Stunting merupakan masalah gizi kronis yang sering dialami oleh anak di dunia. Kejadian stunting menandai bahwa anak tersebut tidak cukup gizi. Ketidakcukupan gizi merupakan salah satu faktor penyebab stunting yang juga dapat dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga. Sebuah penelitian menganalisis hubungan status ekonomi keluarga dan kecukupan gizi dengan stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Surabaya. Dengan menggunakan desain cross sectional kepada 160 ibu dan anak usia 6-24 bulan yang dipilih menggunakan consecutive sampling, dilaksanakanlah penelitian tersebut di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kalikedinding, Putat Jaya, Bangkingan, dan Sememi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki pendapatan dibawah UMK kota Surabaya. Sebagian dari anak-anak tersebut memiliki kecukupan energi dan karbohidrat pada kategori defisit. Sebaliknya, kecukupan protein dan lemak terbanyak berada pada kategori lebih. Sementara itu, untuk kecukupan zat gizi mikro Fe sebagian berada pada kategori kurang, sedangkan untuk kecukupan zink dan kalsium sebagian besar dalam kategori cukup.
Diketahui, terdapat hubungan signifikan antara kecukupan zat besi dan kalsium dengan kejadian stunting anak usia 6-24 bulan. Dengan demikian, diharapkan orang tua dapat lebih memperhatikan pola konsumsi anak, baik secara kualitas dan kuantitas untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi. Selain itu, bagi pemerintah dapat menyelenggarakan sosialisasi secara masif kepada seluruh elemen masyarakat terkait pentingnya praktik pemberian makan pada anak sejak dini.
Penulis: Siti Rahayu Nadhiroh
Referensi: Ayuningtyas, H., Nadhiroh, S. R. ., Milati, Z. S. ., & Fadilah, A. L. . (2022). Status Ekonomi Keluarga dan Kecukupan Gizi dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan di Kota Surabaya. Media Gizi Indonesia, 17(1SP), 145“152.





