Fenomena kecanduan olahraga dan pola makan ekstrem untuk membentuk tubuh berotot semakin banyak terjadi di kalangan dewasa muda. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim lintas negara, termasuk dari 51动漫 dan National Cheng Kung University Taiwan, menelusuri faktor-faktor psikologis yang menjembatani hubungan antara muscle dysmorphia gangguan persepsi tubuh terhadap kekurangan otot, dengan kecanduan olahraga dan perilaku makan berorientasi pada pembentukan otot.
Penelitian ini melibatkan 1.500 partisipan muda Taiwan berusia rata-rata 22 tahun. Melalui survei daring, peneliti menganalisis hubungan antara gangguan persepsi otot, tekanan psikologis, stigma berat badan, dorongan untuk berotot, dan keinginan untuk tubuh ramping. Analisis statistik dilakukan menggunakan model mediasi berganda (structural equation modeling), untuk mengetahui mekanisme psikologis yang memengaruhi hubungan antarkomponen tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa weight self-stigma (stigma diri terkait berat badan), dorongan untuk berotot (drive for muscularity), dan dorongan untuk ramping (drive for leanness) berperan penting dalam menjembatani hubungan antara muscle dysmorphia dan kecanduan olahraga. Artinya, individu yang memiliki pandangan negatif terhadap bentuk tubuhnya cenderung terdorong berlebihan untuk berolahraga demi mencapai idealisasi tubuh tertentu. Sebaliknya, tekanan psikologis tidak berpengaruh langsung terhadap kecanduan olahraga, namun berkontribusi terhadap pola makan berorientasi otot.
Temuan ini juga mengungkap perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan orientasi seksual. Laki-laki lebih sering menunjukkan perilaku makan ekstrem untuk memperbesar otot, dipengaruhi oleh stigma berat badan dan keinginan memiliki tubuh ramping. Pada peserta heteroseksual, dorongan untuk menjadi ramping lebih kuat berhubungan dengan perilaku makan berorientasi otot dibandingkan pada peserta non-heteroseksual.
Secara klinis, hasil ini menunjukkan perlunya pendekatan intervensi psikologis yang berbeda antara kecanduan olahraga dan gangguan makan. Kecanduan olahraga lebih dipengaruhi oleh faktor kognitif seperti dorongan berotot dan leanness, sehingga terapi perilaku kognitif (CBT) dapat menjadi pendekatan utama. Sementara itu, pola makan ekstrem memerlukan pendekatan yang juga menyasar aspek afektif seperti stigma diri dan tekanan emosional, misalnya kombinasi CBT dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap mekanisme psikologis di balik perilaku kebugaran ekstrem. Upaya pencegahan dan intervensi sebaiknya tidak hanya berfokus pada perilaku lahiriah, tetapi juga pada faktor-faktor psikologis yang mendasarinya. Dengan demikian, pembentukan tubuh ideal dapat dilakukan secara sehat, tanpa menimbulkan gangguan mental maupun sosial.
Penulis: Ferry Efendi dan Tim
Informasi tulisan ini dapat dilihat di:





