51动漫

51动漫 Official Website

Kebutuhan Oksigen dan Kelainan Paru pada Pasien COVID-19

Penyakit COVID-19 telah menjadi pandemi dunia. Pasien yang menderita COVID-19 sering mengalami pneumonia (radang paru) yang dapat menyebabkan kematian. Kelainan paru dan kebutuhan oksigen sering ditemukan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

Penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2) menjadi pandemi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Penularan melalui droplet selama periode inkubasi tanpa gejala selama 2-10 hari memudahkan penyebaran kasus COVID-19. Semakin parah inflamasi saat terinfeksi COVID-19, menyebabkan semakin parah perawatan di rumah sakit. Lonjakan sitokin atau badai sitokin adalah hal yang jamak dikenal pada kasus COVID-19 yang berdampatk pada kerusakan pada paru.

Sebagian besar pasien COVID-19 memiliki gejala ringan hingga sedang, tetapi sekitar 15% dapat mengalami pneumonia berat. Sekitar 5% mengalami sindrom distress pernapasan akut (ARDS), syok septik, dan kegagalan multiorgan, yang memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU). Kelainan pneumonia dapat diamati dengan gambar foto polos dada dengan menggunakan indeks Brixia. Meskipun foto polos dada ini memiliki sensitivitas rendah, pemeriksaan ini murah dan mudah untuk melihat perubahan kelainan paru. Tingkat keparahan COVID-19 berkaitan dengan kelainan paru dan kesembuhan pasien.

Hipoksia adalah kondisi yang sering dialami pasien pneumonia COVID-19. Suplementasi oksigen adalah landasan manajemen untuk pasien COVID-19 yang memerlukan rawat inap. Keterlambatan dalam pemberian oksigen pada hipoksia akibat pneumonia dapat berdampak pada tingkat keparahan, kebutuhan mesin ventilator dan meningkatkan kematian pasien. Gagal napas pada COVID-19 terkait dengan sindrom distress pernapasan akut (ARDS), yang memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Penelitian yang telah dipublikasikan dengan judul 淐hest X-Ray using Brixia and Fractional Inspiratory Oxygen as Severity and Mortality predictor of COVID-19 ini bertujuan untuk menentukan skor Brixia awal dan FiO2 sebagai prediktor keparahan dan kematian COVID-19. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari pasien COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit 51动漫 sejak Maret hingga September 2021. Tiga penilai mengevaluasi foto polos dada dengan skor Brixia, dan fraksi inspirasi oksigen (FiO2) dihitung sebagai 0,21 + (4x aliran udara). Pasien dengan TB paru, asma, COPD, HIV/AIDS, dan wanita hamil dikecualikan dari penelitian ini. Penelitian yang telah dipresentasikan dalam acara ICMHI tahun 2023 ini mengikutkan sebanyak 72 responden adalah 47% pria, dengan rata-rata usia 50,79 tahun. Skor Brixia dan FiO2 rata-rata kelompok COVID-19 yang berat (severe) ternyata lebih lebih tinggi daripada kelompok yang tidak berat (non-severe) dan lebih tinggi pada kelompok yang tidak bertahan hidup vs bertahan hidup (p=0,001). Kappa interobserver atau perbedaan pembacaan  Brixia oleh 3 ahli adalah 0,788; p<0.05, artinya masih dapat ditolerir. Kurva Operasi Penerima Karakteristik (ROC) mendapatkan Area Under Curve (AUC) pada Brixia untuk keparahan = 0,874 dan kematian = 0,759, bermakna secara statistik. ROC pada FiO2 untuk keparahan = 0,804; dan kematian = 0,784; bermakna secara statistik. Skor Brixia sebesar 10,50 memiliki sensitivitas (Sn)=0,778, spesifisitas (Sp)=0,778 untuk keparahan dan Sn=0,739, dan Sp=0,612 untuk kematian. Batas nilai FiO2 sebesar 47,5% (setara dengan 6 liter per menit oksigen) memiliki Sn=0,778 dan Sp=0,667 untuk keparahan dan Sn=0,826, dan Sp=0,571 untuk kematian. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah  bahwa foto polos dada pada awal masuk rumah sakit yang dinilai dengan skor Brixia dan penilaian fraksi inspirasi oksigen dapat digunakan sebagai prediktor awal keparahan dan kematian COVID-19.

Penulis: Alfian Nur Rosyid

Jurnal: Chest X-Ray using Brixia and Fractional Inspiratory Oxygen as Severity and Mortality predictor of COVID-19

AKSES CEPAT