51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Karakteristik Genetik Ikan Endemik Sulawesi

Infeksi Myxosporean pada Beberapa Ikan Nila Budidaya
Ilsutrasi ikan (Sumber: Agroqu)

Pulau Sulawesi di Indonesia, yang terletak di jantung Wallacea antara Asia dan Australia, menjadi rumah bagi banyak spesies asli yang masih ada, banyak di antaranya merupakan taksa endemik daerah sebaran terbatas, meskipun telah terjadi degradasi habitat yang signifikan dan introduksi banyak spesies asing. Setidaknya 120 spesies akuatik endemik (ikan dan invertebrata) telah diidentifikasi di danau-danau purba Sulawesi. Spesies lainnya masih ditemukan di danau dan sungai Sulawesi lainnya, termasuk taksa air tawar endemik Sulawesi dan taksa diadromous seperti ikan gobi amphidromous yang kini dianggap asli Sulawesi. Ikan-ikan endemik Sulawesi sebagian besar termasuk dalam tiga famili: Tematherinidae (ikan sirip perak), Adrianichthyidae (ikan beras), dan Zenarchopteridae (ikan paruh-setengah). Ikan paruh-setengah dari genus Dermogenys (famili Zenarchopteridae, ordo Beloniformes) merupakan ikan vivipar dengan ciri khas rahang bawah yang memanjang (Kobayashiet al. 2020). Proses pemanjangan rahang bawah terjadi pada tahap perkembangan dan pada ikan dewasa. Ujung rahang bawah berwarna merah terang atau oranye pada banyak spesies karena pigmen karotenoid, terutama zeaxanthin, astaxanthin, dan beta-doradexanthin (Kusumah et al. 2016). Pertama kali dideskripsikan sebagai Hemiramphus orientalis Weber, 1984, Dermogenys orientalis merupakan salah satu jenis paruh bengkok yang endemik di perairan tawar Pulau Sulawesi (Umar et al. 2020). Sebaran D. orientalis yang diketahui meliputi beberapa wilayah di bagian barat daya Sulawesi, termasuk Kawasan Karst Maros-Pangkep (Weber 1984; Meisner 2001; Samsudin 2017; Omar et al. 2020, 2021). Karst Maros-Pangkep yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan yang terluas dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di China (Rahman 2022; Hakim et al. 2023).

Kawasan Karst Maros-Pangkep memiliki geomorfologi yang unik dengan beberapa formasi karst kerucut terbaik di dunia (Putri et al. 2020). Secara umum, ekosistem air tawar di kawasan karst dapat berubah dan dapat terdegradasi atau hilang akibat buruknya kinerja batuan karst dalam menyaring kontaminan yang berasal dari kotoran manusia, ternak, dan limbah industri (Kolda et al. 2020). Keanekaragaman hayati kawasan karst sangat istimewa dan unik karena mengandung spesies endemik, langka, dan dilindungi yang telah beradaptasi dengan lingkungan karst dan biasanya ditemukan pada populasi terisolasi yang sangat terbatas dalam hal cakupan geografis dan ditemukan dengan kepadatan rendah dan/atau kelimpahan rendah (Putri dkk. 2020; Yang dkk. 2021). Ikan paruh-setengah D. orientalis merupakan salah satu dari beberapa ikan endemik di Kawasan Karst Maros-Pangkep (Umar et al. 2021). Karena bentuk, warna, dan perilakunya yang menarik, D. orientalis diperdagangkan sebagai ikan hias (Kusumahet al. 2016; Samsudin et al. 2018). Eksploitasi untuk perdagangan akuarium dianggap sebagai pendorong utama penurunan kelimpahan dan keanekaragaman spesies ikan asli di wilayah ini, sementara penangkapan untuk penelitian juga dapat menjadi ancaman bagi penurunan populasi (Nur et al. 2019). Selain ancaman langsung dari perikanan tangkap, populasi D. orientalis juga terancam oleh ancaman antropogenik tidak langsung seperti degradasi habitat (misalnya pendangkalan) dan introduksi spesies asing (Kusuma et al. 2016). Sampai saat ini, penangkaran D. orientalis untuk tujuan konservasi (misalnya re-stocking) belum dilakukan. Ada kebutuhan untuk melestarikan populasi ikan endemik, termasuk D. orientalis, dan habitatnya di Kawasan Karst Maros-Pankep yang unik (Kudsiah et al. 2022). Studi komprehensif dan penilaian karakteristik morfologi suatu spesies dapat mendukung pengembangan strategi konservasi di tingkat lokal yang relevan (Zaccara et al. 2019; Hasan et al. 2022).

