Artikel ini membahas hubungan antara kemampuan perubahan organisasi (organizational change capability), keterampilan kepemimpinan, modal psikologis (psychological capital), serta nilai-nilai bisnis keluarga dalam konteks keberlanjutan usaha, khususnya pada perusahaan keluarga di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tantangan keberlanjutan bisnis keluarga lintas generasi, di mana sebagian besar perusahaan keluarga tidak mampu bertahan hingga generasi ketiga.
Perusahaan keluarga memiliki karakteristik unik karena kepemilikan, pengelolaan, dan kontrol berada dalam lingkup keluarga. Oleh karena itu, nilai-nilai keluarga menjadi fondasi penting dalam menentukan arah bisnis, pengambilan keputusan, serta keberlanjutan jangka panjang. Namun, di sisi lain, perusahaan keluarga sering dianggap konservatif dan kurang adaptif terhadap perubahan. Paradoks muncul karena faktanya banyak perusahaan keluarga justru menjadi inovator terkemuka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana keterampilan kepemimpinan dan modal psikologis memengaruhi nilai-nilai bisnis keluarga, serta bagaimana kemampuan perubahan organisasi berperan sebagai variabel moderasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik Structural Equation Modeling (SEM), melibatkan 200 responden dari perusahaan keluarga skala kecil dan menengah di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai bisnis keluarga tidak bersifat statis, melainkan berkembang secara dinamis seiring dengan peningkatan kompetensi kepemimpinan dan modal psikologis. Keterampilan kepemimpinan yang meliputi kemampuan kognitif, interpersonal, bisnis, dan strategis terbukti berpengaruh positif terhadap penguatan nilai bisnis keluarga. Selain itu, modal psikologis seperti optimisme, kepercayaan diri, harapan, dan ketahanan mental juga berkontribusi signifikan dalam meningkatkan nilai tersebut.
Temuan penting lainnya adalah bahwa kemampuan perubahan organisasi memiliki pengaruh paling dominan terhadap nilai bisnis keluarga. Kemampuan ini mencerminkan kapasitas organisasi untuk beradaptasi, belajar, dan mengelola perubahan secara efektif. Dengan kemampuan perubahan yang baik, perusahaan keluarga mampu mempertahankan relevansi dan daya saing di tengah lingkungan bisnis yang dinamis.
Selain pengaruh langsung, kemampuan perubahan organisasi juga berperan sebagai variabel moderasi yang memperkuat hubungan antara kepemimpinan, modal psikologis, dan nilai bisnis keluarga, meskipun efek moderasinya relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keluarga tidak menghambat perubahan, tetapi justru dapat diperkuat melalui kemampuan organisasi dalam beradaptasi.
Kesimpulan penelitian ini yakni, kemampuan perubahan organisasi merupakan faktor utama dalam memperkuat nilai bisnis keluarga, diikuti oleh keterampilan kepemimpinan dan modal psikologis. Ketiga faktor ini saling berinteraksi dalam mendukung keberlanjutan bisnis keluarga, sekaligus menjawab paradoks antara konservatisme nilai dan kebutuhan akan inovasi.
Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., M.T.
Link:





