Penyakit ginjal kronis (PGK) menyebabkan beban besar pada sistem perawatan kesehatan global, karena terkait konsekuensi klinis dan ekonomi yang tidak menguntungkan. Akan tetapi, pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap PGK masih terbatas. Identifikasi dini sangat penting untuk mencegah dan menunda perkembangan PGK.
PGK berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian, gangguan kardiovaskular, dan peningkatan biaya pengobatan. Banyak pasien PGK disertai dengan hipertensi, diabetes, dan atau penyakit jantung koroner, yang karena saling keterkaitan di antaranya, dan menyulitkan manajemen yang tepat.
Hemodialisis (HD) telah muncul sebagai landasan dalam pengelolaan PGK tingkat lanjut, yang berfungsi sebagai modalitas terapi yang penting untuk meringankan gejala uremia dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Hemodialisis dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas hidup pasien PGK, namun pengaruhnya terhadap parameter hemostasis tetap menjadi area yang terus menjadi perhatian yang menarik untuk dikaji.
Selama fase awal kondisi PGK umumnya dikaitkan dengan kecenderungan pembekuan darah yang berlebihan. Sementara pada tahap akhir penyakit, pasien yang menjalani hemodialisis memiliki banyak kelainan hemostasis, termasuk diantaranya waktu perdarahan yang memanjang, jumlah trombosit yang berubah, PT dan aPTT yang memanjang, FDP dan D-dimer yang meningkat, aktivitas vWF meningkat, dan pembentukan trombin yang menigkat. Perubahan-perubahan ini dihasilkan dari kombinasi toksisitas uremik, disfungsi endotel, keadaan inflamasi, dan efek prosedur hemodialisis itu sendiri. Memahami mekanisme ini sangat penting untuk mengelola dan mengurangi perdarahan dan risiko trombosis pada populasi pasien PGK dengan hemodialisis.
Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa pasien PGK, khususnya mereka yang menjalani hemodialisis, mungkin mengalami perubahan parameter hemostasis, yang mengarah pada peningkatan risiko perdarahan atau peristiwa trombotik. Interaksi yang rumit antara disfungsi ginjal, proses dialisis itu sendiri, dan dampak yang dihasilkan pada hemostasis belum sepenuhnya dipahami. Aktivasi leukosit yang dapat diamati karena hemodialisis berfungsi sebagai indikator yang mengarah ke inisiasi perubahan kardiovaskular. Aktivasi trombosit berperan dalam peningkatan kerentanan terhadap penyakit tromboemboli. Meskipun antikoagulasi sistemik selama sesi hemodialisis, konfigurasi ekstrakorporeal terus berlanjut untuk memicu aktivasi koagulasi.
Bagaimana efek hemodialisis pada parameter hemostasis pada pasien PGK. Hemodialisis tampaknya memperkuat potensi trombosis meskipun kerusakan trombosit yang berkelanjutan dapat mengimbangi kerentanan yang meningkat terhadap trombotik pasca kejadian dialisis. Interaksi yang rumit yang melibatkan sel darah merah, trombosit, pembentukan trombus, interaksi endotel, dan komponen koagulasi dalam plasma turut berperan. Tes skrining hemostasis, serta pengukuran koagulasi, fibrinolisis, dan protein inhibitor, menunjukkan perbedaan hasil pada pra-HD dibandingkan dengan kontrol dan pasca-HD. Sementara penelitian dengan ukuran sampel kecil telah memberikan wawasan awal tentang peningkatan yang signifikan dari parameter hemostatik pasca-HD pada pasien PGK terminal.
Hemostasis adalah proses yang rumit dimana tubuh secara alami menghentikan perdarahan dan menjaga darah dalam keadaan cair di dalam pembuluh darah. Prosesvmenghentikan pendarahan dari pembuluh darah terdiri dari serangkaian fase yang saling berhubungan, yang hasil akhirnya adalah terbentuknya 渟umbat yang menutup bagian pembuluh darah yang terluka. Kaskade hemostasis ini dibagi menjadi empat tahap yang berbeda: (1) kontraksi pembuluh darah, (2) pembentukan sumbat 渢rombosit sementara, (3) inisiasi kaskade koagulasi, dan (4) pembentukan 渟umbat fibrin.
Pada PGK terminal, hemostasis secara signifikan terganggu, yang mengarah ke kompleks interaksi antara perdarahan dan kecenderungan trombotik. Terdapat hubungan antara tingkat penanda aktivasi koagulasi yang lebih rendah dari normal dan trombosit yang belum matang yang lebih rendah selama prosedur hemodialisis. Sebagai hasilnya, disarankan agar semua pasien diskrining secara tepat khususnya profil koagulasi dan jumlah trombosit sebelum dan sesudah dialisis untuk mengurangi potensi komplikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa PGK memerlukan berbagai kelainan parameter hematologi, sehingga memerlukan evaluasi dan manajemen yang cermat.
Penatalaksanaan gangguan trombotik dan perdarahan pada pasien dengan PGK terminal penuh tantangan. Gangguan trombotik memerlukan keseimbangan yang cermat antara mencegah pembentukan bekuan dan menghindari perdarahan yang berlebihan, terutama mengingat perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada pasien PGK.
Pemantauan rutin reguler, dosis individual, dan pendekatan multidisiplin sangat penting untuk mengoptimalkan hasil dan mengurangi risiko pada populasi pasien. Penelitian dan pengembangan strategi terapeutik berkaitan perubahan hemostasis diperlukan untuk meningkatkan pengelolaan gangguan pada PGK terminal.
Penulis: Yetti Hernaniningsih
Sumber Jurnal: Abnormalities in Hemostatic Parameters Related to Hemodialysis in End-stage Kidney Pathology: A Narrative ReviewPharmacognosy Journal, Vol 16, Issue 5, Sep-Oct, 2024
Link:
Baca juga: Antioksidan SS-31 Cegah Perburukan Gagal Ginjal pada Diabetes