Ikan-ikan dalam genus Dermogenys biasanya terbatas pada habitat air tawar dan muara tertentu, termasuk sungai-sungai besar seperti Mekong dan perairan di Kepulauan Indonesia dan Filipina (Samsudinet al. 2018). Sementara beberapa spesies paruh bengkok memiliki sebaran geografis yang cukup luas, spesies lainnya memiliki sebaran geografis yang terbatas (Samsudinet al. 2018). Selain itu, identifikasi morfologi Dermogenys cukup menantang karena ukuran individu yang kecil dan tumpang tindihnya karakteristik morfologi dalam genus ini (Samsudinet al. 2018). Burung paruh bengkok D. oriental memiliki sebaran yang terbatas di Kawasan Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, Indonesia. Meskipun demikian, populasinya ditemukan di beberapa sistem sungai atau daerah aliran sungai (Nuret al. 2019), dan dimorfisme seksual (sirip dubur yang dimodifikasi membentuk andropodium) merupakan ciri diagnostik dari genus Dermogenys yang bersifat vivipar (Meisner 2001). Dimorfisme seksual atau variasi morfologi antar jenis kelamin dapat muncul melalui proses evolusi dan ekologi, misalnya ketika setiap jenis kelamin telah mengembangkan kebiasaan yang berbeda dan adaptasi fungsional yang berkaitan (Acar dan Kaymak 2023). Diversifikasi seleksi dapat memfasilitasi perbedaan morfologi antara jenis kelamin, sementara sejarah kehidupan reproduksi jantan dan betina yang berbeda dapat membatasi dan mendorong dimorfisme dalam hal bentuk dan tingkat perbedaan antar populasi (Dorado et al. 2012). Namun, karakteristik morfo-meristik D. oriental belum dikarakterisasi secara rinci pada tingkat populasi, termasuk perbedaan antara jantan dan betina. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan morfologi dan morfo-meristik paruh bengkok jantan dan betina D. orientalis di tiga sungai yang berada di Kawasan Karst Maros-Pangkep.

Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada karakter morfometrik antara paruh bengkok jantan dan betina Dermogenys orientalis yang diambil sampelnya dari tiga sungai di Kawasan Karst Maros-Pangkep, dan antar sungai untuk masing-masing jenis kelamin. Paruh paruh jantan umumnya lebih kecil dari betina di ketiga sungai. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok lokasi/jenis kelamin dalam nilai rata-rata dari tiga hitungan meristik (sirip dada, sirip dubur dan sirip ekor). Hasil ini menunjukkan bahwa populasi di ketiga sungai kemungkinan merupakan populasi yang terpisah, dan bahwa D. orientalis menunjukkan dimorfisme seksual dalam bentuk tubuh selain sirip dubur yang dimodifikasi (andropodium) pada paruh-setengah jantan.

penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Sitasi: Umar, M. T., Omar, S. B. A., Hidayani, A. A., Al Ashad, A. N., Gazali, M., Umar, W., ¦ & Moore, A. M. (2024). Morphological analysis of the endemic freshwater halfbeak Dermogenys orientalis (Weber, 1894) in Maros Karst Region, South Sulawesi, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 25(9).
Sumber link:

AKSES CEPAT