Perubahan iklim merupakan ancaman utama bagi sebagian besar orang di seluruh dunia. Dalam survei tahun 2021 terhadap 76.328 pengguna Facebook di 31 negara, sebagian besar responden melaporkan bahwa mereka khawatir dengan perubahan iklim (Leiserowitz et al., 2021). Efek akut dan jangka panjang dari perubahan iklim yang telah menjadi pengalaman nyata bagi sebagian besar populasi dunia telah mengakibatkan peningkatan orang yang mengalami tekanan psikologis sehubungan dengan krisis iklim dan lingkungan (Ojala dkk., 2021; Pihkala, 2020). Hal tersebut biasa disebut sebagai kecemasan lingkungan atau kecemasan iklim, pengalaman tekanan terkait lingkungan mencakup emosi negatif seperti ketakutan, kekhawatiran, rasa bersalah, rasa malu, keputusasaan dan keputusasaan (Ojala et al., 2021).
Sampai saat ini, sebagian besar wacana dan penelitian arus utama tentang emosi negatif atas perubahan iklim berfokus pada pengalaman dan perspektif demografis kulit putih dan Barat (Ray, 2021). Namun, ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim sama sekali tidak terbatas pada dunia utara (Global North). Dalam jajak pendapat internasional baru-baru ini terhadap orang dewasa muda, sebagian besar responden di empat negara Selatan: Brasil (86%), India (80%), Nigeria (70%), dan Filipina (92%), melaporkan merasa takut tentang masa depan karena perubahan iklim (Hickman et al., 2021). Kecemasan iklim juga telah dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk di antara sampel orang dewasa muda Filipina (Reyes et al., 2021).
Studi yang kami lakukan menginvestigasi prediktor yang masuk akal dari kecemasan iklim, dan memeriksa bagaimana kecemasan iklim berhubungan dengan tindakan pro-lingkungan dan kesejahteraan mental di 32 negara.
Terdapat beberapa hipotesis besar dalam riset kami yaitu:
- Pengalaman terkait banjir yang pernah dialami sebelumnya secara positif berhubungan dengan kecemasan iklim
- Norma deskriptif yang dirasakan dari respons emosional negatif terhadap perubahan iklim di antara acuan-acuan sosial utama secara positif berhubungan dengan kecemasan iklim
- Tingkat paparan informasi tentang dampak dan solusi perubahan iklim di media serta perhatian terhadap media yang memberitakan isu tersebut berhubungan dengan kecemasan iklim
- Kecemasan iklim secara positif berhubungan dengan perilaku pro-lingkungan dan keterlibatan dalam aktivisme lingkungan
- Kecemasan iklim berbanding terbalik dengan kesejahteraan mental.
Metode dan Hasil
Data dikumpulkan dari 32 negara (N = 12, 246; MUsia= 23,1 tahun, SDusia = 7,0 tahun, Wanita = 63,9%, Pria = 32,7%) dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Kuesioner diberikan dalam format kertas dan pensil atau daring , tergantung pada apa yang paling praktis di setiap negara.
Terdapat beberapa instrumen yang digunakan yaitu:
1. State-Trait Anxiety Inventory (Spielberger, 1983) untuk mengukur kecemasan iklim dengan didasarkan oleh komponen kecemasan sebagai state
2. Pengalaman masa lalu dengan banjir diukur dengan butir pernyataan yang diadopsi dari instrument yang dibuat van der Linden (2014).
3. Norma deskriptif mengenai respon emosional negatif terhadap perubahan iklim diukur dengan empat butir pernyataan (misalnya, 渒ebanyakan orang yang dekat dengan saya khawatir tentang efek masa depan dari perubahan iklim, 渒ebanyakan orang yang dekat dengan saya mengungkapkan perasaan tertekan ketika berbicara tentang perubahan iklim
4. Paparan dan perhatian terhadap media diisi dengan menunjukkan frekuensi partisipan membaca atau mendengar tentang dampak perubahan iklim dan solusi perubahan iklim. Studi ini juga meminta partisipan untuk menunjukkan jumlah perhatian yang mereka berikan pada informasi terkait perubahan iklim pada skala 4 poin mulai dari ‘tidak ada’ hingga ‘banyak’ (Slater & Rasinski, 2005)
5. Perilaku pro-lingkungan diukur dengan indeks multi-item perilaku konsumsi berkelanjutan yang diadaptasi dari Ojala (2012).
6. Kesejahteraan mental diukur dengan menggunakan indeks kesejahteraan WHO-5 (WHO, 1998).
Kami mendapatkan hasil bahwa pengalaman banjir sebelumnya dalam lima tahun sebelum waktu pengumpulan data tidak secara signifikan memprediksi kecemasan iklim; terlepas dari apakah banjir hanya dialami satu atau dua kali. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan kecemasan iklim berhubungan dengan sifat informasi yang diterima orang melalui media. Bukan hanya volume paparan media, tetapi isi informasi dan jumlah perhatian orang terhadapnya. Informasi tentang dampak perubahan iklim lebih berkorelasi dengan kecemasan iklim daripada informasi tentang solusi perubahan iklim. Norma deskriptif yang dirasakan tentang respon emosional terhadap perubahan iklim juga memiliki peran dalam menentukan bagaimana orang mengalami kecemasan iklim.
Data yang kami miliki juga menunjukkan bahwa cara kecemasan iklim berkorelasi dengan tindakan pro-lingkungan berbeda di berbagai negara. Hubungan yang signifikan antara kecemasan iklim dan aktivisme lingkungan sebagian besar hanya terlihat pada negara-negara Barat dan relatif makmur. Sebaliknya, kecemasan iklim memiliki hubungan terbalik yang signifikan dengan kesejahteraan mental di semua negara (kecuali Jepang); Hal ini mengindikasikan bahwa kecemasan iklim dapat berdampak buruk pada kesejahteraan mental terlepas di mana orang tinggal.
Penulis: Dr. Rahkman Ardi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ogunbode, C.A., Doran, R., Hans, D., Ojala, M., Salmela-Aro, K., van den Broek, K.L., (2022). Climate anxiety, wellbeing and pro-environmental action: correlates of negative emotional responses to climate change in 32 countries. Journal of Environmental Psychology, 84 doi:





