Kanker serviks merupakan masalah kesehatan global yang meningkat secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2020 tercatat sebanyak 604.000 kasus baru dengan total 342.000 kematian terjadi akibat kanker serviks. Di Indonesia, angka kejadian kanker serviks tergolong sangat tinggi. Pada tahun 2021 kasus kanker serviks mengalami kenaikan sebesar 36.633 kasus atau 17,2% dari seluruh kasus kanker pada wanita dengan jumlah kasus terbanyak ditemukan di Provinsi Jawa Timur. Hingga saat ini, kanker serviks masih menduduki peringkat tiga besar sebagai kanker dengan jumlah kematian terbesar di Indonesia. Penelitian menyebutkan sebagian besar pengobatan kanker serviks dilakukan dengan pemberian agen kemoterapi doxorubicin, carboplatin, celecoxib, dan paclitaxel dengan toksisitas sistemik tinggi dan tidak selektif sehingga menyebabkan kerusakan pada jaringan normal.
Potensi ekstrak kulit kayu manis sebagai agen antikanker telah terbukti pada beberapa penelitian. Ekstrak etanol kayu manis memiliki antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 6,28 渭g/mL. Senyawa cinnamaldehyde dalam ekstrak etanol kayu manis terbukti memiliki efek antikanker pada garis sel kanker C-33A secara in vitro. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak kayu manis dinilai potensial sebagai agen antikanker, namun bioavailabilitas dan kestabilan kimia yang rendah serta ukuran partikel yang besar menjadi kendala aplikasi biomedisnya.
Nanoenkapsulasi merupakan metode yang mampu memberikan perlindungan terhadap senyawa bioaktif yang mudah terdegradasi. Ukuran nanokapsul yang sangat kecil dapat meningkatkan bioavailabilitas senyawa. Nanoenkapsulasi dengan kitosan banyak diteliti dalam sistem pengiriman obat karena beberapa kelebihan salah satunya adalah meningkatkan spesifisitas target. Kitosan adalah biopolimer yang disetujui U.S. Food and Drug Administration (FDA) dengan sifat biologis yang sangat baik, termasuk aktivitas antitumor, antioksidan, antimikroba, dan penyembuhan luka, sehingga cocok untuk aplikasi biomedis, ketidaklarutan kitosan pada pH fisiologis dapat diatasi dengan modifikasi kimiawi gugus amino yang menghasilkan turunan yang dapat larut dan memperluas aplikasi. Sorasitthiyanukarn et al. (2018) melakukan modifikasi penghantaran obat dengan kitosan dan alginat yang terbukti meningkatkan sifat mukoadhesif untuk aplikasi obat secara oral.
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan studi karakterisasi dari hasil sintesis nanoenkapsulasi ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) meliputi FTIR, visualisasi, pH, Poly Dispetsity Index (PDI), Particle Size Analyer (PSA), Potensial Zeta, dan Scanning Electrone Microscope untuk mengetahui potensinya sebagai kandidat drug delivery system pada terapi antikanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi nanoenkapsulasi ekstrak kayu manis berdasarkan hasil uji karakterisasi. Formulasi F2 yang menggunakan kombinasi 1% kitosan dan 1,5% alginat menunjukkan hasil karakterisasi yang optimal dibandingkan dengan F1 dan F3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F2 memiliki ukuran partikel 246,3 nm, PDI 0,396, dan zeta potensial -33,8 mV yang mengindikasikan kestabilan fisik yang baik, distribusi partikel yang homogen, dan ukuran partikel yang sesuai untuk aplikasi nanoenkapsulasi. Selain itu, visualisasi partikel menunjukkan sifat fisik yang jernih dan seragam, sementara uji pH 7,32 mendukung kesesuaian untuk pemberian secara oral. Berdasarkan hasil karakterisasi tersebut, nanoenkapsulasi ekstrak kulit kayu manis menggunakan polimer kitosan alginat menunjukkan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai sistem penghantaran obat untuk terapi kanker serviks.
Penulis: Budiarto
Publish di Jurnal: GSC Biological and Pharmaceutical Sciences (GSCBPS)
Link artikel:
Link Web:





