51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Tren Perawatan Maloklusi Kelas II Divisi 1 dalam 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Klasifikasi skeletal

Maloklusi Angle kelas II/1 merupakan maloklusi dengan ketidaksesuaian tulang yang paling sering ditemukan oleh dokter ortodonti dalam praktik sehari-hari yang dapat disertai dengan tulang kelas 1 atau 2. Morfologi maloklusi kelas II telah dianalisis dalam berbagai pemeriksaan sefalometri dan memiliki variasi yang luas. Pemahaman morfologi maloklusi sangat penting untuk merencanakan perawatan ortodontik yang melibatkan wilayah/kompleks dentofasial.  Adanya variasi morfologi gigi dan tulang pada maloklusi kelas II menjadikan kasus ini sangat kompleks dan menantang untuk diobati.

Moyers dkk. membagi maloklusi kelas II menurut karakteristik horizontal dan vertikal menemukan enam pola horizontal dan lima pola vertikal pada kelas II/1, yaitu tipe A: penonjolan gigi rahang atas; tipe B: prognatisme rahang atas dan pencabutan gigi; tipe C: retrognatisme rahang atas dengan gigi seri melebar atau tegak dan retrognatisme mandibula parah dengan gigi seri bawah melebar; tipe D: retrognatisme rahang atas dengan pencabutan gigi dan retrognatisme mandibula yang parah; tipe E: prognatisme rahang atas dan protraksi gigi + perluasan gigi mandibula; dan tipe F: retrognatisme mandibula. Dalam penelitian terbaru, terdapat tiga tipe kerangka kelas 2: tipe 1 (mandibula retrusif), tipe 2 (protrusif rahang atas), dan tipe 3 (kombinasi keduanya) artinya perlakuan yang sama tidak dapat diberikan pada semua kasus. Waktu optimal pengobatan masih kontroversial. Kebanyakan pasien dengan maloklusi kelas 2 memiliki beberapa jenis ketidakseimbangan tulang, dan pengobatan dini sering kali dipilih untuk mengubah pertumbuhan rahang. Untuk pasien dengan sisa masa pertumbuhan yang pendek, pengobatan alternatif melibatkan alat cekat dengan pencabutan gigi premolar pertama. Ada berbagai protokol untuk menangani maloklusi tulang kelas II/1. Namun penelitian mengenai pendekatan pengobatan satu fase dan dua fase serta waktu terbaik untuk memberikan pengobatan yang efektif dan efisien pada maloklusi tulang kelas II/1 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai protokol penanganan maloklusi kelas II/1, menentukan pendekatan pengobatan satu fase dan dua fase, serta mengidentifikasi waktu terbaik untuk memberikan pengobatan yang efektif dan efisien.

Dari artikel yang diterbitkan tahun 2002, 84 artikel duplikat telah dihapus. Dari sisa 1918 artikel, 1840 dikeluarkan setelah membaca judul dan abstrak. Pada tahap seleksi kedua, penilaian kelayakan dilakukan dengan membaca teks lengkap dari 78 artikel tersisa; 26 dikecualikan. Oleh karena itu, 52 artikel akhirnya dimasukkan dalam penelitian ini. Lima artikel sesuai dengan kriteria penelitian: 1-5 studi kasus, sehingga jumlah kasus adalah 61. Para peneliti mempelajari teks lengkap penelitian tersebut dan akhirnya memilih 52 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas artikel yang digunakan dalam tinjauan pustaka ini memiliki risiko bias yang rendah”sebanyak 40 makalah”sedangkan 12 dari 52 makalah memiliki risiko bias sedang.

Maloklusi kelas II/1 lebih sering ditemukan pada analisis skeleton kelas 2 tipe 1 dan pengobatan satu fase lebih disukai daripada pengobatan dua fase. Dalam perawatan dua fase, fase pertama ditujukan pada tindakan ortopedi untuk mengubah hubungan tulang, sedangkan fase kedua mengoptimalkan interdigitasi melalui detailing dan finishing. Penelitian ini merangkum protokol pengobatan yang paling sering digunakan berdasarkan analisis kerangka kelas 2/1. Berdasarkan tinjauan sistematik di atas, dapat disimpulkan maloklusi kelas II/1 seringkali disertai dengan maloklusi kelas II skeleton tipe 1. Pendekatan pengobatan satu fase lebih banyak diterapkan dibandingkan pengobatan dua fase. Modifikasi pertumbuhan paling berhasil pada pasien dalam rentang usia 11,1 ± 1,7 tahun ketika pertumbuhan pubertas tercapai pada CS3. Selain mencapai oklusi yang sehat dan stabil, perawatan ortodontik bertujuan untuk memperbaiki profil wajah dan mengatasi keluhan utama. Namun, karena terbatasnya bukti dan metode investigasi, kesimpulannya harus dipertimbangkan secara hati-hati. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji efektivitas pendekatan pengobatan satu fase dan dua fase pada maloklusi tulang kelas II/1 dan waktu yang ideal untuk memberikan pengobatan yang efektif dan efisien pada maloklusi tulang kelas II/1 dengan pengaturan uji klinis acak. Jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien bergantung pada tingkat keparahan maloklusi, usia, dan sisa masa pertumbuhan pasien. Oleh karena itu, klinisi harus memiliki pengetahuan yang tinggi untuk menyelesaikan permasalahan dan memenuhi aspirasi pasien maloklusi kelas II/1.

Penulis: I Gusti Aju Wahju Ardani

Link:

AKSES CEPAT