Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas pada nasofaring dengan angka kejadian metastasis yang tinggi. KNF merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak ditemui di Indonesia, dan jika dilihat dari sebaran umurnya, KNF sering menyerang penduduk usia produktif.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien KNF di Rumah Sakit umum pendidikan Dr.Soetomo pada bulan Januari 2017-Desember 2018. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien KNF di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Bulan Januari 2017-Desember 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dasar yang diambil adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan. Keluhan yang dinilai merupakan keluhan utama pasien yang membuat pasien datang berobat yang tercantum pada data rekam medis.
Data dari 262 pasien menunjukkan bahwa angka harapan hidup lima tahun penderita KNF pada wanita adalah 84%, sedangkan pada pria adalah 78%. Keluhan utama pasien pada penelitian ini adalah benjolan di leher sebanyak 130 pasien, dengan sebaran pasien tertinggi berdasarkan stadium IV sebanyak 78 pasien, dan terbanyak adalah karsinoma non keratinisasi tipe tidak berdiferensiasi, yaitu sebanyak 245 pasien.
Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan; kelompok umur terbesar adalah 41-50 tahun. Pekerjaan sebagian besar adalah pegawai swasta, dan pendidikan terakhir sebagian besar penderita adalah SMA. Keluhan utama pasien terbanyak adalah adanya benjolan di leher, dan pasien datang dalam stadium lanjut di mana yang paling banyak ditemukan adalah stadium IV. Tipe histopatologi sebagian besar pasien adalah karsinoma non-keratinisasi tipe tidak berdiferensiasi.
Kanker merupakan penyebab kematian utama di negara berkembang dan penyebab kematian nomor dua di negara maju.Tingginya angka kejadian kanker di negara berkembang diakibatkan oleh bertambahnya usia penduduk dan perubahan gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan yang buruk.
Peningkatan kejadian kanker di seluruh dunia dari tahun 2008 hingga 2013 adalah sekitar 12,7 juta. Lebih dari 500.000 kasus di seluruh dunia, dengan angka kematian 270.000 per tahun, umumnya terjadi di negara berkembang. Di Eropa dan Amerika Serikat, tumor kepala dan leher merupakan keganasan yang jarang terjadi, dengan prevalensi 5-10% dari seluruh tumor, sedangkan di negara lain, seperti India, prevalensinya mencapai 45%.
Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher adalah karsinoma nasofaring, disusul karsinoma sinonasal, laring, dan persentase tumor ganas rongga mulut, amandel yang rendah, dan hipofaring.KNF menempati urutan keempat dari seluruh keganasan setelah kanker serviks, payudara, dan paru-paru. KNF merupakan tumor ganas nasofaring dengan insiden metastasis yang tinggi.
Mukosa dinding nasofaring terdiri dari epitel skuamosa pseudo-kolumnar yang berhubungan dengan jaringan limfoepitel di nasofaring. Mukosa yang menutupi dinding nasofaring secara histologis terdiri dari epitel skuamosa pseudo-kolumnar yang berhubungan dengan stroma limfoid submukosa dan kelenjar seromukosa atau jaringan limfoepitel di nasofaring.
Karsinoma nasofaring banyak terjadi di negara lain dan kelompok etnis tertentu seperti Cina, Asia Tenggara dan Afrika Utara. Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi penderita KNF yang tinggi di luar Tiongkok. Penelitian di Tiongkok Selatan, khususnya di Hong Kong dan Guangzhou, rata-rata KNF bisa mencapai 10-150 kasus per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Di negara-negara Barat, kejadian KNF jarang terjadi, dengan kejadian sekitar 0,5/100.000, dengan angka kejadian 1-2% dari seluruh kanker kepala dan leher.
Menurut distribusi usia, KNF adalah salah satu keganasan yang paling umum di negara-negara maju dan sering menyerang orang-orang pada masa-masa produktif. Oleh karena itu, biaya perawatan yang tinggi dan pengobatan yang lama menjadi masalah utama kanker. Hal ini mengakibatkan kerugian finansial bagi korban, keluarganya, dan pemerintah.
Metode penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan mengambil rekam medik pasien KNF yang berobat di Unit Rawat Jalan Unit THT Bedah Kepala dan Leher Divisi Onkologi Bedah Kepala dan Leher RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2017-Desember 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah seluruh pasien baru yang terdiagnosis KNF di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Januari 2017-Desember 2018.
Pasien mempunyai data rekam medis yang lengkap.Kriteria eksklusinya adalah data rekam medis yang tidak lengkap. Data dasar yang diambil adalah jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pekerjaan.Keluhan yang dinilai merupakan keluhan utama pasien yang menjadikan pasien datang berobat yang tercantum dalam data rekam medis.Stadium KNF, yaitu stadium pasien pertama kali ditegakkan, dicatat dalam data rekam medis, beserta jenis histopatologinya.
Pada penelitian sebelumnya, laki-laki mempunyai hubungan yang lebih erat dengan kejadian KNF dibandingkan perempuan.Angka harapan hidup lima tahun penderita KNF pada wanita sebesar 84%, sedangkan pada pria sebesar 78%.Temuan ini disebabkan oleh perbedaan kebiasaan merokok dan minum antara laki-laki dan perempuan serta fakta bahwa lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan yang merokok dan minum minuman beralkohol.
Pasien berjenis kelamin perempuan juga mempunyai prognosis yang lebih baik bukan hanya karena diagnosis yang lebih dini namun juga berkaitan dengan beberapa faktor intrinsik yang ada pada mereka yang berjenis kelamin perempuan. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Adriana dkk di RS Hasan Sadikin Bandung, yang menemukan bahwa pasien laki-laki memiliki kejadian kanker nasofaring tertinggi di antara 215 sampel pasien, yaitu 148 atau 68,8%, dibandingkan pasien perempuan sebanyak 67 atau 31,2%. Penelitian Torre dkk, menunjukkan hasil yang sama dimana laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2:1.
Dalam studi tahun 2016 di Malang, ditemukan distribusi yang seimbang antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi, dengan pendidikan rendah sebesar 56,25%, dan pendidikan tinggi sebesar 43,75%. Rendahnya tingkat pendidikan subjek berkaitan dengan kurangnya pengetahuan pasien terhadap penyakit yang dideritanya, misalnya pasien baru datang berobat setelah tumornya berada pada stadium lanjut.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah karakteristik KNF baru yang diperoleh dari Januari 2017-Desember 2018 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ditemukan 262 penderita KNF. Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, kelompok usia terbanyak adalah 41-50 tahun. Pekerjaan terbanyak adalah karyawan swasta, dan pendidikan terakhir penderita terbanyak adalah SMA. Keluhan utama penderita terbanyak adalah benjolan di leher, dan penderita datang dengan stadium lanjut di mana yang paling banyak ditemukan adalah stadium IV. Tipe histopatologi sebagian besar pasien adalah karsinoma non-keratinizing tipe tidak berdiferensiasi.
Penulis: Audi Wahyu Utomo, Achmad Chusnu Romdhoni
Link: https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4228





