Gangguan syaraf atau penyakit terkait persyarafan dapat terjadi pada syaraf tepi atau perifer dan syaraf pusat. Salah satu yang terlibat dalam perkembangan penyakit syaraf adalah keterlibatan sel-sel penyangga yang ada di sekitar sel syaraf antara lain sel dengan sebutan mikroglia. Mikroglia disebut sebagai salah satu sel penyangga sel syaraf karena sangat erat terlibat dalam membantu metabolisme dan penyediaan energi untuk sel syaraf. Selain itu, sifat dasarnya sebagai sel imun juga menunjukkan keterlibatannya dalam mendukung proses perbaikan sel dan respon-respon lain yang terjadi saat terjadi kerusakan sel syaraf. Di antara respon tersebut adalah respon peradangan atau inflamasi. Peradangan pada syaraf atau disebut neuroinflamasi bukanlah istilah peradangan yang diasosiasikan sebagai pembengkakan jaringan. Neuroinflamasi merujuk pada kondisi di mana terjadi pelepasan zat-zat kimia yang sering terlibat dalam proses peradangan, atau disebut sitokin. Pelepasan sitokin tertentu dapat menyebabkan dua arah perubahan pada jaringan, bisa mengurangi kejadian radang, atau juga bisa meningkatkan kejadian radang.
Neuroinflamasi telah dipercaya sejak lama sangat erat terlibat pada perkembangan penyakit dan perburukan suatu gangguan pada jaringan syaraf. Selama beberapa dekade peneliti banyak fokus pada pengembangan terapi yang dapat menurunkan proses neuroinflamasi untuk mengatasi suatu penyakit syaraf baik di pusat, seperti stroke maupun syaraf tepi seperti nyeri neuropati. Fokus studi pada neuroinflamasi juga digunakan untuk menjelaskan dan mencari potensi terapi untuk penyakit yang sifatnya degeneratif, seperti alzheimer misalkan. Dalam banyak laporan ilmiah disebutkan bahwa penyakit degeneratif selain dikarenakan faktor usia dan genetik, juga dibarengi dengan dilepaskannya faktor-faktor inflamasi yang mendorong perkembangan penyakit. Bahkan proses neuroinflamasi kadang digunakan sebagai pendekatan untuk menjelaskan progresifitas dan munculnya kondisi gangguan psikiatrik. Dahulu sekali, fokus penelitian hanya pada sel syaraf saja. Namun semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang kedokteran dan biologi dikenali bahwa sel-sel penyangga di sekitar sel syaraf seperti mikroglia juga sangat fungsional dalam menjaga kinerja persyarafan. Terlebih lagi fokus pengembangan tidak lagi hanya pada sel syaraf saja tapi bergeser pada meneliti mikroglia sebagai target terapi.
Pengembangan dunia farmasi tidak lepas dari munculnya kandidat-kandidat obat yang mentarget mikroglia. Obat anti inflamasi non steroid misalnya, yang juga digunakan sebagai anti nyeri, juga dikatakan memiliki efek yang besar pada aktifitas sel mikroglia di susunan syaraf. Antioksidan secara umum ataupun yang ditemukan berasal dari bahan alam juga banyak diteliti dan dikait-kaitkan dengan efeknya yang menurunkan aktifitas mikroglia. Tidak berbeda dengan hal di atas, penelitian terbaru oleh Lai et al., menyebutkan bahwa ekstrak tertentu dari rumput laut merah atau red seaweed jenis Kappaphycus malesianus memiliki aktifitas yang menurunkan respon neuroinflamasi oleh mikroglia. Terbukti beberapa senyawa penanda proses inflamasi atau sitokin juga diturunkan kadarnya oleh ekstrak tanaman ini. Pada uji coba secara in vitro menunjukkan penurunan aktifitas mikroglia pada pemberian ekstrak tanaman laut yang tergolong karagenofit ini. Disebut karagenofit karena merupakan tanaman penghasil karagenan, bahan yang banyak kemanfaatannya untuk pembuatan bahan makanan, formula obat-obatan dan kosmetik. Tidak hanya berhenti pada temuan di atas, harapan ke depan adalah semakin banyak potensi senyawa kandungan bahan alam yang bisa dieksplorasi efek farmakologinya dan semakin banyak pula kandidat obat yang bisa dilahirkan dari senyawa-senyawa baru yang dihasilkan.
Penulis : Chrismawan Ardianto
Merujuk publikasi Lai et al., 2022 berjudul Carrageenophyte Kappaphycus malesianus Inhibits Microglia-Mediated Neuroinflammation via Suppression of AKT/NF-魏B and ERK Signaling Pathways. Dipublikasikan pada Marine Drugs Vol. 20(8):534. doi: 10.3390/md20080534
Link:





