UNAIR NEWS – Kawal Pariwisata Jawa Timur, Fakultas Vokasi 51动漫 (UNAIR) selenggarakan Symposium (Symphony of some aspect in tourism). Acara yang bertempat di Gedung ASEEC Tower pada Sabtu, (02/11/2023) itu berlangsung dengan berbagai agenda.
Berawal dengan pemutaran film karya himpunan mahasiswa pariwisata, acara berlanjut dengan pembukaan dengan tampilan tarian lenggang salah satu mahasiswa. Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, selaku Wakik Dekan I Fakultas Vokasi UNAIR mengucapkan turut bangga atas terselenggaranya acara Symposium 2023 oleh Himpunan Mahasiswa Pariwisata.
“Saya ucapkan selamat dan terima kasih kepada seluruh mahasiswa karena akhirnya acara Shymposium tahun ini bisa terselenggara kembali,” tuturnya.
Seminar Nasional
Hadir dalam tersebut Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembaban Parekraf, Ali Afandi S Pd MT. Memeriahkan acara seminar Dosen UNAIR, Dr Yuniawan Heru Santoso SE SSos MSi
dan Wowok Meirianto Founder Kemarang Group juga turut menyampaikan materi pemateri.
Dalam garis besar penyampaiannya, Ali Affandi menekankan bahwa Pariwisata Jawa Timur adalah Pariwisata Terbaik. Hal itu terbukti dengan penobatan desa wisata terbaik nasional 2023 yang jatuh kepada Desa Ketapanrame, Mojokerto.
“Tentu wilayah lain juga akan selalu kita dukung. Saat ini saja seperti di Surabaya dan Malang pemerintah sudah memfasilitasi bus untuk pariwisata secara gratis,” jelasnya.
Sambungnya, ke depan, tahun 2024, untuk memperluas pengembangan wisata di Jawa Timur Kemenparekraf akan mengusulkan sebanyak 15 wisata di ajang Kharisma Event Nusantara.

Teknologi, Pariwisata dan Tahun Politik
Menyambung dari penyampai materi mengenai kemajuan parisata Jawa Timur, Dr Yuniawan Heru menuturkan keterlibatan Artificial Intelegent (AI) dalam pariwisata. Menurutnya kombinasi teknologi AI sangat penting dalam mendukung pesatnya destinasi wisata yang ada.
“Teknologi hadir datang dengan upaya membuat strategi adaptasi untuk menghadapi problem di lingkungannya. Sama dengan pariwisata keterlibatan teknologi diperlukan dalam konten branding dan pemasaran pariwisata itu sendiri,” terangnya.
Ia juga menjelaskan, dengan berbagai kemudahan yang tersedia menimbulkan celah penyebaran informasi palsu. Hal itu dikarenakan AI masih berpeluang terjadi bias sistem dan dan praktik keamanan yang buruk.
“Makanya menyaring berita yang kita terima harus hati-hati utamanya di tahun politik seperti ini. Jangan sampai termakan hoax, terkadang jempol kita lebih cepat dari otak kita padahal belum tentu beritanya benar,” pungkas Ali.
Penulis: Rosita.
Editor: Nuri Hermawan.





