51动漫

51动漫 Official Website

Kemitraan Multi-Sektoral Pengelolaan Sampah Sungai untuk Kota yang Sehat

Foto oleh The Canberra Times

Kota yang berkelanjutan diciptakan oleh perencanaan kota yang baik. Hal Ini akan meningkatkan ekonomi, masyarakat, dan lingkungan untuk promosi kesehatan dan merupakan kunci untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Selanjutnya, indikator kota yang sehat meliputi perumahan, transportasi umum, keamanan industri, dan ketahanan pangan, serta perilaku sosial yang sehat, pertambangan, hutan, masyarakat, dan pariwisata.

Pelaksanaan kota sehat di Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 76,92%. Hanya 6 kota termasuk Banjarmasin yang berhasil lolos verifikasi nasional menjadi kota sehat. Banjarmasin adalah kota seribu sungai di mana sebagian besar penduduknya tinggal untuk mendapatkan mata pencaharian mereka, seperti pariwisata, transportasi, penambangan pasir, mandi, toileting, dan mencuci. Namun, sebagian orang masih mencemari sungai dan gagal melakukan perawatan yang tepat setelahnya.

Dampak negatif yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti polusi dari rumah tangga, , dan limbah kimia serta plastik yang mempengaruhi kualitas air. Sungai Banjarmasin industri menunjukkan kandungan bakteri Coliform sebesar 54.507 MPN/100 ml, sedangkan nilai standarnya harus 100 MPN/100 ml. Hal ini mengindikasikan bahwa badan air telah tercemar sehingga diperlukan pengelolaan sungai untuk menjaga kota Banjarmasin tetap sehat. Ada dampak negatif yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti polusi dari rumah tangga, industri, dan limbah kimia serta plastik yang mempengaruhi kualitas air. Sungai Banjarmasin menunjukkan kandungan bakteri Coliform sebesar 54.507 MPN/100 ml, sedangkan nilai standarnya harus 100 MPN/100 ml. Hal ini mengindikasikan bahwa badan air telah tercemar sehingga diperlukan pengelolaan sungai untuk menjaga kota Banjarmasin tetap sehat.

Hambatan peningkatan kualitas air di sungai Banjarmasin antara lain kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan tidak adanya sinergi pengelolaan sungai antar instansi dan pemerintah. Oleh karena itu, koordinasi dan kerja sama pemangku kepentingan, serta keterlibatan masyarakat setempat, diperlukan untuk pengelolaan sungai.

Hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologis dan pengumpulan data dari berbagai sektor di Kota Banjarmasin yang memiliki pengalaman kemitraan dalam pengelolaan sungai adalah sebagai berikut. Semua alasan untuk bergabung dengan kemitraan pengelolaan sungai untuk menciptakan kota yang sehat dan faktor yang terkait dengan efektivitasnya. Alasan ini termasuk kesadaran dan tanggung jawab masyarakat, sementara faktor yang terkait dengan efektivitas kemitraan adalah komitmen, komunikasi, dan kontrol.

Banjarmasin memiliki karakteristik khusus, banyak sungai, dan populasi besar yang tinggal di sepanjang bantaran sungai untuk mendapatkan dukungan bagi mata pencaharian mereka. Namun, sebagian masyarakat tidak memelihara sungai tersebut, oleh karena itu pengelolaan sungai diperlukan untuk menjaga kesehatan kota. Pengelolaan sungai melibatkan lembaga dan kemitraan pemerintah multi-sektoral. Peserta yang digunakan berasal dari berbagai sektor pengelolaan sungai di Kota Banjarmasin. Pemahaman tentang pengalaman kemitraan multi-sektoral dalam pengelolaan sungai di Banjarmasin diperlukan untuk menciptakan kota yang sehat dan berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan dalam pengelolaan sungai. Warga Banjarmasin harus melindungi sungai tersebut, karena mendukung aktivitas dan perekonomian kota, khususnya dalam aspek pariwisata. Namun, beberapa orang masih membuang sampah di sungai sambil menggunakan bantaran sungai sebagai tanah untuk membangun rumah. Akibatnya, warga perlu mewaspadai bagaimana cara menjaga sungai. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan masyarakat diharapkan dapat merespon kondisi sungai yang buruk. Lebih lanjut, pemberdayaan masyarakat setempat juga merupakan tindakan yang diperlukan untuk membuat masyarakat peduli terhadap sungai serta meningkatkan partisipasi dalam pemeliharaan sungai. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan sosialisasi di kalangan anggota masyarakat untuk meningkatkan kesadaran.

