Pandemi COVID-19 telah mengguncang dunia dengan berbagai tantangan kesehatan yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Di tengah upaya global mencari terapi yang efektif, perhatian pun tertuju pada solusi berbasis alam dan tradisi, termasuk tanaman obat yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal. Penelitian terbaru yang dilakukan di Provinsi Gorontalo, Indonesia, mengungkap kekayaan pengetahuan etnomedisinal masyarakat dalam menangani penyakit terkait gejala ringan COVID-19 menggunakan tanaman obat.
Gorontalo, sebuah provinsi di bagian timur Indonesia, memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan budaya penggunaan tanaman obat yang kaya. Dalam kondisi terbatasnya fasilitas kesehatan, masyarakat setempat mengandalkan pengetahuan tradisional untuk menjaga kesehatan dan mengatasi penyakit, termasuk batuk, pilek, demam, pusing, dan diare攇ejala-gejala yang sering muncul pada kasus ringan COVID-19.
Penelitian yang dilakukan antara Juni 2021 hingga Maret 2022 ini melibatkan 105 informan dari 35 desa. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, wawancara terbuka, dan kuesioner semi-terstruktur. Responden terdiri dari berbagai kelompok usia dan latar belakang, dengan mayoritas perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Studi ini berhasil mendokumentasikan 82 spesies tanaman obat dari 40 famili yang digunakan masyarakat Gorontalo untuk mengatasi beberapa penyakit terkait dengan gejala ringan COVID-19. Tanaman-tanaman tersebut meliputi jenis yang mudah ditemukan di pekarangan maupun hutan sekitar. Beberapa tanaman yang paling sering digunakan antara lain: Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br. atau daun miyana untuk mengatasi batuk, dengan 41 laporan penggunaan; Zingiber officinale Roscoe atau jahe untuk meredakan pilek dan demam; Bryophyllum pinnatum (Lam.) Oken atau cocor bebek dan Curcuma longa L. atau kunyit untuk demam; Allium sativum L. atau bawang putih untuk pusing; serta Psidium guajava L. atau jambu biji untuk diare. Dari temuan tersebut, jambu biji tercatat sebagai tanaman yang paling populer dengan nilai RFC (Relative Frequency of Citation) 0,62 dan tingkat fidelitas penggunaan mencapai 62 persen.
Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah daun (46 persen), sedangkan metode pengolahan yang paling umum adalah dengan direbus (31 persen) dan dikonsumsi secara oral (77 persen). Ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional lokal sangat bergantung pada metode yang praktis dan bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
Menariknya, sejumlah tanaman yang digunakan juga telah diteliti secara ilmiah. Misalnya, ekstrak daun miyana terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap patogen penyebab batuk seperti Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus. Jahe dengan kandungan senyawa aktif seperti gingerol dan allicin, selain memiliki efek antiinflamasi, juga diketahui dapat menghambat pertumbuhan virus influenza dalam uji in vitro dan in vivo.
Kunyit, dengan kandungan kurkuminnya, dikenal sebagai imunomodulator dan antioksidan kuat. Sementara jambu biji mengandung vitamin C dan flavonoid yang membantu meningkatkan sistem imun serta mengatasi diare.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal memiliki nilai ilmiah yang besar dan dapat menjadi basis untuk pengembangan fitofarmaka atau suplemen berbasis herbal. Penggunaan tanaman tradisional sebagai terapi pendukung atau pelengkap dalam penanganan COVID-19 memang perlu diteliti lebih lanjut melalui uji preklinis dan klinis. Namun, sebagai langkah awal, dokumentasi ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan kekayaan alam sekitarnya secara bijak dan berkelanjutan. Penting pula untuk dicatat bahwa tidak ditemukan efek samping serius dari penggunaan tanaman-tanaman tersebut di masyarakat Gorontalo dalam penelitian ini. Ini menjadi peluang untuk mengembangkan tanaman herbal asli Indonesia sebagai fitofarmaka yang aman dan efektif.
Selain itu, penting untuk mendokumentasikan pengetahuan ini secara sistematis agar tidak hilang bersama waktu. Pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi perlu dijaga sebagai bagian dari warisan budaya dan sumber inovasi pengobatan masa depan.
Kearifan lokal masyarakat Gorontalo dalam menggunakan tanaman obat untuk mengatasi gejala ringan COVID-19 menunjukkan potensi besar yang perlu mendapat perhatian lebih dalam dunia kesehatan modern. Melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi antara peneliti, praktisi kesehatan, dan masyarakat, warisan herbal Nusantara dapat diangkat menjadi solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis budaya, tetapi juga berbasis bukti ilmiah.
Penulis: Prof. Dr. Wiwied Ekasari, Dra., Apt., M.S
Link:





