Implan gigi merupakan salah satu pilihan utama dalam menggantikan gigi yang hilang. Angka keberhasilan perawatan implan di sebutkan mendekati angka 98%. Implan gigi dianggap bertahan jika masih berada di rongga mulut tanpa mucositis, periimplantitis, atau resorbsi tulang yang parah. Namun, laporan terbaru mengenai prevalensi periimplantitis gigi pada pasien implan gigi menyatakan bahwa peri-implantitis gigi terjadi pada 5% pasien setelah 8,3 tahun penggunaan implan. Akumulasi plak mikroba dianggap sebagai faktor terpenting dalam patogenesis peri-implantitis gigi. Peri-implantitis gigi dikaitkan dengan beberapa spesies bakteri, termasuk Porphyromonas gingivalis (Pg) dan Prevotella intermedius (Pi).
Salah satu obat herbal yang sedang populer di Indonesia akhir-akhir ini adalah Clitoria ternatea (C. ternatea) yang banyak dikenal masyarakat dengan sebutan bunga telang. C. ternatea memberikan manfaat bagi kesehatan dan biasanya digunakan sebagai bahan obat tradisional. Seluruh bagian tanaman ini, mulai dari akar hingga bunganya, diyakini memiliki manfaat fungsional dan berkhasiat untuk merawat dan memperkuat kinerja organ tubuh yang berguna bagi tubuh manusia. Clitoria ternatea mempunyai aktivitas antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengobatan peri-implantitis gigi. Menurut beberapa penelitian, C. ternatea mengandung berbagai senyawa bioaktif antara lain flavonoid, antosianin, triterpenoid, flavonol glikosida, quercetin glikosida, kaempferol glikosida, myrisetin glikosida, alkaloid, tanin, resin, steroid, saponin, dan fenol.
Ekstrak etanol C. ternatea (CTEE) diperiksa dengan uji fitokimia, uji aktivitas antioksidan, uji konsentrasi hambat minimum (MIC), dan uji konsentrasi bakterisida minimum (MBC) untuk menganalisis aktivitas antibakteri terhadap bakteri peri-implantitis gigi seperti Prophyromonas gingivalis (Pi), Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa), Provotella intermedia (Pi), dan Fusobacteria nucleatum (Fn). Docking molekul antosianin CEET menjadi tumor necrosis factor-伪 (TNF-伪), faktor nuklir kappa beta (NFkB), aktivator reseptor nuklir kappa (RANK) dan ligannya (RANKL), interleukin-6 (IL-6), osteoprotegrin (OPG), osteokalsin, sel T terkait faktor nuklir 1 (NFATc1), asam fosfatase tahan tartat (TRAP), peptidoglikan, flagellin, dektin, heat shock protein-10 (HSP-10) dan -70 (HSP-70) dilakukan. CTEE memiliki aktivitas antioksidan yang lebih rendah dibandingkan vitamin C. CTEE memiliki aktivitas antibakteri terhadap Aa, Pg, Pi, dan Fn pada konsentrasi 50% dan potensi kemampuan antioksidan secara in vitro. Antosianin CTEE memiliki aktivitas antiinflamasi, antimikroba, dan antioksidan secara in silico.
Penulis: Ratri Maya Sitalaksmi, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.Pros(K)
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di :
Nastiti Faradilla Ramadhani, Real Akbar Aucky Sanjaya, Ratri Maya Sitalaksmi, Muhammad Dimas Aditya Ari, Alexander Patera Nugraha, Shafira Ninditya Irsan, Viol Dhea Kharisma, Tengku Natasha Eleena binti Tengku Ahmad Noor. Clitoria Ternatea Ethanol Extract Antibacterial and Anti-Inflammatory Ability Towards Peri-Implantitis Biomarkers: An in Vitro and in Silico Study. J Int Dent Med Res 2023; 16(3): 1038-1049.





