tertelan dapat mengandung senyawa beracun, seperti bahan kimia organik dan logam. Zat-zat ini berpotensi terakumulasi dalam rantai makanan, yang menyebabkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan (El-Sawaf dkk., 2024) ketika tertelan (Naik dkk., 2019), seperti masalah gastrointestinal, gangguan endokrin, peningkatan risiko kanker (Campanale dkk., 2020), dan peradangan. Karena MP dapat membawa patogen berbahaya, juga mengganggu sistem kekebalan tubuh (Smith dkk., 2018).

Masyarakat, terutama nelayan di Muara Kamal, sangat bergantung pada Teluk Jakarta untuk budidaya makanan laut, termasuk kerang hijau. Sebagian besar produksi kerang hijau di Jakarta berasal dari Muara Kamal (Simbolon, 2018). Kerang hijau yang dibudidayakan di dekat muara kemungkinan besar terpapar langsung dengan MP yang diangkut oleh Sungai (Keawtawee dkk., 2018). Kerang hijau yang dibudidayakan di daerah ini merupakan bagian penting dari pola makan lokal (Puspitasari dkk., 2023). Budidaya kerang hijau tradisional menggunakan rak bambu semakin digantikan oleh rak polietilen, yang, bersama dengan rakit dan rawai, umumnya digunakan dalam budidaya kerang (FAO, 2019). Metode budidaya ini secara langsung memaparkan kerang ke sumber MP dan meningkatkan kemungkinan masuknya ke dalam rantai makanan manusia, yang menyebabkan potensi risiko kesehatan bagi manusia.

MP dapat bertindak sebagai pembawa berbagai bahan kimia berbahaya, termasuk polutan organik persisten dan logam berat. Setelah tertelan, bahan kimia ini dapat larut ke dalam jaringan organisme laut seperti kerang hijau dan selanjutnya memasuki rantai makanan manusia ketika organisme ini dikonsumsi. Selain itu, MP dapat menyebabkan kerusakan fisik pada sistem pencernaan kerang hijau, yang mengakibatkan penurunan efisiensi makan dan penurunan kesehatan secara keseluruhan. Mengingat Teluk Jakarta merupakan wilayah yang sangat terdampak oleh industrialisasi, pertumbuhan perkotaan yang pesat, dan tingkat polusi yang tinggi, kemungkinan besar faktor-faktor ini berkontribusi signifikan terhadap polusi mikroplastik. Kerang hijau yang cenderung mengakumulasi MP, merupakan bagian penting dari pola makan masyarakat local di Teluk Jakarta, sehingga sangat penting untuk memahami dampaknya secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengkuantifikasi dan mengkarakterisasi jenis-jenis polimer MP, serta keberadaan logam MP yang ditemukan di insang kerang hijau, khususnya di wilayah Muara Kamal, tempat nelayan lokal membudidayakan kerang hijau ini; 2) memperkirakan risiko Kesehatan yang terkait dengan MP dari konsumsi kerang hijau, dengan menggunakan pedoman yang ditetapkan oleh Otoritas Keamanan Pangan Eropa (2014) dan Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia (2022).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik terdeteksi pada semua 120 kerang hijau yang diambil sampelnya, dengan fragmen menjadi jenis yang dominan diikuti oleh serat dan film. Kelimpahan rata-rata mikroplastik adalah 18 卤 9,4 partikel per individu atau 4 卤 2,8 per gram berat jaringan basah dan berat basah rata-rata adalah 4,9 卤 2,15 g. Analisis FTIR mengidentifikasi 15 jenis polimer, dan tingkat bahaya polimer tersebut mengarah pada kategori risiko I, II, III, dan V, yang dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Persentase aluminium dan timbal pada permukaan mikroplastik insang masing-masing adalah 0,15 % dan 0,01%, sementara persentase aluminium yang teridentifikasi dalam mikroplastik pada filter Whatman adalah 0,23%. Perkiraan jumlah mikroplastik tahunan yang tertelan manusia berkisar antara 10.192 hingga 76.440 item pada berbagai rentang usia. Diperkirakan setiap orang di Indonesia khususnya di daerah Teluk Jakarta menelan 271.313 mikroplastik setiap tahun melalui konsumsi kerang hijau. Konsumsi mikroplastik juga menyebabkan asupan logam berat terkait, yang menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan manusia.

Artikel ilmiah popular di atas disarikan dari artikel berikut:

Yulia Irnidayanti, Marsha Daffa Purwanto, Agoes Soegianto, Mark G.J. Hartl,

Hemen Sarma, Mahesh Narayan. 2025. Characterization of microplastics and associated metals in green mussel cultivation: Estimation of potential health risks. Chemosphere 390, 144719.

AKSES CEPAT