Kelumpuhan saraf okulomotor menghadirkan tantangan terbesar dalam pengobatan klinis di antara saraf kranial lainnya yang menginervasi otot ekstraokular. Pada kasus kelumpuhan syaraf okulomotirus yang menyebabkan paralitik eksptropia ( mata juling yang bergulir keluar), sering kali memerlukan teknik fiksasi periosteal dan menggunakan jahitan Callahan yang kompleks. Kami menyajikan laporan kasus paralitik eksotropia dimana otot-otot ekstraokuli yang dipersyarafi dengan syaraf okulomotorius mengalami kelumpuhan padaseorang pria.
Seorang pria berusia 32 tahun dengan keluhan utama juling di kedua mata dan pada pemeriksaan menyeluruh didapatkan pasien memiliki kelumpuhan saraf okulomotor parsial terisolasi. Pada pemeriksaan didapatkan kondisi pada kedua mata dengan eksotropia diopter 40 prisma dan tidak ada batasan dalam force duction test. Pemeriksaan segmen posterior pasien menunjukkan hasil normal, dan diagnosis eksotropia paralitik pada kedua mata ditegakkan.
Pemeriksaan segmen posterior pasien menunjukkan hasil normal, dan diagnosis eksotropia paralitik bilateral karena kelumpuhan saraf okulomotor ditegakkan. Pasien menjalani reses otot lateral rektus 7,5mm dengan dilanjutkan reseksi otot medial rektus 6mm di mata kanan . Pada pasien didapatkan hasil kesejajaran bola mata yang baik.
Teknik operasi kombinasi reseksi rektus medial dan resesi rektus lateral untuk kasus paralitik strabismus akibat kelumpuhan saraf okulomotor memberikan hasil yang baik dan stabilitas pada jangka panjang.
Penulis: Kafin Rifqi, Rozalina Loebis
Link:
Baca juga: Keganasan Intrakranial sebagai Penyebab Utama Strabismus Paralitik





