51动漫

51动漫 Official Website

Kelelahan pada Perawat, Bagaimana Mencegahnya?

Tenaga medis dan staff yang bekerja di rumah sakit seperti dokter dan perawat terpapar faktor risiko psikososial sebagai konsekuensi dari pekerjaan. Faktor risiko psikososial tersebut meliputi beban kerja intensitas tinggi, bekerja sendiri, kurangnya dukungan sosial, kurangnya waktu luang, giliran yang tidak ramah, pasien kekerasan, kasar atau menuntut, pasien sakit parah. Faktor-faktor risiko ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan kesehatan mental mereka. Konsekuensi negatif dari paparan faktor risiko psikososial menimbulkan masalah serius tidak hanya untuk kesejahteraan fisik dan psikologis, tetapi juga untuk kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien mereka.

Burnout dalam kehidupan tenaga kesehatan adalah istilah yang digunakan untuk  menggambarkan keadaan psikologis, yang muncul setelah lama terpapar faktor risiko psikososial sebagai konsekuensi dari bekerja dalam kontak dengan orang-orang yang menderita sakit. Hal ini ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi dan penurunan prestasi pribadi. Penyebab burnout lebih banyak terkait dengan lingkungan kerja psikososial (beban kerja yang berlebihan, kurangnya kontrol pekerjaan, rendahnya dukungan sosial pekerjaan, kurangnya otonomi, tekanan waktu, banyak kontak langsung dengan pasien, dll), daripada dengan faktor pribadi.

Aspek psikososial lingkungan kerja mempengaruhi burnout pada perawat, hal ini disebabkan tingginya tuntutan kerja perawat terutama pada masa pandemi menyebabkan  perawat harus  bekerja  dan  lebih  bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Tuntutan pekerjaan  seorang  perawat  dapat  disiasati  dengan  membagi tugas  kepada  perawat  secara  adil  dan  memberikan  tenggat  waktu, terutama pada wilayah administrasi yang lebih  longgar. Dengan demikian, perawat tidak merasa pekerjaannya menumpuk dan harus melakukan banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Kondisi peran ganda yang dimiliki perawat perempuan juga merupakan indicator psikososial lingkungan kerja yang paling mendukung terjadinya burnout. Perawat mempunyai peran menangani pasien di bidang kuratif, namun juga bertanggung jawab terhadap pelaksanaan laporan harian, dan administratif lainnya. Dengan demikian, perawat kesulitan membagi waktu dalam menyelesaikan tugas mereka. Di rumah, perempuan seringkali diharapkan untuk menjaga anak-anaknya, menyayangi dan merawat suaminya. Konflik peran ganda sebagai konflik yang muncul akibat tanggung jawab pekerjaan yang mengganggu tuntutan, waktu dan ketegangan dalam keluarga.

Program kesehatan dan keselamatan, seperti konseling, pelatihan Kesehatan mental, dan acara mindfulness harus dilakukan untuk kesehatan mental dan sosial perawat.  Selain itu, pembagian tugas tidak hanya kepada perawat tetapi juga kepada praktisi kesehatan lainnya terutama pada aspek preventif dan administratif akan berguna untuk mengurangi tuntutan pekerjaan perawat yang akan berdampak pada burnout.

Meskipun terdengar berat, tapi burnout bisa diatasi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan perawat untuk mengendalikan burnout di tempat kerja. Penting sekali untuk metapkan batas pribadi dan profesional dengan tegas. Hal ini agar perawat bisa menikmati masa di luar jam kerja dengan maksimal. Selain itu, perawat harus mampu mengontol diri dalam mengambil pekerjaan tambahan, terutama jika pekerjaan utama belum selesai.

Dalam banyak kondisi, perawat harus berkompromi dengan situasi di tempatnya bekerja. Seperti kekurangan personel memaksa untuk memperpanjang jam kerja. Tapi ini bisa diatasi dengan mengambil day off. Selain itu, rekan kerja yang cocok tak bisa dipilih. Jalan keluar dari masalah tersebut adalah komunikasi yang jelas dan efektif. Komunikasi yang terjalin tidak baik bisa membuat seorang perawat burnout. Ini terjadi karena mereka berinteraksi dan berbagi informasi dengan dokter, sesama perawat, teknisi alat medis, pasien dan keluarganya. Hal tersebut dapat diatasi dengan mengutamakan komunikasi langsung secara dua arah yang sederhana (face to face).

Lingkungan kerja dapat mencegah resiko burnout atau kelelahan pada perawat dengan meningkatkan dukungan dari manajer atau rekan kerja baik sosial maupun psikologis, penerapan komunikasi efektif, perilaku caring oleh manajer perawat ata pemimpin, penetapan gaya kepemimpian yang sesuai. Pentingnya pemimpin keperawatan dalam mengurangi burnout dan perilaku ketidakpuasan perawat di tempat kerja dengan mengidentifikasi dan mengelola perilaku tersebut, mencari solusi di masa depan untuk mencegah dan menghilangkan perilaku memperkuat pemberdayaan psikologis.

Penulis: Indriati Paskarini, SH, M.Kes

Jurnal: Burnout among nurses: Examining psychosocial work environment causes

AKSES CEPAT