Alasan lain bergabung dalam kemitraan ini adalah tanggung jawab, terutama dari responden yang memiliki uraian tugas terkait lingkungan. Studi ini menunjukkan bahwa kolaborasi di antara berbagai sektor seperti pemangku kepentingan, organisasi swasta, LSM, dan masyarakat diperlukan untuk menjaga sungai dan melindunginya dari polusi. Para pemangku kepentingan dan masyarakat dituntut untuk menjaga lingkungan dan menciptakan kota yang berkelanjutan. Semua sektor memiliki peran dan juga harus bertanggung jawab atas program pengelolaan sungai. Selanjutnya, mereka harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Tema kedua adalah faktor yang mempengaruhi efektivitas kemitraan. Namun, para peserta hanya efektif ketika mereka memiliki komitmen, komunikasi, dan kontrol yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa karakteristik utama kesuksesan adalah komitmen dan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen, tujuan yang sama serta visi dan misi dari semua sektor, pemerintah, dan masyarakat diperlukan untuk melindungi sungai dan mendukung program pengelolaan. Komitmen mengacu pada kesediaan untuk melakukan upaya atas nama tujuan yang diinginkan. Kemitraan yang sukses berkaitan dengan komitmen yang baik, di samping itu, mitra yang berkomitmen harus mengantisipasi masalah dalam program.

Faktor lain adalah komunikasi dan sesuai dengan hasilnya, komunikasi yang baik memastikan koordinasi yang baik di antara berbagai sektor. Hal ini juga diperlukan untuk melindungi sungai dari sampah dan polutan. Sebuah studi sebelumnya menyatakan bahwa komunikasi berdampak pada efektivitas kemitraan serta keberhasilannya, menunjukkan bahwa faktor ini adalah kunci untuk penyampaian informasi yang tepat. Komunikasi yang berkualitas diukur dengan kredibilitas, akurasi, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, berbagai sektor membutuhkan komunikasi yang baik, terutama para pemangku kepentingan untuk pengelolaan sungai yang efektif.

Hasilnya menyiratkan bahwa regulasi dibuat untuk mengendalikan pengelolaan sampah. Faktor terakhir, pengendalian yang juga terdiri dari evaluasi, diperlukan sebagai sistem manajemen yang terintegrasi untuk memantau program pemeliharaan. Sebelumnya dilaporkan bahwa kurangnya peraturan pemerintah daerah karena banyaknya warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan aktivitasnya, berdampak negatif terhadap kualitas air. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan solusi yang baik untuk masalah ini, terutama dengan merelokasi warga bantaran sungai.

Disimpulkan bahwa alasan untuk bergabung dalam kemitraan meliputi: pertama, kesadaran dan tanggung jawab masyarakat karena deskripsi pekerjaan. Kesadaran masyarakat diperlukan untuk melindungi sungai dari limbah dan sampah, serta untuk memastikan pengelolaan yang efektif. Pemberdayaan masyarakat lokal juga menjadi solusi untuk pemeliharaan sungai, untuk menciptakan kota yang sehat. Kedua, faktor yang terkait dengan efektivitas kemitraan, yaitu komitmen, komunikasi, dan pengendalian di antara berbagai sektor. Ini melibatkan komitmen antar lembaga, pemerintah, dan masyarakat setempat, evaluasi dan koordinasi untuk menciptakan komunikasi yang baik, serta regulasi untuk mengendalikan program pengelolaan sampah sungai.

Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.

Referensi:

Herawati Herawati, Soedjajadi Keman and Shrimarti R Devy (2022). Understanding The Experience of Multi-Sectoral Partnerships In River Management For A Healthy and Sustainable City In Banjarmasin, Indonesia. Malaysian Journal of Public Health Medicine, 22(2):230-236.

AKSES CEPAT