51动漫

51动漫 Official Website

Keamanan Imunoterapi Subkutan untuk Anak Alergi

Foto by Kompas com

Imunoterapi alergen (AIT), baik imunoterapi subkutan (SCIT) maupun imunoterapi sublingual (SLIT), efektif dalam mengurangi gejala dan penggunaan obat, pada pasien  dengan rhinitis alergi (RA) dengan atau tanpa asma alergi. AIT yang umum digunakan di Indonesia adalah SCIT. Untuk sistem pelayanan kesehatan swasta di Indonesia, hanya ada satu klinik alergi swasta yang menyediakan layanan khusus untuk anak alergi yang dilengkapi dengan layanan SCIT dan menerima rujukan khusus untuk anak alergi yang membutuhkan SCIT dari dokter umum, dokter anak, dan spesialis lain dari semua daerah di Indonesia.

SCIT dianggap aman dan dapat ditoleransi baik ketika injeksi dengan regulasi medis yang baik, oleh personel yang terlatih yang mampu mengenali dan mengatasi secara awal reaksi sistemik. SCIT pada anak selalu menjadi dilema bagi para dokter. Di satu sisi, ada bukti kuat yang mendukung efikasi, di sisi lain, anak-anak selalu menunjukkan resistensi yang lebih kuat terhadap injeksi SCIT. Selain itu, mereka sering mengalami infeksi saluran pernapasan atas yang menyerupai gejala alergi yang dapat terjadi sesudah SCIT dan dapat dianggap sebagai Efek Samping (ES) SCIT. 

Banyak penelitian yang mengkaitkan ketidakpatuhan pada jadwal dan penghentian SCIT dengan efek samping sistemik dan efek samping lokal SCIT, namun profil efek samping sistemik dan lokal SCIT pada penelitian-penelitian tersebut tidak dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan SCIT (kontrol), sehingga bisa jadi efek samping yang dilaporkan tersebut terjadi secara kebetulan (koinsiden), atau karena efek dari perjalanan penyakit alerginya (termasuk RA), atau karena efek dari obat standar (selain SCIT) yang diberikan.

Juga tidak banyak penelitian yang melaporkan bagaimana profil efek samping sistemik dan lokal pada pasien yang relatif patuh pada jadwal SCIT dan mampu menyelesaikan SCIT sampai pada fase pemeliharaan. Banyak penelitian mengumpulkan data dari lokasi  pemberian SCIT yang beragam.  Lokasi pemberian SCIT tampaknya mempengaruhi profil keamanan, yang mana profil keamanannya lebih baik bila di lokasi pelayanan yang memiliki fasilitas pengawasan medis fasilitas yang lebih baik. Kepatuhan pasien pada jadwal SCIT dan kepuasan pasien juga tergantung pada profesionalitas lokasi  pemberian SCIT.

Di antara 1098 pasien SCIT yang menerima injeksi SCIT, terdapat 196 pasien (17.25%) yang pernah mengalami ES lokal, dan ES lokal yang terjadi adalah sebanyak 537 kali atau 1.75% dari 30,744 kali injeksi SCIT yang diberikan. Jumlah ES lokal menurun seiring berjalannya waktu yaitu secara berurutan pada 0-3 bulan, 4-6 bulan, 7-9 bulan, 10-12 bulan, dan 13-18 bulan adalah 200, 157, 118, 38, dan 24. 

Di antara 1098 pasien SCIT yang menerima injeksi SCIT, terdapat 92 pasien (8.38%) yang pernah mengalami ES sistemik, dan ES sistemik yang terjadi adalah sebanyak 162 kali atau 0.53 % dari 30,744 kali injeksi SCIT yang diberikan. Kecenderungan ES sistemik seiring berjalannya waktu secara berurutan pada 0-3 bulan, 4-6 bulan, 7-9 bulan, 10-12 bulan, dan 13-18 bulan adalah  69, 42,  9, 24, dan 8 kali. Sebanyak 16 kejadian (100%) reaksi anafilaksis terjadi pada ES yang pertama. Ada 1 episode anafilaksis yang parah (dengan gejala dispnea berat, urtikaria, dan syok anafilaksis), tetapi hanya membutukan adrenalin sekali untuk membaik. Sebagian besar ES (468, 70.0%) terjadi pada fase build-up.

Di antara 1098 pasien Non-SCIT, pada saat yang sama dengan Pasien  SCIT yang menerima injeksi SCIT, tidak ada pasien Non-SCIT yang mengalami AE lokal, namun terdapat 18 pasien (1.64%) pasien Non-SCIT yang pernah mengalami AE sistemik dengan jumlah kejadian 46 kali (0.15%). AE sistemik yang terjadi secara berurutan (n,%) adalah rinokonjungtivitis (40, 0.13%) , asma (13, 0,04%), dan urticaria (2, 0.01%). Kecenderungan AE sistemik seiring berjalannya waktu secara berurutan pada 0-3 bulan, 4-6 bulan, 7-9 bulan, 10-12 bulan, dan 13-18 bulan adalah naik turun, yang mana secara berturut-turut kejadiannya adalah sebanyak  9, 15,  15, 1, dan 6.

Terjadinya systemic reactions (ES sistemik pada pasien SCIT dan AE sistemik pada pasien non-SCIT) berbeda bermakna pada periode 0-3 bulan, 4-6 bulan, dan 13-18 bulan dan tidak berbeda bermakna pada periode 7-9 bulan dan 10-12 bulan. Sementara itu reaksi lokal (ES lokal pada pasien SCIT dan AE lokal pada pasien Non-SCIT) berbeda bermakna pada semua periode.

Penulis: Anang Endaryanto

Link Jurnal:

AKSES CEPAT