51动漫

51动漫 Official Website

Kemoterapi Doxorubicin dan Ifosfamid untuk Sarkoma Sinovial Ginjal

Foto oleh Daily Mail

Sarkoma sinovial adalah adalah keganasan yang langka dan berkisar 5-10% dari sarkoma jaringan lunak. Keganasan ini sebagian besar terjadi pada persendian anggota gerak tubuh. Namun, sarkoma sinovial dapat muncul di organ lain seperti paru, prostat, rogga dada, dan ginjal. Sarkoma sinovial ginjal sulit didiagnosis karena kemiripan jaringannya dengan wilms tumor, kanker ginjal type sarkomatoid, dan hemangiopericytoma. Perkembangan keganasan ini lambat menyerupai tumor jinak sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan diagnosis dan penundaan terapi. Memastikan jenis keganasan merupakan hal penting dalam tata laksana kanker karena menentukan strategi pengobatan.

Sebagian besar sarkoma sinovial ginjal berhubungan dengan adanya perubahan kromosom dan adanya kelainan genetik. Adanya perubahan kromosom dan kelainan genetik ini merupakan penanda utama keganasan tipe sarkoma synovial. Namun, pemeriksaan ini mahal dan membutuhkan fasilitas khusus. Sarkoma sinovial juga dapat didiagnosis melalui pemeriksaan imunohistokimia. Terapi utama pada sarkoma sinovial ginjal adalah pembedahan. Beberapa kasus membutuhkan terapi sistemik seperti kemoterapi sebagai tata laksana lanjutan. Namun, sampai sekarang belum didapatkan kesepakatan terapi sistemik terbaik untuk pasien dengan sarkoma sinovial ginjal. Dalam artikel ini kami melaporkan pemberian kemoterapi doxorubicin dan ifosfamide untuk tata laksana kasus sarkoma sinovial ginjal.

Laporan kasus

Remaja laki-laki berusia 18 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo dengan keluhan benjolan di pinggang kanan yang muncul kembali sejak 3 bulan. Pada pasien ini didapatkan riwayat operasi radikal nefrektomi kanan dengan kecurigaan awal wilms tumor. Pasien ini memiliki riwayat merokok sejak 3 tahun yang lalu. Tidak didapatkan riwayat keganasan ginjal di keluarga. Hasil pemeriksaan jaringan menunjukkan sarkomatoid tumor dengan kemungkinan wilms tumor, nefroma mesoblastic, atau sarkoma sinovial ginjal. Hasil pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan sarkoma sinovial ginjal.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan dengan konsistensi keras ukuran 15 x 10 cm. Tidak didapatkan kelainan dari hasil laboratorium. Dari hasil pemeriksaan CT-scan abdomen didapatkan adanya tumor dengan ukuran 13×12,7×20 cm dengan batas yang tidak tegas. Tidak didapatkan tanda penyebaran jauh kanker. Kemudian pasien mendapatkan kemoterapi ifosfamid dan doxorubicin sebanyak 6 siklus.

Setelah pemberian 6 siklus kemoterapi dilakukan pemeriksaan evaluasi. Dari pemeriksaan fisik, tumor masih teraba dengan ukuran lebih kecil. Dari hasil CT-scan abdomen menunjukkan ukuran tumor mengecil menjadi 3,8 x 4,95 x 15,5 cm. Evaluasi pemeriksaan pencitraan dada tidak didapatkan proses penyebaran kanker. Oleh karena respon kemoterapi yang baik dan keluhan paska kemoterapi yang minimal, pasien dijadwalkan untuk mendapatkan kemoterapi lanjutan. Namun, pasien menolak prosedur tersebut.  Dari hasil pemantauan pasien meninggal 42 bulan paska pembedahan.  

Meskipun pasien menolak untuk dilakukan kemoterapi lanjutan, laporan kasus ini menunjukkan obat kemoterapi ifosfamid dan doxorubicin aman digunakan dan memberikan respon positif pada pasien dengan sarkoma sinovial ginjal. Dalam laporan kasus lainnya oleh Chediak, Park, dan Ozkan kombinasi obat kemoterapi ini juga memberikan respon yang positif pada pasien sarkoma sinovial ginjal. Terdapat laporan kasus sarkoma sinovial ginjal yang mendapatkan obat kemoterapi yang lain. Romero-Rojas melaporkan pasien sarkoma sinovial ginjal yang mendapatkan obat kemoterapi vincristine memiliki survival yang lebih rendah. Laporan lain oleh Lopes pada pasien yang mendapatkan kemoterapi tunggal doxorubicin terjadi penyebaran kanker beberapa bulan setelah pembedahan. Pada kasus yang hanya dilakukan pembedahan tanpa terapi lanjutan kelangsungan hidup berkisar antara 5-25 bulan paska operasi.

Sebagai kesimpulan, pemberian kemoterapi kombinasi ifosfamid dan doxorubicin menunjukkan hasil yang menjanjikan pada kasus sarkoma sinovial ginjal.

Penulis: Lukman Hakim, dr., M.Kes., Ph.D.

Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman :

Fitra AF, Kloping YP, Djatisoesanto W, Hakim L. Doxorubicin and ifosfamide for recurrent renal synovial sarcoma: The first case report in Indonesia.Int J Surg Case Rep. 2022;92:106895. doi:10.1016/j.ijscr.2022.106895

AKSES CEPAT